RI News. Washington – Di tengah eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang kini memasuki minggu keenam, China semakin aktif memainkan peran diplomatik dengan mengajukan inisiatif perdamaian bersama Pakistan. Proposal lima poin ini tidak hanya menyerukan penghentian segera permusuhan, tetapi juga menekankan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan energi global yang krusial.
Langkah Beijing ini mencerminkan upaya strategis untuk memperkuat citra sebagai kekuatan penyeimbang dalam urusan internasional, di saat Amerika Serikat tampak lebih fokus pada pendekatan militer. Menurut analis, inisiatif ini sekaligus menjadi ujian bagi ambisi China sebagai mediator di kawasan Timur Tengah yang selama ini didominasi kekuatan Barat.
Proposal lima poin yang disusun bersama Pakistan setelah pertemuan Menteri Luar Negeri Wang Yi dengan mitranya dari Pakistan di Beijing pada akhir Maret lalu, mencakup beberapa elemen utama: penghentian segera permusuhan, dimulainya pembicaraan damai, perlindungan warga sipil dan infrastruktur non-militer, serta jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. China dan Pakistan menekankan bahwa dialog dan diplomasi adalah satu-satunya jalan keluar yang berkelanjutan, sambil menolak penggunaan kekuatan militer yang diusulkan melalui mekanisme PBB.

Eskalasi terbaru terjadi pada Jumat lalu ketika Iran berhasil menembak jatuh dua pesawat militer AS di dekat wilayah Selat Hormuz — insiden pertama sejak konflik meletus pada akhir Februari. Meski demikian, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kejadian tersebut tidak akan menghalangi jalur negosiasi, meskipun sebelumnya ia menyatakan bahwa AS telah “sepenuhnya menghancurkan” kemampuan Iran.
Bagi China, stabilitas di Selat Hormuz bukan sekadar isu politik, melainkan kepentingan ekonomi vital. Meskipun Beijing telah berhasil mendiversifikasi sumber energi dan hanya mengandalkan Iran untuk sekitar 13 persen impor minyaknya, gangguan berkepanjangan di jalur pelayaran ini dapat memicu lonjakan harga energi global. Hal tersebut berpotensi merusak model pertumbuhan China yang sangat bergantung pada ekspor.
“Eskalasi konflik yang berkepanjangan akan mulai merugikan kepentingan China secara langsung,” ujar seorang analis hubungan internasional. “Gangguan pasokan energi dan rantai pasok maritim dapat meningkatkan biaya produksi dan melemahkan permintaan global, yang pada akhirnya menekan ekonomi China yang sedang rentan.”
Baca juga : Hakim Federal Blokir Pengumpulan Data Ras di Kampus: Langkah Mundur atau Perlindungan Privasi?
China juga memiliki cadangan minyak strategis yang cukup besar, sehingga mampu meredam gejolak jangka pendek. Namun, analis menilai Beijing khawatir jika perang berlarut-larut, terutama menjelang kunjungan Presiden Trump ke China yang dijadwalkan ulang pada pertengahan Mei. Kunjungan tersebut sempat ditunda karena fokus Washington pada konflik Iran.
Sikap Amerika Serikat terhadap inisiatif China-Pakistan dinilai masih “netral” atau agnostic oleh sebagian pejabat AS. Washington tampaknya enggan memberikan ruang bagi China untuk mengklaim keberhasilan mediasi di Timur Tengah, sekaligus menghindari peningkatan citra internasional Beijing. Beberapa pejabat AS menyebut diplomasi China lebih bersifat “pesan politik” daripada upaya mediasi substantif, mirip dengan rencana 12 poin China untuk konflik Ukraina pada 2023 yang banyak menuai kritik sebagai sekadar pernyataan prinsip tanpa tindakan nyata.
Di sisi lain, China telah melakukan diplomasi intensif. Menteri Luar Negeri Wang Yi telah melakukan lebih dari 20 panggilan telepon dengan mitra regional, termasuk Rusia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara-negara Teluk lainnya. Beijing juga menentang usulan Bahrain di Dewan Keamanan PBB yang sempat mengizinkan penggunaan kekuatan untuk membuka Selat Hormuz, dengan alasan bahwa langkah tersebut justru dapat memperburuk konflik.
Analis dari berbagai lembaga pemikir internasional menilai bahwa China sedang memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan kontras narasi: sementara AS digambarkan sebagai kekuatan yang agresif dan kurang mempertimbangkan dampak bagi negara lain, China ingin tampil sebagai pembela perdamaian yang bertanggung jawab dan menghormati hukum internasional.

Meski proposal China-Pakistan mendapat sambutan diam dari Washington, para pengamat melihat adanya peluang kecil jika situasi di lapangan semakin memburuk. Bagi Beijing, meredanya konflik sebelum pertemuan Trump-Xi akan menjadi hasil diplomatik yang berharga, sekaligus mengurangi risiko penundaan lebih lanjut dari kunjungan tersebut.
Dalam konteks yang lebih luas, perkembangan ini menandai babak baru persaingan pengaruh global antara Washington dan Beijing. China, yang selama ini lebih dikenal aktif di kawasan Asia-Pasifik dan Afrika, kini semakin berani menempatkan dirinya sebagai aktor kunci di Timur Tengah — kawasan yang secara tradisional menjadi arena pengaruh Amerika Serikat.
Perang di Iran tidak hanya menguji ketahanan regional, tetapi juga menjadi ajang bagi kekuatan besar untuk mendefinisikan ulang peran mereka di panggung dunia. Apakah inisiatif lima poin ini akan menjadi langkah konkret menuju de-eskalasi, atau sekadar manuver diplomatik, masih menjadi pertanyaan besar yang akan terjawab dalam beberapa pekan mendatang.
Pewarta : Setiawan Wibisono

