RI News. Atlanta, 1 November 2026 – Pertemuan para menteri luar negeri negara-negara ekonomi terbesar dunia (G20) di Atlanta, Amerika Serikat, berakhir tanpa kesepakatan formal. Selama dua hari, forum ini tidak mampu menyatukan sikap atas sejumlah isu keamanan global, terutama perang Rusia di Ukraina. Sebagai gantinya, tuan rumah hanya menerbitkan pernyataan ketua yang merangkum jalannya pembahasan.
Pernyataan itu dibacakan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio seusai sesi penutup pada Sabtu (31/10/2026). Dokumen tersebut tidak memuat satu pun butir kesepakatan. Isinya berupa daftar prioritas bersama yang dianggap mendesak, mulai dari ketahanan energi dan pangan hingga kebebasan navigasi. Dalam kajian hubungan internasional, format semacam ini lazim dipakai ketika konsensus sulit dicapai dan forum tetap ingin menjaga kesinambungan dialog.
Rubio mengakui bahwa solusi yang diterima semua pihak masih jauh. Menurutnya, sebagian anggota G20 tetap bekerja sama menangani sejumlah persoalan, terutama rantai pasok dan mineral kritis. Ia menilai hari pertama pertemuan berlangsung sangat produktif.

Pada hari kedua, ia berbicara secara terpisah dengan para menteri dari Australia, India, dan Jepang. Setelah itu ia memimpin sesi pamungkas yang membahas keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, Laut Merah, Laut Hitam, dan Laut Cina Selatan. Dalam pernyataan tertulis, ia menegaskan bahwa jalur dagang vital seperti Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb harus tetap aman dan terbuka bagi perdagangan.
Nada optimistis juga muncul dalam jamuan malam bagi para peserta pada Jumat. Rubio menyebut para anggota sedang memetakan masa depan ekonomi yang dinamis dan berani. Namun, seruan persatuannya saat membuka pertemuan segera diuji. Ia membatalkan sesi foto bersama para menteri setelah diplomat Eropa menolak kehadiran Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan mengancam memboikot atau meninggalkan acara tersebut.
Menteri Luar Negeri Polandia Radosław Sikorski, yang baru pertama kali hadir sebagai tamu G20, tidak terkejut dengan kebuntuan itu. Menurutnya, forum sulit menemukan garis bersama ketika pihak-pihak yang berperang duduk di meja yang sama.
Baca juga : Doa dan Tausiyah 40 Hari Wafatnya Ayahanda Amir Paisol: Mengingat Kematian, Merawat Kasih yang Tak Putus
Sejumlah peserta yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa pernyataan ketua sudah lama direncanakan. Mereka menyebut beberapa sumber perpecahan:
- perang Rusia-Ukraina;
- konflik AS-Israel melawan Iran;
- kebijakan tarif Amerika Serikat;
- manuver Cina di Laut Cina Selatan.
Rangkaian persoalan ini disebut memicu lonjakan harga bahan bakar dunia sekaligus memperbesar ketidakpastian perdagangan.
Sesi pembuka berlangsung ramah, tetapi posisi Rusia atas Ukraina tidak bergeser. Moskow juga menolak keanggotaan Polandia di G20. Perbedaan lain muncul dari keputusan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk tidak mengundang Afrika Selatan, anggota G20, meskipun pihak lain keberatan.
Retakan tidak hanya terlihat antara kubu yang berseberangan. Pernyataan bersama hasil pertemuan Rubio dengan para menteri Asia-Pasifik, misalnya, menyebut istilah “Super Intelligence” sebanyak enam kali sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Setiap penyebutan diberi tanda bintang yang merujuk pada catatan kaki. Catatan itu menjelaskan bahwa di Australia, India, dan Jepang, istilah tersebut berarti kecerdasan buatan.

Penjelasan itu diperlukan karena Trump mengganti sebutan “kecerdasan buatan” dalam Sidang Majelis Umum PBB pada September lalu. Ia menilai istilah lama terdengar palsu dan memerintahkan pemerintah AS memakai istilah baru. Sejauh ini belum ada negara lain yang mengikutinya.
Sebelum pertemuan dimulai, beberapa anggota G20 sudah mempertanyakan keputusan Washington mengundang Rusia di tengah meningkatnya serangan ke Ukraina. Kekhawatiran itu menguat setelah Trump membebaskan Moskow dari sanksi baru dan sempat membatasi bantuan logistik serta intelijen untuk Kyiv.
Di sisi lain, Departemen Luar Negeri AS pada Jumat menyetujui rencana penjualan penyergap pertahanan udara Patriot senilai 2,1 miliar dolar AS kepada Ukraina.
Rubio membela undangan kepada Lavrov, juga kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk KTT pemimpin G20. Ia menilai krisis tidak mungkin diakhiri secara damai tanpa berbicara dengan kedua pihak. Meski demikian, ia mengaku tidak yakin perdamaian lewat perundingan dapat dicapai dan menyatakan tidak ada peserta yang mengklaim sudah di ambang penyelesaian.
Lavrov menegaskan bahwa Moskow tidak akan membiarkan Ukraina menjadi ancaman militer bagi kepentingan keamanan sah Rusia. Perjalanannya ke negara anggota NATO tergolong jarang sejak invasi Februari 2022 dan penjatuhan sanksi berat atas Rusia. Hingga kini belum pasti apakah Putin akan menerima undangan menghadiri KTT di klub golf milik Trump di Miami pada Desember.

Pertemuan ini juga berlangsung di bawah bayang-bayang kemungkinan intervensi militer baru AS di Iran. Situasi tersebut membuat kawasan, termasuk Arab Saudi sebagai anggota G20, berada dalam kewaspadaan tinggi. Rubio bertemu Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan dan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, yang negaranya berperan sebagai mediator penting.
Menurut laporan yang beredar, pejabat AS telah meminta sejumlah negara Timur Tengah dan sekutu regional bersiap menghadapi kemungkinan serangan baru terhadap Iran setelah pemilu AS pada Selasa. Mereka juga diminta mengantisipasi kemungkinan balasan dari Teheran.
Para peserta yang berbicara secara anonim menyebut semua pihak sepakat tetap berupaya mengatasi perbedaan meski peluangnya kecil. Taruhannya adalah keberhasilan KTT para pemimpin G20 bulan depan di Florida. Pertemuan Atlanta menunjukkan bahwa sebelum KTT itu, G20 masih harus membuktikan kemampuannya bertindak sebagai forum kerja sama ekonomi di tengah kuatnya rivalitas geopolitik.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline: #G20, #Atlanta, #MarcoRubio, #RusiaUkraina, #RantaiPasok, #MineralKritis, #Diplomasi, #KeamananGlobal,
