RI News. Washington, 15 April 2026 — Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade, perwakilan Israel dan Lebanon bertemu langsung di ibu kota Amerika Serikat. Pertemuan yang dimediasi Departemen Luar Negeri AS ini berlangsung di tengah konflik berdarah yang telah menewaskan ribuan warga sipil Lebanon dan memaksa lebih dari satu juta orang mengungsi.
Pertemuan tersebut berlangsung Selasa (14 April) dan berlangsung lebih dari dua jam. Duta Besar Israel Yechiel Leiter menyatakan hasil pertukaran pandangan yang “sangat baik” dan mengklaim kedua negara kini “berada di pihak yang sama”. Menurutnya, Israel dan Lebanon bersatu dalam upaya membebaskan Lebanon dari pengaruh kekuatan pendudukan yang didukung Iran, yaitu kelompok Hizbullah.
“ Kami menemukan hari ini bahwa kami berada di sisi yang sama,” ujar Leiter kepada wartawan setelah pertemuan. Ia menekankan pentingnya melucuti senjata Hizbullah sebagai prasyarat perdamaian jangka panjang.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang memimpin mediasi, menyebut pertemuan ini sebagai “kesempatan bersejarah”. Ia mengakui kompleksitas sejarah puluhan tahun yang melatarbelakangi konflik ini, namun berharap kedua pihak dapat menyusun kerangka kerja menuju perdamaian yang berkelanjutan.
Di pihak Lebanon, Presiden Joseph Aoun sebelumnya menyatakan harapan agar pembicaraan menghasilkan kesepakatan gencatan senjata segera. Tujuannya adalah membuka jalan bagi negosiasi langsung antara Beirut dan Tel Aviv, sekaligus menjaga integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon.
Namun, realitas di lapangan jauh lebih rumit. Hizbullah, kelompok bersenjata yang didukung Iran, secara terbuka menolak pembicaraan ini dan menyerukan agar dibatalkan. Tak lama setelah pertemuan dimulai, kelompok tersebut meluncurkan rentetan roket secara simultan ke beberapa kota di utara Israel.
Baca juga : Paus Leo XIV di Tanah Kelahiran Agustinus: Meneguhkan Jembatan Perdamaian dari Afrika ke Dunia yang Terpecah
Konflik Lebanon-Israel memanas sejak 2 Maret 2026, ketika Hizbullah melancarkan serangan roket ke Israel sebagai balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada akhir Februari. Serangan Israel berikutnya, termasuk serangan besar-besaran ke Beirut pada 8 April, telah menimbulkan korban jiwa lebih dari 2.000 orang dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berulang kali menegaskan bahwa tujuan utama adalah membongkar kemampuan militer Hizbullah serta mencapai perjanjian damai yang langgeng. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata antara Washington dan Tehran tidak mencakup front Lebanon, menggambarkannya sebagai “pertempuran terpisah”.

Para pengamat menyebut prospek kesepakatan cepat sangat kecil. Seorang mantan pejabat pertahanan Israel yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa menyelesaikan isu kompleks antara kedua negara dalam satu pertemuan di Washington memerlukan “banyak imajinasi dan optimisme”. Harapan memang rendah, mengingat posisi kedua belah pihak yang sulit didamaikan: Israel menuntut pelucutan senjata Hizbullah sepenuhnya, sementara Lebanon menekankan penghentian serangan dan penghormatan terhadap kedaulatannya.
Pembicaraan ini terjadi di tengah ketegangan regional yang lebih luas pasca-perang Iran. Bagi Lebanon, yang sudah lama terjebak dalam dinamika pengaruh asing, pertemuan ini menjadi ujian krusial: mampukah pemerintah Beirut menegosiasikan perdamaian tanpa memperdalam perpecahan internal, atau justru akan memperpanjang siklus kekerasan?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada reaksi resmi dari pihak Lebanon pasca-pertemuan. Proses diplomasi ini kemungkinan baru tahap awal, dan banyak pihak memprediksi akan memakan waktu lama serta menghadapi banyak hambatan politik dan militer di masa mendatang.
Pewarta : Setiawan Wibisono

