RI News. London – Pengadilan Inggris memvonis dua warga negara ganda Inggris-China bersalah karena terlibat dalam operasi “policing bayangan” yang ditujukan kepada para pembangkang Hong Kong di wilayah Inggris. Vonis ini memperkuat tuduhan bahwa pemerintah China secara aktif menjalankan operasi intelijen lintas batas untuk membungkam suara pro-demokrasi di luar negeri.
Peter Wai (38), mantan petugas UK Border Force yang pernah bertugas di kepolisian Inggris dan Angkatan Laut Kerajaan, serta Bill Yuen (65), pensiunan superintendent polisi Hong Kong yang menjabat sebagai manajer senior Kantor Perdagangan dan Ekonomi Hong Kong (HKETO) di London, dinyatakan bersalah atas tuduhan membantu dinas intelijen asing di bawah Undang-Undang Keamanan Nasional Inggris.
Persidangan yang berlangsung selama berminggu-minggu di Pengadilan Old Bailey berakhir dengan keputusan juri yang memakan waktu hampir 24 jam. Meski juri tidak mencapai kesepakatan pada satu tuduhan campur tangan asing tambahan, jaksa menyatakan tidak akan mengajukan persidangan ulang. Kedua terdakwa kini ditahan menjelang sidang vonis yang dijadwalkan pada 15 Mei mendatang.

Menurut bukti yang diungkap di persidangan, Wai menyalahgunakan aksesnya ke sistem komputer Kementerian Dalam Negeri Inggris untuk mencari data pribadi individu yang menjadi target otoritas Hong Kong. Ia bertindak atas perintah Yuen, yang memanfaatkan posisinya di HKETO untuk mengkoordinasikan kegiatan tersebut.
Pasangan ini disebut fokus pada para aktivis pro-demokrasi Hong Kong yang mencari perlindungan di Inggris pasca-penindasan besar-besaran Beijing terhadap gerakan demokrasi di wilayah tersebut. Salah satu target utama adalah Nathan Law, aktivis Hong Kong terkemuka yang kini tinggal di London. Pengawasan terhadap Law telah dimulai sejak setidaknya tahun 2021, termasuk pemotretan dan pengumpulan informasi.
Operasi mereka juga melibatkan tindakan pengawasan, penipuan, dan ancaman langsung. Seorang demonstran Hong Kong yang menjadi saksi mengungkapkan bahwa Wai sempat mengancam akan menangkapnya di tanah Inggris karena berani menentang seorang diplomat Hong Kong.
Baca juga : Trump Tunda Ancaman Tarif Tinggi UE hingga 4 Juli: Ujian Terberat Kesepakatan Dagang Transatlantik
Kegiatan ini semakin mencolok karena bertepatan dengan tawaran hadiah besar yang dipasang pemerintah Hong Kong—sekitar £100.000—bagi informasi yang dapat membantu menangkap atau mengidentifikasi aktivis-aktivis Hong Kong di Inggris, termasuk Nathan Law.
Kasus ini terbongkar setelah polisi Inggris berhasil menggagalkan upaya penculikan seorang mantan warga Hong Kong dari apartemennya di Yorkshire pada Mei 2024. Wai, yang dikenal dengan julukan “Fatboy” di kalangan rekan-rekannya, dan Yuen sama-sama membantah semua tuduhan.
Kasus ini bukan hanya menunjukkan adanya praktik pengawasan transnasional oleh China, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius tentang kerentanan institusi publik Inggris terhadap infiltrasi asing. Mantan petugas penegak hukum yang pernah bersumpah setia kepada Kerajaan Inggris justru terlibat dalam aktivitas yang mengancam keselamatan warga dan pembangkang politik di tanah Britania.

Dengan vonis ini, Inggris kembali menegaskan sikap tegasnya terhadap segala bentuk campur tangan asing di wilayahnya. Pemerintah Inggris telah memanggil Duta Besar China sebagai bentuk protes resmi atas kasus tersebut.
Kasus Peter Wai dan Bill Yuen menjadi pengingat bahwa perang melawan disiden tidak lagi terbatas di Hong Kong atau China daratan, melainkan telah merembet hingga ke jantung Eropa—mengancam nilai-nilai demokrasi dan kebebasan yang menjadi fondasi masyarakat Barat.
Pewarta: Setiawan Wibisono


