RI News. Bogota, Kolombia, 12 April 2026 – Saat ratusan ribu warga Peru bersiap memberikan suara mereka hari ini untuk memilih presiden dan anggota Kongres baru, satu ancaman eksistensial bagi masa depan Amazon justru hampir tak tersentuh dalam kampanye: pertambangan emas ilegal.
Aktivitas ini bukan sekadar masalah lingkungan biasa. Ia telah berkembang menjadi ekonomi bayangan terbesar di negara tersebut, mendorong deforestasi masif, pencemaran merkuri yang parah, serta ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat dan hak masyarakat Adat. Namun, mayoritas kandidat dan partai politik tampak enggan menjadikannya prioritas utama.
Menurut data proyeksi Institut Ekonomi Peru, pertambangan ilegal menghasilkan lebih dari 11,5 miliar dolar AS sepanjang 2025, dengan ekspor emas mencapai lebih dari 100 ton — nilai yang setara bahkan melampaui sektor pertambangan formal dan perdagangan narkotika. Harga emas global yang melonjak hingga kisaran 4.500–5.000 dolar per ons semakin memicu ekspansi aktivitas ini ke wilayah Amazon yang lebih dalam, termasuk wilayah-wilayah masyarakat Adat yang sebelumnya relatif terisolasi.

Pengacara lingkungan terkemuka César Ipenza menegaskan, “Partai-partai politik belum memahami sepenuhnya bahwa pertambangan ilegal telah menjadi aktivitas kriminal utama yang menggerakkan uang terbesar di Peru. Ada ketidaktahuan, atau dalam beberapa kasus, keterlibatan langsung dalam ekonomi ini.”
Analisis dari Observatorium Pertambangan Ilegal Peru menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: dari 36 partai politik terdaftar, hanya 12 yang menyajikan proposal spesifik. Sekitar 64 persen platform partai sama sekali tidak membahas isu ini secara bermakna, sementara hanya sekitar 5 persen yang menyebutkannya dengan jelas dan eksplisit.

Kandidat teknokrat seperti Jorge Nieto dan Alfonso López Chau mengusulkan langkah-langkah seperti sistem pelacakan emas (traceability), peningkatan intelijen keuangan, serta perlindungan bagi pembela lingkungan. Namun, usulan tersebut masih bersifat fragmentaris dan belum membentuk strategi komprehensif.
Sementara itu, kandidat-kandidat dari kubu konservatif dan populis berpengaruh — seperti Keiko Fujimori, Rafael López Aliaga, dan César Acuña — cenderung lebih menekankan isu keamanan publik, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan ekstraktif, tanpa secara langsung menyentuh kaitan pertambangan ilegal dengan korupsi dan penguasaan wilayah di Amazon. Beberapa kandidat lain bahkan sama sekali tidak memasukkan isu ini dalam program mereka.
Magaly Ávila, direktur tata kelola lingkungan di Proética, menilai situasi ini sebagai kegagalan struktural. “Ekonomi ilegal, termasuk pertambangan liar, tidak menjadi prioritas dalam rencana pemerintahan. Hal ini mencerminkan lemahnya komitmen politik untuk menghadapi ancaman yang sudah mendalam ini,” ujarnya.
Pewarta : Setiawa Wibisono


Selamat siang menjelang petang