RI News. Jakarta – Dalam sebuah langkah yang menandai pergeseran kekuatan signifikan di industri teknologi global, Google menandatangani kesepakatan bernilai hingga 30 miliar dolar AS untuk menyewa kapasitas komputasi dari SpaceX. Perjanjian ini mencakup pembayaran sekitar 920 juta dolar per bulan hingga Juni 2029, menjadikannya salah satu kontrak infrastruktur komputasi terbesar dalam sejarah baru-baru ini.
Kesepakatan ini dilakukan hanya beberapa hari setelah SpaceX, yang baru saja mengakuisisi xAI pada Februari 2026, semakin memperkuat posisinya sebagai pemilik pusat data raksasa di Amerika Serikat. Dengan fasilitas bernama ‘Colossus’ yang memiliki kapasitas komputasi melebihi 2 gigawatt, kombinasi SpaceX dan xAI kini diperkirakan memiliki nilai gabungan mencapai 1,25 triliun dolar AS.
Lima tahun lalu, posisi kedua perusahaan masih terbalik. Saat itu, Google justru menyediakan sumber daya komputasi bagi SpaceX untuk mendukung ekspansi layanan internet Starlink. Kini, dengan penguasaan data center skala industri oleh SpaceX pasca-akuisisi xAI, Google menjadi pihak yang membutuhkan akses ke infrastruktur canggih tersebut.

Menurut dokumen pengajuan IPO SpaceX, kesepakatan ini akan memanfaatkan 110.000 unit Nvidia GPU beserta komponen pendukungnya yang berada di pusat data SpaceX. Masa pemanfaatan berlangsung mulai Oktober 2026 hingga Juni 2029. SpaceX sendiri menyatakan dalam dokumen IPO bahwa infrastruktur komputasinya memberikan fleksibilitas tinggi untuk dialokasikan dan dimonetisasi kepada pihak ketiga.
Kesepakatan dengan Google ini menjadi yang kedua kalinya diumumkan SpaceX pasca-merger dengan xAI, setelah sebelumnya menjalin kerja sama serupa dengan Anthropic pada Mei lalu. Hal ini terjadi menjelang rencana IPO SpaceX pekan depan, di mana perusahaan tersebut diproyeksikan mencapai valuasi lebih dari 1,75 triliun dolar AS — jauh melampaui nilai 12 miliar dolar saat Alphabet berinvestasi pada 2015.
Analis pasar melihat langkah Google ini sebagai upaya strategis untuk mempercepat ekspansi kapasitas AI guna memenuhi permintaan yang melonjak dari pelanggan korporat besar terhadap platform dan agen kecerdasan buatan. Di tengah persaingan ketat industri AI, akses ke komputasi berdaya tinggi menjadi faktor penentu keunggulan kompetitif.
Baca juga : Harmoni Gotong Royong dalam Irama Bambu: Bandung Angklung City Festival 2026 Makin Menggema
Meski model Grok dari xAI belum menunjukkan profitabilitas, kesepakatan-kesepakatan besar ini menjadi bukti konkret bahwa investasi masif Elon Musk pada infrastruktur data center mulai menuai hasil. Namun, di balik gemerlap tersebut, xAI menghadapi tantangan serius. Konten pornografi deepfake yang dihasilkan melalui Grok memicu gelombang kritik global dan aksi hukum. Perusahaan kini digugat dan diselidiki di berbagai yurisdiksi, dengan potensi denda sangat besar, termasuk hingga 4 persen dari pendapatan tahunan global di bawah regulasi perlindungan data seperti UK GDPR di Inggris.
Perkembangan ini tidak hanya mencerminkan dinamika bisnis di balik industri AI, tetapi juga menyoroti ketegangan antara inovasi teknologi cepat dengan tanggung jawab etis dan regulasi yang semakin ketat.
Pewarta : Vie
Tagline : #SpaceXIPO, #GoogleSpaceX, #xAI #InfrastrukturAI, #ElonMusk, #DeepfakeRegulation, #AIComputing,

