RI News. Jakarta, 14 April 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah memulai blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran di sepanjang Teluk Persia dan Teluk Oman. Langkah ini merupakan upaya tekanan maksimal untuk memaksa Teheran membuka kembali Selat Hormuz dan menerima kesepakatan damai permanen, menyusul kegagalan negosiasi akhir pekan lalu.
Blokade yang dimulai pada Senin pagi waktu setempat ini muncul setelah putaran pembicaraan gencatan senjata antara Washington dan Teheran di Pakistan berakhir tanpa hasil. Konflik yang pecah sejak 28 Februari akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran telah berlangsung lebih dari enam minggu, menewaskan ribuan nyawa dan mengganggu stabilitas kawasan.
Menurut pernyataan Trump di Gedung Putih, tujuan utama blokade adalah menghentikan apa yang ia sebut sebagai “pemerasan” Iran terhadap perekonomian dunia. “Kita tidak boleh membiarkan satu negara memeras dunia,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa pihak Iran telah menghubungi AS dan menyatakan keinginan untuk mencapai kesepakatan.

Namun, di balik pernyataan itu, situasi di lapangan menunjukkan ketegangan yang semakin tinggi. Iran langsung merespons dengan ancaman keras, menyatakan bahwa keamanan di Teluk Persia dan Teluk Oman “adalah untuk semua orang atau untuk tidak ada seorang pun”. Pernyataan militer Iran menegaskan bahwa “tidak ada pelabuhan di kawasan ini yang akan aman” jika blokade AS dilanjutkan. Ancaman ini secara langsung menyasar negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menjelaskan bahwa blokade difokuskan pada kapal-kapal yang memasuki atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Meski demikian, transit kapal antara pelabuhan non-Iran di Selat Hormuz masih diizinkan, meskipun dengan risiko kehadiran militer yang meningkat. Dua kapal tanker dilaporkan langsung berbalik arah setelah blokade dimulai.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Penutupan efektif oleh Iran sejak konflik dimulai telah mendorong harga minyak mentah Brent melonjak mendekati 100 dolar AS per barel, dari sekitar 70 dolar sebelum perang. Kenaikan ini berpotensi memicu inflasi global, termasuk harga bahan bakar, pangan, dan barang pokok di berbagai negara.
Baca juga : Jejak Santo Agustinus di Tanah Afrika: Paus Leo XIV Serukan Perdamaian di Tengah Badai Geopolitik Global
Para analis mempertanyakan efektivitas blokade semata-mata melalui kekuatan militer. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah siapa yang lebih mampu menahan tekanan ekonomi: apakah Iran akan menyerah karena isolasi ekonomi, atau justru harga minyak yang terus melambung akan memaksa AS untuk mundur?
Dari sisi hukum internasional, blokade ini harus dilaksanakan secara tidak memihak dan tetap memperbolehkan bantuan kemanusiaan. Pakar hukum keamanan nasional menekankan bahwa cara pelaksanaan akan sangat menentukan legalitas tindakan tersebut di mata masyarakat internasional.
Meski ketegangan meningkat, pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Dua pejabat AS dan seorang diplomat mediator mengungkapkan bahwa pembicaraan putaran kedua secara tatap muka sedang dipersiapkan. Iran sendiri menyatakan bahwa isu utama yang menjadi ganjalan meliputi program nuklir, tuntutan ganti rugi perang, dan pencabutan sanksi.

Wakil Presiden AS JD Vance menyebut bahwa negosiasi sempat mencapai kemajuan pada isu nuklir, tetapi Teheran menolak komitmen untuk menahan diri dari pengembangan senjata nuklir. Iran bersikeras program nuklirnya bersifat damai, meskipun terus melakukan pengayaan uranium hingga mendekati level senjata.
Gencatan senjata saat ini dijadwalkan berakhir pada 22 April. Konflik ini telah menelan korban jiwa setidaknya 3.000 orang di Iran, lebih dari 2.000 di Lebanon, serta puluhan di Israel dan negara-negara Arab Teluk, termasuk 13 anggota militer AS.
Dengan blokade yang sedang berlangsung, kawasan Timur Tengah berada di ambang eskalasi baru. Para pengamat internasional memperingatkan bahwa konfrontasi ini tidak hanya menguji ketahanan ekonomi global, tetapi juga stabilitas geopolitik jangka panjang di salah satu titik paling strategis di dunia.
Berita ini disusun berdasarkan perkembangan terkini dan pernyataan resmi dari berbagai pihak. Situasi masih terus berkembang dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Pewarta : Setiawan Wibisono

