RI News, 29 Juni 2026, Jakarta – Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak setelah Iran melalui Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa serangan Amerika Serikat akhir pekan lalu melanggar kesepakatan kerangka damai, sehingga mengancam menghentikan total seluruh proses negosiasi.
IRGC dalam pernyataannya menegaskan bahwa setiap kapal yang dianggap melanggar akan menghadapi respons yang jauh lebih keras dibandingkan sebelumnya. Pernyataan ini muncul hanya sehari setelah Amerika Serikat melakukan serangan terhadap puluhan target militer Iran di sekitar selat strategis tersebut sebagai balasan atas dugaan serangan drone Iran terhadap kapal tanker minyak M/T Kiku.
Konflik berantai ini bermula dari insiden serangan drone pada Sabtu yang menargetkan kapal tanker menuju Fujairah, Uni Emirat Arab. Respons cepat Washington berupa penghancuran infrastruktur pengawasan, pertahanan udara, dan fasilitas drone Iran memicu serangan balik Teheran berupa rudal balistik dan drone ke markas Armada Kelima AS di Bahrain serta pangkalan udara di Kuwait. Meski kerusakan fisik dilaporkan terjadi, hingga kini belum ada korban jiwa yang dikonfirmasi.

Pada Minggu malam, aktivitas penerbangan militer AS di atas Selat Hormuz menunjukkan adanya persiapan potensial untuk gelombang serangan lanjutan. Hal ini semakin menguji ketahanan gencatan senjata sementara yang rapuh antara kedua negara, di tengah upaya negosiasi yang sedang berjalan untuk mengakhiri konflik lebih luas.
Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menegaskan bahwa Washington tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman terhadap kapal-kapal internasional maupun pangkalan militernya. Ia menyatakan bahwa Presiden Donald Trump tetap membuka jalur diplomasi, namun kesabaran AS memiliki batas, terutama terkait ambisi nuklir Iran.
Di sisi lain, Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran akan mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz selama 30 hari ke depan sesuai kerangka kesepakatan. Pemerintah Iran juga telah menetapkan rute transit aman bagi kapal-kapal niaga untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.
Baca juga : Terobosan Arkeologi: DNA Manusia 2.000 Tahun Ditemukan di Dinding Gua Spanyol dan Portugal
Situasi ini semakin kompleks dengan naiknya tingkat ancaman maritim di kawasan tersebut, serta pernyataan keras dari pihak Iran yang menyebut tindakan AS dan Israel sebagai kejahatan perang. Sementara itu, sebuah insiden di laut juga menelan korban jiwa warga Qatar akibat pecahan peluru dari operasi militer di wilayah tersebut.
Para pengamat menilai bahwa meskipun kedua belah pihak masih menunjukkan sikap saling menahan diri dalam skala serangan, dinamika di lapangan berpotensi menggagalkan upaya damai yang sedang berlangsung. Kendali atas Selat Hormuz, yang merupakan salah satu arteri perdagangan minyak dunia, menjadi taruhan utama dalam ketegangan geopolitik ini.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline: #SelatHormuz, #KonflikASIran, #IRGC, #DiplomasiTimurTengah, #KrisisEnergiGlobal, #GencatanSenjataRapuh,

