“Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan penghentian tembakan selama 32 jam, menyusul usulan Ukraina. Namun, sejarah gencatan serupa memunculkan keraguan besar tentang efektivitasnya“.
RI News. Moskow – Di tengah perang yang memasuki tahun kelima, Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis (9 April 2026) mengumumkan gencatan senjata unilateral selama 32 jam untuk memperingati akhir pekan Paskah Ortodoks. Langkah ini muncul setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy lebih dulu mengusulkan jeda serangan terhadap infrastruktur energi kedua negara.
Menurut pernyataan resmi Kremlin, pasukan Rusia diperintahkan untuk menghentikan seluruh operasi militer mulai pukul 16.00 waktu setempat pada Sabtu (11 April) hingga akhir hari Minggu (12 April). Pernyataan tersebut menekankan bahwa pasukan tetap dalam kesiagaan penuh untuk menghadapi segala bentuk provokasi atau serangan balik dari pihak Ukraina.
“Perintah telah dikeluarkan untuk menghentikan permusuhan di semua arah selama periode tersebut,” demikian bunyi pernyataan Kremlin, yang juga menyatakan harapan bahwa Kyiv akan “mengikuti contoh Federasi Rusia”.

Usulan jeda dari Zelenskyy sebelumnya difokuskan pada penghentian serangan terhadap fasilitas energi. Melalui mediator Amerika Serikat, Ukraina menyampaikan tawaran tersebut dengan harapan meringankan penderitaan warga sipil di tengah krisis energi yang berkepanjangan akibat konflik.
Hingga Jumat pagi, pihak Ukraina belum memberikan respons resmi terhadap pengumuman Putin. Namun, pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa gencatan senjata sepihak semacam ini sering kali berujung pada saling tuduh pelanggaran. Pada Paskah tahun lalu, Putin juga mengumumkan gencatan senjata 30 jam, tetapi kedua pihak saling menyalahkan atas pelanggaran yang terjadi.
Analis konflik mencatat bahwa pengumuman ini terjadi saat pembicaraan damai yang dimediasi Amerika Serikat mengalami kebuntuan signifikan. Washington, yang semula aktif memfasilitasi dialog antara Moskow dan Kyiv, kini lebih memusatkan perhatian pada konflik di Timur Tengah. Sementara itu, garis depan sepanjang sekitar 1.250 kilometer masih menjadi saksi pertempuran sengit antara kedua pasukan.
Baca juga : Di Tengah Darah dan Debu: Israel Buka Pintu Dialog dengan Lebanon saat Serangan Mematikan Mengguncang Beirut
Berbeda dengan usulan gencatan senjata 30 hari tanpa syarat yang diajukan tahun lalu oleh AS dan Ukraina, Rusia tetap menegaskan bahwa solusi sejati hanya dapat dicapai melalui penyelesaian komprehensif, bukan jeda sementara. Meski demikian, Moskow kerap mengumumkan gencatan senjata singkat secara sepihak, terutama pada momen-momen keagamaan.
Dari perspektif kemanusiaan, jeda 32 jam ini berpotensi memberi ruang bagi warga sipil untuk merayakan Paskah Ortodoks dengan sedikit ketenangan, sekaligus memungkinkan pertukaran tahanan atau pengiriman bantuan jika kedua pihak benar-benar menghormati kesepakatan. Namun, para pengamat mempertanyakan apakah langkah ini sekadar gesture simbolis atau memiliki dampak substantif terhadap dinamika perang yang semakin melelahkan.
Sejauh ini, tidak ada indikasi bahwa gencatan senjata kali ini akan menjadi pintu masuk menuju negosiasi yang lebih serius. Perang Rusia-Ukraina tetap menjadi salah satu konflik paling destruktif di Eropa sejak Perang Dunia II, dengan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang terus bertambah.
Pewarta : Setiawan Wibisono

