RI News. Pyongyang – Kunjungan Menteri Luar Negeri China Wang Yi ke ibu kota Korea Utara pada 9-10 April 2026 menandai upaya Beijing untuk memperkuat kembali ikatan historis dengan Pyongyang, sekaligus menegaskan posisinya sebagai aktor utama di kawasan Asia Timur di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Dalam pertemuan dengan mitranya, Choe Son Hui, kedua diplomat sepakat untuk memperdalam kerja sama bilateral dan meningkatkan komunikasi strategis di bidang kebijakan luar negeri. Wang Yi menekankan pentingnya “mengonsolidasikan momentum positif” hubungan kedua negara, merujuk pada kesepakatan yang dicapai antara Presiden Xi Jinping dan Pemimpin Kim Jong Un pada September 2025 lalu.
Kunjungan ini merupakan yang pertama kalinya seorang menteri luar negeri China menginjakkan kaki di Pyongyang setelah lebih dari enam tahun. Wang tiba di Pyongyang hanya beberapa pekan setelah kedua negara kembali membuka jalur kereta api penumpang dan penerbangan langsung Beijing-Pyongyang, yang sempat terhenti total sejak pandemi COVID-19 pada awal 2020.

Hubungan Korea Utara-China sering disebut “seerat bibir dan gigi”, namun dalam beberapa tahun terakhir sempat mengalami ketegangan. Pyongyang semakin mendekatkan diri dengan Rusia, termasuk melalui pengiriman pasukan dan amunisi untuk mendukung operasi militer Moskow di Ukraina. Sementara itu, Beijing tampak enggan terlibat dalam aliansi anti-Barat yang terlalu eksplisit bersama Pyongyang dan Moskow.
Namun, tren terbaru menunjukkan pergeseran. Setelah pertemuan puncak Kim-Xi pada September 2025, kedua pihak kini aktif membangun kembali kepercayaan. China melihat Korea Utara sebagai mitra strategis yang dapat membantu menjaga stabilitas di perbatasan timur lautnya, sekaligus sebagai kartu tawar dalam diplomasi dengan Amerika Serikat.
Kunjungan Wang Yi ini terjadi tepat sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan mengunjungi Beijing pada Mei 2026 untuk KTT dengan Xi Jinping. Para analis melihat langkah Beijing ini sebagai upaya untuk memperkuat posisi tawar-menawarnya menjelang pembicaraan dengan Washington, terutama terkait isu nuklir Semenanjung Korea dan dinamika keamanan regional.
Dari perspektif akademis, kunjungan ini mencerminkan strategi China yang klasik: mempertahankan pengaruh tanpa konfrontasi langsung. Beijing ingin mencegah Pyongyang terlalu bergantung pada Rusia, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui peningkatan perdagangan dan pariwisata. Di sisi lain, Korea Utara tampaknya berusaha menyeimbangkan hubungannya dengan kedua kekuatan besar (China dan Rusia) untuk memaksimalkan manfaat diplomatik dan ekonomi di tengah sanksi internasional yang masih berlaku.
Meski demikian, belum ada indikasi bahwa pertemuan tersebut membahas secara terbuka isu sensitif seperti program nuklir Korea Utara atau konflik di Timur Tengah. Fokus utama tetap pada penguatan komunikasi strategis dan kerja sama praktis.
Dengan dibukanya kembali jalur transportasi dan peningkatan volume perdagangan, hubungan China-Korea Utara tampak memasuki fase baru yang lebih dinamis. Apakah langkah ini akan membawa stabilitas jangka panjang di Semenanjung Korea, atau justru memperumit diplomasi Trump dengan Xi, masih menjadi pertanyaan yang menarik untuk diamati ke depannya.
Pewarta : Setiawan Wibisono

