Skip to content
25/05/2026
  • Facebook
  • Youtube
  • Instagram
RI NEWS

RI NEWS

PORTAL BERITA INDONESIA

baner iklan
Primary Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
    • IstanaBerita seputar Istana
    • PemerintahanBerita seputar Pemerintahan
    • Politik
    • Parlemen
  • Buser Berita
    • TNI/PolriBerita seputar TNI dan Polri
    • KPKBerita seputar KPK
    • Hukum/PolitikBerita seputar Hukum
  • Regional
    • AcehBerita Seputar Aceh
    • DKI JakartaBerita seputar DKI Jakarta
    • Jawa BaratBerita seputar Jawa Barat
    • Jawa TengahBerita seputar Jawa Tangah
    • Jawa TimurBerita seputar Jawa Timur
    • YogyakartaBerita seputar Yogyakarta
    • BaliBerita Seputar Bali
    • BantenBerita seputar Sumatera
    • Nusa TenggaraBerita seputar Nusa Tenggara
    • SumateraBerita seputar Sumatera
    • KalimantanBerita seputar Kalimantan
    • PapuaBerita seputar Papua
    • SulawesiBerita seputar Sulawesi
    • MalukuBerita seputar Maluku
  • Olah Raga
  • Ilmu PengetahuanBerita seputar Ilmu Penegetahuan
  • Budaya
  • Hiburan
  • BisnisBerita seputar Bisnis
  • Redaksi
  • Privacy Policy
Live
  • Home
  • World
  • Risiko Besar di Balik Rencana Pengamanan Uranium Iran: Operasi Militer yang Bisa Picu Bencana Radiasi

Risiko Besar di Balik Rencana Pengamanan Uranium Iran: Operasi Militer yang Bisa Picu Bencana Radiasi

Jurnalis RI News Portal Posted on 2 bulan ago 4 minutes read
Risiko Besar di Balik Rencana Pengamanan Uranium Iran
Silahkan bagikan ke media anda ...

RI News. Jakarta – Di tengah ketegangan berkelanjutan di Timur Tengah, opsi militer untuk mengamankan stok uranium Iran yang telah diperkaya hingga mendekati level senjata nuklir kembali menjadi perbincangan serius di kalangan pengambil kebijakan Amerika Serikat. Para ahli memperingatkan bahwa pendekatan dengan pasukan darat bukan hanya berisiko tinggi bagi personel militer, tetapi juga berpotensi menimbulkan bahaya radiasi dan kimia yang serius bagi lingkungan dan penduduk sipil.

Presiden Donald Trump berulang kali menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan AS terhadap Iran adalah mencegah negara tersebut memiliki senjata nuklir. Namun, cara mencapai tujuan itu masih menjadi perdebatan. Meski serangan udara telah melemahkan infrastruktur nuklir Iran secara signifikan, stok uranium enriched hingga 60 persen — yang hanya selangkah dari kadar senjata nuklir 90 persen — diyakini masih tersimpan di lokasi-lokasi tersembunyi.

Menurut data Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Iran memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium enriched hingga 60 persen sebelum serangan besar-besaran pada 2025. Jumlah tersebut secara teoritis cukup untuk menghasilkan hingga sepuluh bom nuklir jika diproses lebih lanjut. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyatakan bahwa sebagian besar stok tersebut kemungkinan berada di terowongan kompleks nuklir Isfahan, dengan jumlah lebih kecil di Natanz dan Fordow. Namun, sejak inspeksi terakhir pada Juni 2025, IAEA kesulitan memverifikasi lokasi pasti bahan tersebut akibat kerusakan infrastruktur dan pembatasan akses.

David Albright, pendiri Institute for Science and International Security, menjelaskan bahwa uranium tersebut disimpan dalam bentuk gas uranium heksafluorida di dalam tabung-tabung khusus yang cukup kuat. Meski demikian, jika tabung rusak — misalnya akibat serangan udara atau bentrokan darat — kelembapan bisa masuk dan melepaskan fluorin, zat kimia sangat korosif yang berbahaya bagi kulit, mata, dan paru-paru. “Siapa pun yang masuk ke terowongan harus mengenakan pakaian pelindung hazmat penuh,” ujar Albright.

Lebih jauh lagi, para ahli nuklir memperingatkan risiko reaksi nuklir kritis jika jarak antar tabung tidak dijaga dengan benar selama pengambilan atau pengangkutan. Hal ini bisa menghasilkan paparan radiasi dalam jumlah besar. Untuk mengantisipasi itu, bahan harus dikemas khusus dengan ruang antar tabung sebelum diangkut menggunakan pesawat militer khusus.

Christine E. Wormuth, mantan Menteri Angkatan Darat AS, menyebut operasi pengamanan dengan pasukan darat sebagai “sangat kompleks dan berisiko tinggi”. Di lokasi Isfahan saja, diperkirakan dibutuhkan hingga 1.000 personel militer, termasuk pasukan khusus seperti Resimen Ranger ke-75 yang bekerja sama dengan tim ahli nuklir. Tantangannya semakin besar karena pintu masuk terowongan kemungkinan tertimbun puing, sehingga diperlukan helikopter untuk mengangkut alat berat seperti ekskavator, bahkan pembangunan landasan sementara. “Operasi ini kemungkinan besar akan menimbulkan korban jiwa,” tambah Wormuth, yang kini memimpin Nuclear Threat Initiative.

Baca juga : Klaim Penguasaan Luhansk oleh Rusia Dipertanyakan: Diplomasi Trump Terancam Mandek di Tengah Serangan Drone Mematikan

Darya Dolzikova dari Royal United Services Institute menambahkan bahwa upaya “downblending” atau pencampuran uranium enriched dengan bahan kadar rendah di dalam wilayah Iran sendiri hampir mustahil dilakukan saat ini, karena infrastruktur pendukungnya telah rusak akibat konflik. Pilihan terbaik menurut banyak ahli adalah mengeluarkan seluruh stok ke luar negeri untuk kemudian diolah menjadi bahan sipil.

Scott Roecker, mantan pejabat National Nuclear Security Administration, mengingatkan pengalaman sukses operasi serupa di masa lalu, seperti Project Sapphire pada 1994 ketika AS bekerja sama dengan Kazakhstan untuk mengamankan 600 kilogram uranium kadar senjata. Pengalaman itu melahirkan unit pengemasan mobile Departemen Energi AS yang siap dikerahkan. “Kesepakatan dengan pemerintah Iran untuk menyerahkan bahan secara sukarela jauh lebih aman dan efektif daripada operasi militer paksa,” katanya.

Meski intelijen AS menyatakan memiliki keyakinan tinggi tentang lokasi stok uranium, tantangan tetap besar. Iran disebut-sebut telah mempersiapkan jebakan, umpan, dan strategi untuk mempersulit akses. Sementara itu, Grossi menekankan bahwa Iran memiliki kewajiban kontraktual untuk mengizinkan inspektur IAEA masuk, meski situasi keamanan saat ini membuatnya sulit dilakukan.

Dalam konteks yang lebih luas, operasi militer untuk merebut uranium berisiko tidak hanya memperpanjang konflik, tetapi juga menciptakan masalah proliferasi baru jika bahan tersebut tersebar atau jatuh ke tangan aktor tidak bertanggung jawab. Para analis non-proliferasi menyarankan agar diplomasi tetap menjadi prioritas utama, karena pendekatan kekerasan bisa menimbulkan konsekuensi jangka panjang yang sulit dikendalikan, baik dari segi keamanan regional maupun dampak lingkungan.

Situasi ini mengingatkan bahwa isu nuklir Iran bukan sekadar masalah teknis militer, melainkan juga tantangan diplomatik dan kemanusiaan yang memerlukan keseimbangan hati-hati antara pencegahan ancaman dan penghindaran bencana yang lebih besar.

Pewarta : Setiawan Wibisono

About the Author

Jurnalis RI News Portal

Author

Jurnalis RI News Portal adalah seorang wartawan yang menjunjung tinggi kode etik jurnalis dan profesiinal di bidangnya.

Visit Website View All Posts

Silahkan bagikan ke media anda ...

Post navigation

Previous: Klaim Penguasaan Luhansk oleh Rusia Dipertanyakan: Diplomasi Trump Terancam Mandek di Tengah Serangan Drone Mematikan
Next: Mario ke Luar Angkasa: Petualangan Galaxy yang Penuh Warna, tapi Tak Luput dari Jebakan Merchandise

Related Stories

Delapan Negara Arab dan Islam Kutuk Penghinaan Ben-Gvir terhadap Aktivis Flotilla Global Sumud

Delapan Negara Arab dan Islam Kutuk Penghinaan Ben-Gvir terhadap Aktivis Flotilla Global Sumud

Jurnalis RI News Portal Posted on 6 jam ago 0
Ledakan Hipersonik di Langit Kyiv

Ledakan Hipersonik di Langit Kyiv: Malam Paling Mengerikan dalam Empat Tahun Perang

Jurnalis RI News Portal Posted on 6 jam ago 0
Rubio di New Delhi

Rubio di New Delhi: Upaya Perbaikan Hubungan AS-India di Tengah Arus Ketegangan Global

Jurnalis RI News Portal Posted on 6 jam ago 0
Indonesia Bisa
C.I.A Official
#Advestaiment RI_News
#Iklan RI_News
#Iklan RI_News
Berita Video
Ucapan
Ucapan
Ucapan

Komentar

  1. Sugeng Rudianto mengenai Rehabilitasi Sawah Pasca Bencana di Agam Tembus 276 Hektare, Pemulihan Lahan Terus Dikejar hingga Akhir Mei
  2. Salmifitri Fitri mengenai Dorongan Revisi UU HKPD dari Pontianak: Wali Kota Edi Rusdi Kamtono Usulkan Tarif Parkir hingga 20% dan Kembalikan Rumah Kos sebagai Objek Pajak
  3. Sammy Sandinata mengenai Kapolsek Basa Ampek Balai Tapan Kunjungi Dapur MBG, Perkuat Sinergi Keamanan dan Pelayanan Sosial
  4. Adi tanjoeng mengenai Kapolsek Basa Ampek Balai Tapan Kunjungi Dapur MBG, Perkuat Sinergi Keamanan dan Pelayanan Sosial
  5. Tukino mengenai Tragedi Kelam di Balik Tembok Pesantren: Santri 14 Tahun Dicabuli Pimpinan Pondok Tahfidz di Payakumbuh

Berita Video

 

Berita video mengungkap fakta dengan visual live dan streaming.

Cara Instal Aplikasi RI News Portal di HP kalian ; Download file Zip apk RI News Portal, simpan dan ekstrak file Zip. Kemudian instal ..... enjoy RI News Portal sudah di HP Kalian.

Aplikasi RI News PortalUnduh
Aplikasi RI News PortalUnduh

RI NEWS-Media Portal Berita Republik Indonesia-Menyajikan informasi peristiwa yang teraktual dan terpercaya-Virnanda Creator Production adalah media pemberitaan yang berdedikasi tinggi untuk menyampaikan informasi berkualitas kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menjadi sumber informasi dunia yang akurat, cepat, dan terpercaya. Kami percaya bahwa informasi yang baik dapat mencerdaskan umat manusia dan menjaga kedamaian dunia. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan dunia yang terbebas dari pertikaian dan permusuhan.

Pos-pos Terbaru

  • Prabowo Gelorakan Swasembada Protein: Tambak Udang Modern Jadi Andalan Ketahanan Pangan Indonesia
  • Ahli Waris Berusia 87 Tahun Tempuh Jalur Hukum atas Sengketa Tanah Turun-Temurun di Kendal
  • Harapan Baru dari Sungai Sesayap: Hiu Gangga yang Nyaris Punah Ditemukan Kembali di Kalimantan
  • Miliaran Rupiah untuk Makan-Minuman Rapat DPRD Padangsidimpuan Dipertanyakan, Ketua WIB: Segera Diaudit !
  • Revitalisasi SMPN 2 Angkola Selatan: Dugaan Pemborosan APBN dan Ancaman Keselamatan Siswa di Balik Campuran Rangka Kayu Lapuk
Copyright © RI News Production | MoreNews by AF themes.