RI News. Dubai, United Arab Emirates — Di tengah meningkatnya ketegangan militer, Iran secara tegas menolak usulan gencatan senjata 15 poin yang disampaikan Amerika Serikat melalui perantara Pakistan. Penolakan ini disertai dengan peluncuran serangan baru terhadap Israel dan beberapa negara Teluk Arab, termasuk insiden yang memicu kebakaran besar di tangki bahan bakar Bandara Internasional Kuwait.
Menurut laporan dari televisi negara Iran, seorang pejabat senior menyatakan bahwa Teheran hanya akan menghentikan permusuhan apabila syarat-syaratnya sendiri terpenuhi. “Iran akan mengakhiri perang ini ketika kami memutuskan dan ketika kondisi kami dipenuhi,” demikian pernyataan yang disiarkan Press TV. Iran kemudian mengajukan kontra-usulan lima poin yang mencakup penghentian pembunuhan terhadap pejabatnya, jaminan tidak adanya serangan di masa depan, pembayaran ganti rugi perang, serta pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz.
Proposal Amerika yang ditolak itu mencakup keringanan sanksi, pembatasan program nuklir Iran, pengendalian rudal balistik, serta pembukaan kembali Selat Hormuz – jalur vital yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Seorang pejabat Mesir yang terlibat dalam mediasi menambahkan bahwa usulan tersebut juga menuntut pembatasan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Namun, bagi Teheran, beberapa poin tersebut dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional dan keunggulan strategisnya.

Sementara itu, Israel melanjutkan gelombang serangan udara ke Tehran, termasuk target pusat pengembangan kapal selam di Isfahan. Di sisi lain, Amerika Serikat memperkuat kehadiran militernya dengan mengerahkan pasukan payung dari Divisi Airborne ke-82 serta ribuan Marinir tambahan ke wilayah Timur Tengah. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa pembicaraan masih berlangsung dan bersifat produktif, meskipun pejabat Iran membantah adanya negosiasi aktif. Presiden Donald Trump sendiri menyatakan keyakinan bahwa pihak lawan “ingin mencapai kesepakatan”.
Penolakan keras Iran ini memperburuk situasi kemanusiaan dan ekonomi di kawasan. Jumlah korban tewas di Iran telah melampaui 1.500 orang, sementara di Lebanon mencapai hampir 1.100 jiwa akibat operasi Israel terhadap Hizbullah. Serangan Iran juga menyebabkan korban di pihak Israel, pasukan AS, serta warga sipil di berbagai negara Teluk. Sirene peringatan rudal terus berbunyi di Israel, Bahrain, dan Arab Saudi, yang melaporkan penghancuran beberapa drone di wilayah kaya minyaknya.
Baca juga : Dalem Kopi: Warung Rasa Restoran yang Menghidupkan Kembali Kehangatan Budaya Jawa di Trenggalek
Dari sisi ekonomi, pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz oleh Iran telah mendorong harga minyak mentah Brent sempat mendekati 120 dolar AS per barel. Meskipun sempat turun setelah kabar potensi negosiasi, harga masih berada di kisaran 100 dolar per barel – naik sekitar 35 persen sejak pecahnya konflik. Para ekonom memperingatkan bahwa jika gangguan ini berlanjut, dampaknya akan meluas ke kenaikan harga pangan, energi, serta suku bunga pinjaman di banyak negara, termasuk Indonesia sebagai importir minyak bersih.
Analis hubungan internasional menilai situasi ini mencerminkan kegagalan diplomasi awal dan semakin dalamnya jurang kepercayaan antara Iran dan Barat. Dua kali di bawah pemerintahan Trump, serangan AS terjadi saat proses diplomatik sedang berlangsung, sehingga memperkuat sikap curiga Teheran. Sementara mediator masih berupaya mendorong pertemuan langsung mungkin akhir pekan ini di Pakistan, para pengamat mempertanyakan siapa di pihak Iran yang memiliki otoritas nyata untuk bernegosiasi, mengingat Israel terus mengancam para pemimpin senior Iran.

Konflik ini tidak hanya menguji keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, tetapi juga berpotensi menjadi beban politik domestik bagi pemerintahan Trump, karena survei menunjukkan mayoritas warga Amerika khawatir dengan biaya energi yang melonjak dan memandang eskalasi militer telah berlebihan.
Situasi masih sangat dinamis. Setiap perkembangan diplomatik atau militer selanjutnya akan sangat menentukan apakah kawasan ini menuju de-eskalasi atau malah memasuki babak konflik yang lebih luas dan destruktif.
Pewarta : Setiawan Wibisono

