“Di tengah kekhawatiran berkurangnya pasokan senjata vital, Presiden Ukraina menawarkan keahlian tempur sebagai mata uang diplomasi baru.“
RI News. Istanbul/Dasmaskus — Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyuarakan kekhawatiran mendalam bahwa konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran berpotensi mengalihkan perhatian dan sumber daya Barat dari Eropa Timur. Hal ini dapat memperlemah posisi Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia yang memasuki tahun kelima.
Dalam wawancara eksklusif di Istanbul, Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina sangat bergantung pada sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika untuk menangkal serangan rudal balistik Rusia yang hampir setiap hari menghantam wilayah sipil dan infrastruktur energi. “Kita harus mengakui bahwa kami bukan prioritas hari ini,” ujar Zelenskyy. Ia khawatir, jika perang di Timur Tengah berlarut-larut, paket bantuan militer yang sudah terbatas akan semakin menyusut.
Konflik di Timur Tengah yang kini memasuki minggu keenam telah menciptakan efek domino global. Lonjakan harga minyak akibat gangguan di Selat Hormuz justru menguntungkan Rusia secara ekonomi. Pendapatan minyak Kremlin yang meningkat memungkinkan Moskow terus membiayai mesin perangnya, sementara strategi Ukraina untuk melemahkan ekonomi Rusia melalui sanksi dan serangan drone terhadap fasilitas minyak menjadi terganggu.

Analisis geopolitik menunjukkan bahwa perang multi-front ini memaksa negara-negara Barat melakukan pilihan sulit dalam alokasi sumber daya pertahanan. Pasokan Patriot yang memang terbatas kini semakin terkuras, meninggalkan kota-kota Ukraina lebih rentan terhadap serangan udara Rusia. Zelenskyy menambahkan bahwa bahkan diskusi perdamaian dengan Rusia melalui mediator Amerika pun mencerminkan penurunan fokus terhadap Ukraina.
Di tengah tantangan tersebut, Ukraina tidak hanya bertahan secara militer, tetapi juga aktif memperluas jaringan diplomasi. Zelenskyy baru saja menyelesaikan pembicaraan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Istanbul, yang membahas kemungkinan pertemuan pemimpin untuk perdamaian serta kerja sama pertahanan baru. Keesokan harinya, ia melanjutkan ke Damaskus untuk kunjungan resmi pertama ke Suriah pasca-perubahan kepemimpinan di sana.
Dalam pertemuan dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, Zelenskyy menawarkan pertukaran pengalaman militer dan keamanan. Ukraina, yang telah berhasil mengembangkan taktik inovatif dan murah untuk melawan drone Shahed buatan Iran yang dimodifikasi Rusia (Geran-2), siap berbagi teknologi drone pencegat dan drone laut. Sebagai imbalan, Kyiv berharap mendapat dukungan rudal anti-balistik dari negara-negara di kawasan.
Langkah diplomasi ini mencerminkan strategi baru Ukraina: menjadikan pengalaman tempur di medan perang sebagai aset strategis untuk membangun aliansi di luar Eropa. Zelenskyy juga menawarkan bantuan Ukraina dalam mengamankan jalur perdagangan maritim, termasuk potensi berbagi pelajaran dari keberhasilan membuka koridor di Laut Hitam, untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.
Di medan perang, situasi tetap tegang. Rusia terus melakukan serangan attrisi di sepanjang garis depan sepanjang 1.250 kilometer, meski hanya mencatat kemajuan incremental di wilayah pedesaan. Pasukan Ukraina yang kekurangan personel bersiap menghadapi kemungkinan ofensif musim semi Rusia, sementara serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia semakin intensif.

Zelenskyy menegaskan sikap tegas Kyiv: tidak ada kompromi teritorial. “Menyerahkan tanah bukanlah opsi,” katanya. Sementara itu, serangan drone Rusia semalam kembali menewaskan dan melukai warga sipil di Nikopol dan Odesa.
Dari perspektif akademis, perkembangan ini menggarisbawahi bagaimana konflik regional yang saling terkait dapat mengubah dinamika keamanan global. Kemampuan Ukraina dalam berinovasi di bawah tekanan dan membangun diplomasi non-tradisional menjadi faktor krusial yang mungkin menentukan ketahanan negara tersebut di tengah persaingan kekuatan besar yang semakin kompleks.
Pewarta : Setiawan Wibisono

