RI News. Semarang– Di tengah kegelapan tahun 1937, saat Stalin sedang gencar membersihkan musuh-musuhnya melalui Pembersihan Besar, seorang jaksa muda penuh idealisme tiba di sebuah penjara terpencil di Bryansk. Ia membawa sepucuk surat yang ditulis dengan darah. Dari sinilah “Two Prosecutors”, film terbaru sutradara Ukraina Sergei Loznitsa, membawa penonton masuk ke dalam lorong-lorong birokrasi totalitarian yang mencekam dan absurd.
Film berdurasi 118 menit ini mengikuti Alexander Kornyev (Aleksandr Kuznetsov), jaksa baru yang masih polos dan bersemangat. Begitu tiba di penjara, ia langsung menuntut bertemu dengan seorang tahanan bernama I.S. Stepniak (Aleksandr Filippenko), seorang mantan jaksa senior sekaligus Bolshevik yang tubuhnya penuh luka akibat penyiksaan.
Apa yang awalnya terlihat seperti misi mencari keadilan, perlahan berubah menjadi perjalanan memasuki perangkap yang semakin sempit. Setiap pintu yang dibuka, setiap koridor yang dilalui, dan setiap tatapan curiga para penjaga seolah mengingatkan: semakin dalam Alexander masuk, semakin jauh ia dari kebebasan dirinya sendiri.

Loznitsa, yang dikenal lewat film-film dokumenternya yang tajam tentang kekerasan negara, kembali ke fiksi setelah tujuh tahun. Ia menyusun “Two Prosecutors” seperti sebuah parable kelam yang rapi dan timeless. Strukturnya cerdik: perjalanan Alexander ke penjara dan kemudian ke Moskow untuk melaporkan ke jaksa agung Andrey Vyshinsky digambarkan seperti cermin yang menyeramkan — dua sisi yang sama mengerikannya.
Penonton diajak merasakan betapa lambat dan beratnya sistem totalitarian bekerja. Bukan melalui aksi kekerasan besar-besaran, melainkan lewat dialog panjang, tatapan dingin, dan prosedur birokrasi yang membosankan sekaligus mematikan. Di sini, kebenaran bukanlah sesuatu yang dicari, melainkan ancaman yang harus diredam.
Film ini diadaptasi dari novella karya Georgy Demidov, seorang dokter yang sendiri menghabiskan 14 tahun di kamp gulag Soviet dan baru menerbitkan karyanya secara anumerta pada 2009. Loznitsa sendiri bukan orang asing dengan tema ini. Sebagai sutradara Ukraina yang kini tinggal di Berlin, ia telah lama mengamati bagaimana kekuasaan negara bisa dengan mudah menghancurkan nyawa manusia atas nama “stabilitas” dan “keamanan”.
Yang membuat “Two Prosecutors” terasa sangat relevan hari ini adalah kemampuannya berbicara tidak hanya tentang masa Stalin, tapi juga tentang mekanisme kekuasaan di mana pun dan kapan pun. Ketika idealisme bertemu dengan mesin birokrasi yang rakus, siapa yang biasanya kalah? Jawabannya hampir selalu sama: mereka yang berani bertanya.
Akting Aleksandr Kuznetsov sebagai jaksa muda yang perlahan kehilangan keyakinannya sangat meyakinkan. Sementara Aleksandr Filippenko sebagai Stepniak memberikan penampilan yang kuat dan penuh luka, baik secara fisik maupun emosional. Sinematografi dan desain produksi film ini juga berhasil menciptakan suasana pengap yang membuat penonton ikut merasa terjebak di dalamnya.

“Two Prosecutors” bukan film yang menghibur dalam arti biasa. Ia dingin, perlahan, dan penuh dengan absurditas kelam yang khas era Soviet. Namun justru karena itu, film ini berhasil menjadi peringatan yang tajam: sekali sistem korup dan represif dibiarkan mengakar, maka keberanian seorang individu saja sering kali tidak cukup untuk mengubahnya.
Bagi yang menyukai drama sejarah politik yang cerdas dan berani, “Two Prosecutors” adalah salah satu film penting tahun ini. Sebuah pengingat bahwa sejarah kelam masa lalu bisa saja berulang — jika kita lupa cara membaca tanda-tandanya.
Durasi: 118 menit Bahasa: Rusia dan Ukraina (dengan subtitle) Sutradara: Sergei Loznitsa Pemain utama: Aleksandr Kuznetsov, Aleksandr Filippenko, Anatoliy Beliy
Pewarta : Vie

