RI News. Iran, 8 Juli 2026 – Ribuan pelayat berpakaian hitam memadati jalan-jalan Teheran pada Senin dalam iring-iringan pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Kehadiran massa yang luar biasa besar ini tidak hanya mencerminkan duka mendalam, tetapi juga menyuarakan amarah kolektif terhadap Amerika Serikat dan Israel, dengan banyak spanduk dan teriakan yang menuntut kematian Presiden Donald Trump.
Peti mati Khamenei yang dibungkus bendera nasional, bersama jenazah anggota keluarganya yang gugur dalam serangan udara 28 Februari lalu, diangkut di atas truk khusus yang dirancang menyerupai makam suci. Prosesi ini berlangsung di tengah negosiasi sensitif antara Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik yang telah menelan banyak korban. Citra udara menunjukkan lautan manusia memenuhi Jalan Azadi hingga beberapa kilometer, melampaui jumlah hadirin pada pemakaman Jenderal Qassem Soleimani tahun 2020.
Para pelayat tidak hanya datang untuk melayat. Banyak yang menyatakan kehadiran mereka sebagai bentuk komitmen balas dendam. “Kami bukan datang untuk mengucapkan selamat tinggal, melainkan untuk menyatakan tekad membalas,” ujar salah seorang pelayat yang ditemui di lokasi. Tradisi menyentuh peti mati dan melemparkan kain sebagai simbol berkah tetap dilakukan, sementara petugas menyemprotkan air untuk meredakan cuaca panas yang menyengat.

Prosesi pemakaman berlangsung selama hampir 12 jam melintasi Teheran sebelum jenazah diterbangkan ke Qom. Khamenei, yang berusia 86 tahun, rencananya akan dimakamkan di Mashhad pada Kamis mendatang. Pemerintah Iran menyatakan masa berkabung nasional hingga akhir pekan ini, dengan penutupan akses jalan, ruang udara, dan aktivitas publik.
Di balik kesedihan yang mendalam, pemakaman ini juga menjadi panggung politik. Seruan balas dendam terhadap Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu semakin kencang. Beberapa pelayat bahkan membawa boneka effigy Trump yang digantung sebagai simbol kemarahan. Pernyataan serupa disampaikan oleh banyak warga yang meyakini bahwa perjuangan Khamenei harus dilanjutkan dengan “kepalan tangan yang lebih kuat”.
Baca juga : Enam Jam ke Penang: Pemprov Sumut Geber Konektivitas Kuala Tanjung Jadi Hub Internasional
Sementara itu, situasi geopolitik tetap tegang. Amerika Serikat mendesak pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembatasan program nuklir Iran, sementara Teheran menuntut jaminan keamanan dan pengaruh regional. Pembicaraan kedua pihak dilaporkan ditunda hingga prosesi pemakaman selesai. Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang disebut sebagai pemimpin tertinggi baru, belum tampil di publik dan diyakini masih dalam perlindungan setelah mengalami luka dalam serangan udara yang sama.
Peristiwa ini menandai babak baru dalam sejarah Iran pasca-Khamenei. Generasi yang telah hidup puluhan tahun di bawah kepemimpinannya kini dihadapkan pada ketidakpastian sekaligus semangat perlawanan yang membara.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline: #Khamenei, #PemakamanIran, #BalasDendam, #Teheran, #Trump, #GeopolitikTimurTengah, #SelatHormuz,

