RI News. Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) bersama BUMN pangan terus mengakselerasi pembangunan industri peternakan modern berbasis rakyat melalui program hilirisasi ayam terintegrasi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi nasional memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan produksi pangan strategis di Pulau Jawa.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menegaskan bahwa program ini merupakan proyek strategis nasional yang mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat.
“Ini adalah proyek strategis nasional yang dijaga untuk membangun ekosistem hilirisasi ayam terintegrasi sekaligus memperkuat posisi peternak rakyat,” kata Agung dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu.
Program hilirisasi ayam terintegrasi dirancang dengan pendekatan menyeluruh, menghubungkan seluruh rantai nilai mulai dari penyediaan bibit unggul, pakan berkualitas, budidaya, hingga penyerapan dan pengolahan hasil produksi. Sulawesi Selatan dipilih sebagai salah satu dari lima provinsi prioritas karena memiliki basis peternakan rakyat yang kuat serta ketersediaan jagung lokal sebagai bahan baku pakan utama. Kabupaten Bone sendiri dinilai memiliki ekosistem dan dukungan pemerintah daerah yang paling siap.
“Kalau Bone berhasil, Insya Allah tempat lain berhasil,” ujar Agung optimistis.

Model yang dikembangkan pemerintah menempatkan peternak rakyat sebagai aktor utama. Melalui BUMN, pemerintah akan memperkuat sektor hulu dengan menyediakan bibit dan pakan berkualitas, sementara hasil produksi peternak diserap melalui skema kemitraan yang terintegrasi.
“Negara melalui BUMN akan menyiapkan bibit dan pakannya, kemudian akan menyerap hasilnya. Semangat inilah yang digagas oleh Bapak Menteri Pertanian,” jelas Agung.
Kementan meyakini model ini dapat menjadi blueprint nasional pengembangan peternakan modern berbasis kemitraan yang tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga kesejahteraan peternak secara langsung.
Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, menyambut baik inisiatif tersebut dan menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk memberikan dukungan penuh. Ia menyoroti potensi lahan jagung di Bone yang sangat besar.
“Kami punya luasan pertanian jagung di Bone sekitar 60 ribu hektare. Pada musim tertentu bahkan bisa mencapai 120 ribu hektare,” ungkap Asman.
Baca juga : Pendidikan Gratis SMP di Papua Tengah: Investasi Masa Depan untuk 26.511 Generasi Muda
Dengan potensi tersebut, kebutuhan bahan baku pakan ayam dapat dipenuhi secara lokal, sehingga mengurangi biaya logistik dan meningkatkan efisiensi usaha peternakan di daerah.
Direktur Operasional Bisnis II PT Berdikari, I Putu Yastika, menekankan bahwa keterlibatan BUMN bukan sekadar membangun kandang atau pabrik, melainkan menciptakan ekosistem usaha yang memberikan kepastian dari hulu hingga hilir.
“Program ini bukan proyek kecil. Ini merupakan bagian penting dari pengembangan hilirisasi ayam nasional yang harus dibangun bersama-sama,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER) Mulyadi Atma menyatakan bahwa peternak rakyat di Sulawesi Selatan sangat antusias menyambut program ini. Menurutnya, selama ini peternak mandiri sering menghadapi ketidakpastian pasokan bibit, pakan, dan pasar.

“Harapan kami, program ini bisa langsung berjalan di sektor budidaya dengan melibatkan peternak-peternak mandiri yang ada di Sulawesi Selatan,” kata Mulyadi.
Ia menambahkan bahwa pola kemitraan ini memberi harapan baru karena negara hadir melalui BUMN untuk memberikan kepastian bahan baku sekaligus jaminan pasar.
Program hilirisasi ayam terintegrasi di Bone diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi daging ayam nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, memperkuat ekonomi daerah, dan menjadi model pengembangan sentra pangan baru di kawasan Indonesia Timur. Keberhasilan proyek ini akan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional yang lebih merata.
Pewarta: Vie

