RI News. Jakarta – Serangkaian serangan Israel terhadap Lebanon dan Iran belakangan ini telah membuka tabir perbedaan mendasar antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dua pemimpin yang semula tampak solid dalam memulai konflik kini menunjukkan visi dan prioritas yang semakin berseberangan, memicu kekhawatiran akan stabilitas aliansi kedua negara.
Trump, yang tengah mempersiapkan partainya menghadapi pemilu akhir tahun, berupaya meredakan eskalasi konflik yang tidak populer di kalangan masyarakat Amerika. Ia secara terbuka menekankan kebutuhan untuk membuka kembali Selat Hormuz guna menstabilkan harga minyak global dan menghindari jebakan perang berkepanjangan di Timur Tengah. Sebaliknya, Netanyahu yang juga berada di bawah tekanan elektoral domestik bertekad melanjutkan operasi militer hingga ancaman dari Hizbullah dan Iran benar-benar netral.
Perbedaan tersebut semakin kentara setelah Israel melancarkan serangan ke Beirut meski ada peringatan dari Trump. Iran merespons dengan tembakan rudal balistik, yang kemudian memicu balasan Israel terhadap wilayah Iran. Meski ketegangan sempat mereda, sumber-sumber yang dekat dengan pembicaraan kedua pihak mengungkapkan adanya komunikasi yang tegang, termasuk penggunaan bahasa kasar oleh Trump terhadap Netanyahu.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa Trump menginginkan penyelesaian cepat yang mirip dengan pendekatannya di Venezuela, sementara Netanyahu mengejar tujuan yang lebih ambisius: melemahkan secara permanen kemampuan militer, nuklir, dan rudal Iran beserta jaringan proksinya. Ketidaksinkronan ini telah memengaruhi dinamika pasar energi global dan meningkatkan kritik terhadap kedua pemimpin di negara masing-masing.
Di Amerika Serikat, lonjakan harga bahan bakar memicu tuduhan bahwa Trump gagal memenuhi janji kampanye untuk menghindari keterlibatan lebih dalam di Timur Tengah. Sementara di Israel, masyarakat menyoroti kegagalan mencapai kemenangan tegas pasca-serangan Hamas pada Oktober 2023, di mana Hamas masih beroperasi di Gaza, Hizbullah terus meluncurkan roket, dan program nuklir Iran bertahan meski mengalami kerusakan signifikan.
Iran sendiri menjadikan gencatan senjata menyeluruh di Lebanon sebagai prasyarat utama dalam perundingan yang lebih luas. Ancaman Teheran untuk kembali menyerang Israel jika operasi di Lebanon berlanjut semakin memperumit posisi Netanyahu, yang berusaha memisahkan front pertempuran di Lebanon dari isu Iran.
Baca juga : Guru SD Rongkop Bantah Tuduhan Perselingkuhan: “Saya Hanya di Parkiran, Bukan di Kamar Hotel”
Pakar hubungan internasional mencatat bahwa ketegangan terbuka semacam ini jarang terjadi dalam sejarah aliansi AS-Israel, meski bukan tanpa preseden. Namun, sifat publik dari perselisihan ini menjadi ciri khas era Trump yang cenderung blak-blakan. Meski demikian, para pengamat meyakini bahwa fondasi aliansi strategis kedua negara masih kuat, selama tidak ada eskalasi yang menyeret Amerika secara langsung ke dalam konflik berkepanjangan.
Perkembangan ini menjadi pelajaran penting bagi dinamika geopolitik Timur Tengah: di balik kesamaan musuh, perbedaan kepentingan nasional dan agenda domestik dapat menjadi faktor penentu arah konflik ke depan.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline : #TrumpNetanyahu, #KonflikTimurTengah, #IsraelIran, #HizbullahLebanon, #SelatHormuz, #GeopolitikASIsrael, #PerangProksi,

