RI News. Bamako, Mali, 14 Agustus 2026 — Dua kelompok pemberontak di utara Mali hari ini merilis pernyataan resmi yang secara terbuka menolak jalannya perundingan damai yang diinisiasi PBB. Mereka menyatakan bahwa setiap upaya damai yang mengabaikan klaim kedaulatan mereka akan dianggap gagal.
Alasan penolakan tersebut disampaikan dalam dua dokumen terpisah yang dibuat oleh Azawad Liberation Front dan kelompok pemberontak Tuareg lainnya. Kedua kelompok menuntut bahwa solusi damai harus mencakup pengakuan penuh atas hak otonomi politik dan ekonomi bagi wilayah Azawad, sekaligus jaminan keamanan yang tak dapat diganggu gugat. Mereka juga mengingatkan bahwa setiap kesepakatan yang dilakukan tanpa persetujuan langsung dari representasi lokal hanya akan menciptakan benih konflik baru di masa depan.

Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan yang semakin membesar di tengah laporan tentang kelompok bersenjata yang terus aktif di perbatasan utara. Mereka menolak secara tegas campur tangan internasional yang dianggap terlalu terburu-buru dan tidak memperhitungkan dinamika historis konflik di wilayah itu.
Baca juga : Ambisi Nuklir Korut: Diplomacy dengan Beijing dan Moskow Jadi Kunci untuk Tekan Amerika Serikat
PBB sendiri belum memberikan komentar resmi atas pernyataan ini. Namun, beberapa analis politik internasional menyatakan bahwa sikap keras dari kelompok pemberontak ini dapat memperpanjang proses negosiasi selama bertahun-tahun dan berpotensi memicu gelombang kekerasan baru yang lebih luas di wilayah Sahel.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline : #Azawad, #PembebasanMali, #KonflikUtaraMali, #PBBDamai,

