RI News. Jakarta, 13 April 2026 – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mengakselerasi visi menjadikan ibu kota sebagai kota sinema global melalui penguatan kolaborasi internasional. Salah satu langkah konkretnya adalah mempererat hubungan dengan Busan, Korea Selatan, yang diwujudkan melalui kunjungan Delegasi Busan Film Commission ke Balai Kota Jakarta pada 9–10 April 2026. Kunjungan ini tidak sekadar seremonial, melainkan momentum strategis untuk membangun ekosistem perfilman yang lebih inklusif dan kompetitif di tingkat global.
Delegasi tersebut dipimpin langsung oleh Kang Sung Kyu, yang menjabat sebagai Director sekaligus Presiden Asian Film Commission Network (AFC Net). Kehadiran rombongan ini menjadi penanda keseriusan kedua belah pihak dalam membuka pintu kerja sama lintas batas yang lebih luas, khususnya dalam mendukung produksi film internasional di Jakarta.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyambut positif inisiatif tersebut. “Jakarta punya potensi besar sebagai pusat industri kreatif, termasuk perfilman. Kehadiran Jakarta Film Commission nantinya diharapkan menjadi pintu masuk layanan terpadu yang memudahkan sineas, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk berkarya di Jakarta,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.

Rano menegaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta saat ini tengah mempersiapkan langkah bergabung ke dalam AFC Net, jaringan internasional yang menghubungkan berbagai film commission di Asia dan dunia. Keanggotaan ini dipandang sebagai terobosan penting yang akan membuka akses lebih luas bagi produksi internasional, memperkuat posisi Jakarta dalam peta industri perfilman global, serta memungkinkan promosi destinasi syuting yang lebih agresif.
Melalui platform AFC Net, Jakarta berpeluang tidak hanya menarik produksi film asing, tetapi juga mengembangkan kerja sama produksi bersama (co-production), meningkatkan kapasitas sumber daya manusia perfilman, serta mengadopsi praktik terbaik dalam pengelolaan industri film yang berkelanjutan. Pendekatan ini sekaligus memperkaya kebijakan lokal dengan perspektif internasional yang matang.
Lebih lanjut, Rano Karno optimistis bahwa kolaborasi internasional ini akan mempercepat transformasi Jakarta menjadi kota global yang tidak sekadar menjadi lokasi syuting, melainkan pusat pertumbuhan industri perfilman yang mandiri dan berkelanjutan. “Pemprov DKI Jakarta bersama para pemangku kepentingan akan terus mendorong percepatan pembentukan Jakarta Film Commission, guna menghadirkan ekosistem yang memudahkan sineas berkarya sekaligus membawa cerita Jakarta ke panggung dunia,” tegasnya.
Pemerintah provinsi juga menyiapkan dukungan konkret berupa kemudahan akses perizinan dan insentif nonfinansial bagi para sineas. Menurut Rano, film bukan sekadar produk hiburan, melainkan medium strategis untuk membangun identitas kota, menggerakkan roda ekonomi, serta memajukan pariwisata. “Lebih dari sekadar industri, film juga menjadi medium strategis untuk membangun identitas kota sekaligus menggerakkan ekonomi dan pariwisata,” katanya.
Keberhasilan inisiatif ini, lanjut Rano, sangat bergantung pada kekuatan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, komunitas kreatif, dan sektor swasta. Sinergi lintas sektor tersebut menjadi kunci utama agar Jakarta mampu bersaing dengan kota-kota sinema ternama di Asia dan dunia.
Sebagai bagian dari visi besar menuju 500 tahun Jakarta, program “Jakarta Kota Sinema” ini menjadi manifestasi konkret dalam memperkuat identitas ibu kota sebagai pusat industri kreatif yang berdaya saing global. Dengan langkah-langkah yang sedang dijalankan, Jakarta tidak hanya siap menyambut sineas internasional, tetapi juga siap melahirkan cerita-cerita lokal yang mampu menginspirasi dunia.
Pewarta : Yogi Hilmawan

