RI News. Madrid – Di tengah gejolak politik dan krisis kepercayaan yang melanda Spanyol, Paus Leo XIV tiba dengan pesan yang tegas: hentikan pembakaran api polarisasi. Kunjungan bersejarah paus asal Amerika Serikat ini menjadi sorotan dunia, menandai kembalinya perhatian Vatikan terhadap akar Kristiani Eropa setelah lebih dari satu dekade.
Sebagai paus pertama yang berkunjung ke Spanyol dalam 15 tahun, Leo XIV disambut oleh ratusan ribu umat, terutama generasi muda, di Plaza de Lima, Madrid. Suasana malam itu penuh semangat, dengan teriakan “Ini adalah pemuda Paus!” menggema di tengah vigili doa yang meriah. Bagi banyak anak muda Spanyol yang tumbuh di negara semakin sekuler, kehadiran paus ini membawa angin segar harapan akan kebangkitan spiritual.
Dalam pidato sambutannya, Leo XIV langsung menyentuh inti persoalan yang membelah masyarakat Eropa saat ini. Ia mengingatkan para pemimpin politik untuk meninggalkan narasi-narasi memecah belah demi kepentingan popularitas sesaat. “Hari ini, godaan untuk mendapatkan popularitas dengan membakar api polarisasi semakin kuat, sementara martabat manusia terus dilanggar,” tegasnya.

Paus yang fasih berbahasa Spanyol ini juga mengajak Spanyol memanfaatkan posisinya sebagai jantung Eropa Kristiani untuk menjadi teladan. Ia mengingatkan warisan sejarah panjang negeri ini, termasuk periode 800 tahun Moorish di mana Toledo dan Córdoba pernah menjadi pusat dialog antar peradaban, bahasa, agama, dan ilmu pengetahuan. Menurut Leo, hanya dengan menghargai kompleksitas dan keragamanlah Eropa dapat keluar dari penyederhanaan yang mandul.
Kunjungan ini berlangsung di saat Spanyol tengah bergulat dengan isu-isu krusial: imigrasi besar-besaran, skandal korupsi politik, serta perdebatan seputar feminisme dan gerakan kemerdekaan daerah. Pemerintah Sosialis di bawah Perdana Menteri Pedro Sánchez tengah mendapat tekanan keras dari oposisi konservatif, sementara kebijakan pemberian status legal bagi ratusan ribu imigran tanpa dokumen menjadi bahan perdebatan sengit.
Salah satu momen paling penting adalah pidato Leo XIV di hadapan sidang gabungan Parlemen Spanyol pada Senin mendatang — yang pertama kali dilakukan oleh seorang paus. Pidato ini diharapkan menjadi tonggak bersejarah, terutama bagi Gereja Katolik Spanyol yang masih berusaha pulih dari luka sejarah Perang Saudara dan skandal pelecehan seksual klerus selama puluhan tahun.
Baca juga : Desta, Vino, dan Tora Hidupkan Kembali Semangat Persahabatan Warkop DKI di Layar Lebar
Meski demikian, Leo tidak menutup mata terhadap realitas. Ia mengakui akan bertemu dengan korban pelecehan dan menegaskan bahwa kasus tersebut “masih menjadi luka terbuka”. Raja Felipe VI dalam sambutannya juga menekankan pentingnya ketegasan gereja dalam proses penyembuhan bagi para korban.
Di balik isu-isu berat tersebut, muncul tanda-tanda positif. Survei terkini menunjukkan kebangkitan minat spiritual di kalangan Generasi Z Spanyol. Paus sendiri menyambut gembira fenomena ini, meski dengan humor khasnya ia mengakui bersaing ketat dengan konser Bad Bunny akhir pekan ini.

Agenda selanjutnya mencakup Misa di Basilika Sagrada Familia, Barcelona, serta kunjungan ke Kepulauan Canary untuk bertemu para migran. Di sana, Leo XIV akan melemparkan karangan bunga ke laut sebagai penghormatan bagi para migran yang kehilangan nyawa saat menyeberangi Atlantik — sebuah gestur yang melanjutkan warisan Paus Fransiskus.
Kunjungan ini tidak hanya menjadi peristiwa keagamaan, melainkan juga momen refleksi mendalam bagi Eropa yang tengah mencari jati dirinya di antara polarisasi, teknologi, dan migrasi. Leo XIV tampil sebagai suara persatuan di tengah perpecahan yang semakin dalam.
Pewarta : Anjar Bramantyo
Tagline : #LeoXIV, #KunjunganPausSpanyol, #PolarisasiEropa, #KebangkitanSpiritual, #DialogAntarAgama, #Migrasi, #GerejaKatolik, #PemudaSpanyol,

