RI News. Jakarta – Kontrak berjangka minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam lebih dari 10 persen pada Jumat (17/4/2026) pagi, menyusul pengumuman Iran yang membuka kembali Selat Hormuz bagi semua kapal komersial selama periode gencatan senjata di Lebanon. Langkah ini langsung meredakan kekhawatiran pasokan global yang sempat terganggu akibat konflik di Timur Tengah.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei sempat merosot hingga menyentuh level 83 dolar AS per barel. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan harga penutupan Kamis (16/4) di level 94,69 dolar AS per barel. Sementara itu, kontrak Brent untuk pengiriman Juni juga turun signifikan, sempat mencapai titik terendah 87,71 dolar AS per barel, dibandingkan penutupan sebelumnya di 99,39 dolar AS per barel. Penurunan ini mencerminkan ekspektasi pasar akan pulihnya aliran minyak melalui jalur vital tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyampaikan pengumuman tersebut melalui unggahan di media sosial pada Jumat (17/4). Ia menyatakan bahwa jalur pelayaran melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka bagi semua kapal komersial selama sisa periode gencatan senjata di Lebanon. Pernyataan ini langsung menjadi sorotan pasar karena Selat Hormuz merupakan arteri utama pasokan energi dunia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut positif langkah Iran. Melalui pernyataannya pada hari yang sama, Trump menyampaikan terima kasih atas pembukaan penuh Selat Hormuz. Namun, ia menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap Iran akan tetap diberlakukan sepenuhnya hingga seluruh transaksi antara Washington dan Teheran selesai 100 persen.
Gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku pada tengah malam Kamis (16/4) menuju Jumat (17/4) waktu setempat, atau Jumat pukul 04.00 WIB. Sebelumnya, lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz secara efektif tertutup sejak akhir Februari 2026 akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu chokepoint paling krusial dalam perdagangan energi global. Jalur sempit ini biasanya menyalurkan sekitar 20 persen dari total aliran minyak dunia, sehingga penutupannya selama berminggu-minggu telah memicu lonjakan harga dan kekhawatiran krisis pasokan. Pembukaan kembali jalur ini diharapkan dapat menstabilkan pasar, meskipun analis memperingatkan bahwa situasi tetap rentan terhadap perkembangan politik di kawasan.
Para pelaku pasar kini memantau apakah gencatan senjata ini dapat bertahan dan apakah pembukaan Selat Hormuz akan berlanjut pasca-periode tersebut. Sementara itu, sentimen positif sementara ini telah mendorong penurunan harga minyak yang tajam, meski volatilitas diprediksi masih tinggi seiring negosiasi lebih lanjut antara pihak-pihak terkait.
Peristiwa ini menjadi pengingat betapa sensitifnya pasar energi terhadap dinamika geopolitik di Timur Tengah. Investor dan pemerintah di berbagai negara kini dihadapkan pada tantangan untuk mengantisipasi risiko pasokan di tengah upaya de-eskalasi konflik yang masih rapuh.
Pewarta : Setiawan Wibisono

