RI News. Jakarta – Pertahanan udara Rusia berhasil menjatuhkan 389 drone serang Ukraina dalam satu malam, serangan drone terbesar yang dilaporkan sejak invasi Rusia ke Ukraina lebih dari empat tahun lalu. Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan serangan tersebut terjadi pada Selasa malam hingga Rabu dini hari (25-26 Maret 2026) dan menjangkau 13 wilayah Rusia serta Semenanjung Krimea.
Drone-drone Ukraina dicegat di berbagai wilayah, termasuk wilayah Leningrad di utara Moskow. Gubernur Alexander Drozdenko melaporkan 56 drone ditembak jatuh di wilayahnya, disertai kebakaran di pelabuhan Laut Baltik Ust-Luga. Pelabuhan tersebut merupakan salah satu fasilitas impor dan ekspor energi penting Rusia.
Serangan ini menandai kemajuan signifikan kemampuan drone jarak jauh buatan dalam negeri Ukraina. Berbeda dengan serangan sebelumnya, kali ini Ukraina mampu menjangkau target strategis di wilayah barat laut Rusia dengan skala yang lebih masif.

Hanya sehari sebelumnya, Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap wilayah sipil Ukraina. Dalam kurun 24 jam, Rusia dilaporkan melepaskan hampir 1.000 drone dan 34 rudal. Serangan yang biasanya dilakukan pada malam hari itu kali ini berlanjut hingga siang hari, menjadikannya salah satu serangan udara terbesar sepanjang perang.
Akibatnya, setidaknya enam warga sipil tewas dan sekitar 50 orang terluka di berbagai wilayah Ukraina. Di kota Kharkiv, serangan drone Rusia pada siang hari melukai sedikitnya sembilan orang di kawasan pemukiman. UNESCO menyatakan “sangat prihatin” karena salah satu situs Warisan Dunia di kota Lviv, Ukraina barat, turut menjadi sasaran.
Di wilayah perbatasan Belgorod, serangan rudal Ukraina merusak infrastruktur energi, menyebabkan pemadaman listrik, air, dan pemanas bagi penduduk setempat.
Serangan drone Ukraina yang meluas hingga wilayah Leningrad menimbulkan perhatian di negara-negara Baltik. Estonia, Latvia, dan Lithuania melaporkan kejadian drone jatuh di wilayah mereka, meski ketiganya menyatakan drone tersebut bukan ditujukan ke negara mereka. Satu insiden di Estonia melibatkan drone yang menyenggol cerobong pembangkit listrik, meski tidak mengganggu produksi energi.
Di Moldova, yang berbatasan dengan Ukraina di barat daya, otoritas setempat meminta warga menghemat listrik setelah serangan Rusia memutus jalur transmisi listrik penting antara Moldova dan Rumania.
Eskalasi serangan udara dua arah ini terjadi ketika pembicaraan damai yang dimediasi Amerika Serikat mengalami jeda. Perhatian Washington saat ini tersita oleh konflik di Iran, sementara Ukraina bersiap menghadapi kemungkinan ofensif musim semi dari pasukan Rusia yang lebih unggul dalam jumlah.

Analis militer melihat serangan drone Ukraina yang semakin intensif sebagai upaya Kiev untuk mengganggu logistik dan infrastruktur energi Rusia, sekaligus sebagai bentuk perlawanan asimetris menghadapi superioritas udara Moskow. Namun, serangan balasan Rusia yang masif menunjukkan bahwa eskalasi udara masih menjadi pola utama dalam konflik yang telah memasuki tahun kelima ini.
Hingga berita ini ditulis, belum ada komentar resmi dari pihak Ukraina mengenai jumlah drone yang diluncurkan dalam operasi semalam tersebut.
Pewarta : Setiawan Wibisono

