RI News. Santiago – Presiden José Antonio Kast menyatakan akan segera memperketat pengamanan di seluruh sekolah Chile menyusul dua insiden berbahaya yang terjadi dalam waktu singkat. Langkah ini diambil untuk merespons kekhawatiran publik yang semakin meningkat terhadap maraknya kekerasan di lingkungan pendidikan.
Pengumuman Kast disampaikan Senin (31 Maret 2026) di sebuah sekolah di ibu kota Santiago, hanya beberapa hari setelah serangan pisau mematikan di utara negara itu. “Kita harus mengambil langkah-langkah konkret untuk melindungi siswa kita,” tegas Kast. “Langkah yang dulu ditolak keras kini harus dipandang berbeda. Masyarakat telah berubah.”
Pada Jumat lalu, seorang siswa berusia 18 tahun melakukan serangan pisau di sebuah sekolah di wilayah utara Chile. Akibatnya, seorang pengawas sekolah berusia 59 tahun tewas dan empat orang lainnya—termasuk staf dan siswa—mengalami luka tusuk. Salah satu korban masih dalam kondisi kritis di rumah sakit, sementara pelaku telah ditahan.

Insiden tersebut langsung diikuti oleh peristiwa menggemparkan pada Senin pagi. Seorang siswa berusia 15 tahun di kota Curicó, sekitar 200 kilometer selatan Santiago, ditangkap saat berusaha memasuki sekolah dengan membawa pistol dan amunisi yang diselipkan di pinggang. Polisi berhasil menyita senjata tersebut sebelum pelaku sempat mengeluarkannya.
Mayor Juan Díaz Serrano dari Kepolisian Chile menjelaskan bahwa siswa tersebut tidak melakukan ancaman langsung maupun intimidasi terhadap siapa pun. Namun, kejadian ini semakin memperkuat urgensi tindakan pemerintah.
Kast, yang baru dilantik pada awal Maret sebagai pemimpin sayap kanan jauh, menyebut kedua peristiwa itu sebagai “kejadian yang terus mengejutkan seluruh masyarakat”. Ia mengumumkan rencana pemerintah untuk meningkatkan pengendalian akses ke sekolah, meski belum merinci bentuk lengkapnya.
Menteri Pendidikan María Paz Arzola menyambut baik langkah tersebut. Kementeriannya sedang menyiapkan rancangan undang-undang yang memberi wewenang kepada guru untuk memeriksa tas siswa. Selain itu, pemerintah akan mempercepat pemasangan detektor logam di seluruh unit pendidikan.
Meski serangan bersenjata masih tergolong jarang di Chile, negara ini memiliki catatan panjang aktivisme pelajar yang kerap berujung konfrontasi. Gelombang protes besar tahun 2011 dan 2019 menunjukkan betapa siswa mampu menjadi kekuatan perubahan sosial. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, aksi-aksi tersebut mulai bercampur dengan kekerasan yang lebih ekstrem.

Pada akhir 2024, lebih dari 30 siswa terluka akibat ledakan bom molotov rakitan dalam protes di Santiago. Sementara pada Mei 2025, tiga siswa menjadi korban penembakan di sebuah sekolah di wilayah Bío Bío—insiden yang disebut pihak berwenang sebagai penembakan sekolah pertama di Chile.
Dengan dua insiden dalam hitungan hari, pemerintahan Kast kini menghadapi tantangan besar: menyeimbangkan kebutuhan keamanan dengan semangat kebebasan yang selama ini menjadi ciri dunia pendidikan Chile. Kebijakan baru ini diharapkan tidak hanya mencegah tragedi berikutnya, tetapi juga membangun kembali rasa aman di kalangan siswa, guru, dan orang tua di seluruh negeri.
Pewarta : Setiawan Wibisono

