RI News. Semarang, 15 April 2026 — Dua spesies ikonik Antarktika, penguin kaisar dan anjing laut bulu Antarktika, resmi naik status menjadi Terancam Punah (Endangered) menurut Daftar Merah Spesies Terancam Punah IUCN yang baru saja diperbarui. Sementara itu, anjing laut gajah selatan juga bergeser ke kategori Rentan (Vulnerable) akibat wabah penyakit.
Perubahan status ini menjadi sinyal kuat bahwa pemanasan global telah mengubah lanskap kehidupan di benua paling selatan Bumi dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
Menurut penilaian IUCN, populasi penguin kaisar diproyeksikan akan menyusut hingga separuh pada dekade 2080-an jika emisi gas rumah kaca tidak segera ditekan secara drastis. Antara tahun 2009 dan 2018 saja, lebih dari 20.000 penguin dewasa hilang, sebagian besar akibat pecahnya es laut lebih awal dari jadwal normal. Es laut yang melekat (fast ice) merupakan habitat krusial bagi anak penguin untuk bertahan hidup dan bagi induknya saat mengalami pergantian bulu.

“Penguin kaisar sudah termasuk salah satu burung paling terancam di dunia. Kenaikan statusnya ke Terancam Punah merupakan peringatan keras bahwa krisis kepunahan sedang berlangsung di depan mata kita,” ujar Martin Harper, CEO BirdLife International, yang terlibat dalam penilaian ini.
Sementara itu, populasi anjing laut bulu Antarktika mengalami penurunan lebih dari 50 persen dalam waktu kurang dari tiga dekade — dari sekitar 2,187 juta ekor dewasa pada 1999 menjadi hanya 944 ribu ekor pada 2025. Penyebab utamanya adalah naiknya suhu laut dan menyusutnya es laut yang membuat krill, makanan utama mereka, menyelam ke lapisan air yang lebih dalam. Kekurangan krill ini menyebabkan tingkat kelangsungan hidup anak anjing laut tahun pertama anjlok drastis, sehingga populasi yang tersisa semakin tua dan rentan.
Anjing laut gajah selatan juga mengalami tekanan serius akibat penyebaran Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) atau flu burung patogen tinggi. Penyakit ini telah menyerang empat dari lima subpopulasi utama, dengan kematian mencapai lebih dari 90 persen pada anak baru lahir di beberapa koloni. Kekhawatiran semakin besar karena pemanasan global dapat mempercepat penyebaran penyakit ke wilayah kutub yang sebelumnya relatif terisolasi dari patogen.
Dr. Grethel Aguilar, Direktur Jenderal IUCN, menekankan pentingnya data ini menjelang Pertemuan Konsultatif Traktat Antarktika pada Mei mendatang.
“Antarktika berperan sebagai ‘penjaga beku’ planet kita yang tidak tergantikan. Ia membantu menstabilkan iklim global dan menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati unik. Manfaat yang diberikannya kepada umat manusia sangatlah besar,” katanya.
Berbeda dengan ancaman langsung terhadap spesies tunggal, para ahli memandang perubahan ini sebagai indikator lebih luas tentang kesehatan ekosistem Antarktika. Es laut yang terus menyusut tidak hanya mengancam penguin, tetapi juga mengganggu rantai makanan secara keseluruhan, mulai dari krill hingga mamalia laut besar.
Para ilmuwan menegaskan bahwa tanpa pengurangan emisi karbon yang cepat dan ambisius, penurunan populasi ini berpotensi semakin parah sepanjang abad ini. Pemerintah di seluruh dunia didesak untuk segera mendekarbonisasi ekonomi dan memperkuat perlindungan kawasan Antarktika.
Kehilangan spesies-spesies kunci di Antarktika bukan hanya masalah lingkungan, melainkan juga mengancam kestabilan iklim global yang selama ini kita andalkan.
Pewarta : Anjar Bramantyo

