RI News. Sukoharjo, 21 Agustus 2026- Saluran irigasi sekunder di Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, yang sudah berdebu selama 15 tahun, akhirnya dibersihkan secara massif. Kegiatan pengerukan yang melibatkan petani, pemerintah daerah, dan balai sungai berhasil merespons permintaan masyarakat untuk mengembalikan fungsi jaringan irigasi di tengah musim kemarau yang panjang.
Gabungan Petani Pemakai Air (GP3A) Ngupoyo Roso berinisiatif mengajak kolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo. Hasilnya, pengerukan dilakukan sepanjang lebih dari satu kilometer, melintasi Mojolaban hingga Karanganyar dan Sragen. Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo, Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air sekaligus Plh Kepala BBWS Bengawan Solo Rizhali Triutomi Sahan, serta anggota DPRD Sukoharjo Dahono Marlianto menyaksikan langsung operasi ini di Desa Plumbon, Jumat (21/8/2026).
Ketua GP3A Ngupoyo Roso, Tridadi, menyampaikan bahwa saluran tersebut selama ini hanya terisi sedimen padat yang membuat air sulit mengalir ke lahan pertanian. “Kami yang mendatangkan petani-peduli lingkungan ini memutuskan membersihkan sendiri karena tidak ada waktu untuk menunggu pihak luar. Pengerukan mulai pertengahan Juli 2026 dan sudah mencapai target satu kilometer,” katanya.

Tridadi menambahkan, distribusi air yang terganggu selama 15 tahun membuat petani kesulitan mengolah sawah di musim kemarau. Setelah sedimen dibersihkan, diperkirakan 91 hektare lahan pertanian akan mendapat tambahan pasokan air permanen. “Itu artinya kita bisa tambah luas tanam padi, terutama untuk komoditas yang butuh irigasi stabil,” ujarnya.
Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air sekaligus Plh Kepala BBWS Bengawan Solo Rizhali Triutomi Sahan menegaskan bahwa pengerukan ini bagian dari Gerakan Irigasi Bersih Kementerian PUPR. “BBWS mendorong petani dan masyarakat untuk lebih proaktif menjaga saluran. Sampah dan sedimen yang mengendap harus dibersihkan agar air mengalir lancar, terutama saat kemarau,” katanya.
Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo menyambut baik kolaborasi ini sebagai bentuk sinergi antarinstansi. “Kondisi saluran irigasi yang sudah tidak bersih selama bertahun-tahun menjadi risiko serius bagi ketahanan pangan. Dengan air yang lebih lancar, petani tetap bisa bertani di musim kemarau sehingga produksi padi di Sukoharjo bisa naik,” katanya. Plt bupati juga mengisyaratkan bahwa pengerukan serupa dapat dilakukan di lokasi lain di Sukoharjo.
Baca juga: Wapres Gibran: Pendataan Intensif & Grace Period Kredit Dipastikan untuk Warga Gempa Manggarai Timur
Pengerukan sedimentasi ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan masalah irigasi tetapi juga meningkatkan produktivitas lahan pertanian di Mojolaban dan sekitarnya. Dengan dukungan penuh dari semua pihak, program ini menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan bersama dapat mengatasi permasalahan infrastruktur pertanian di era perubahan iklim.
Pewarta: Muhamad Riansa
Tagline: #GerakanIrigasiBersih, #PetaniTertumbuhKembali, #SinergiPembangunanDaerah,

