RI News. Washington – Di tengah kekacauan antrean panjang di bandara-bandara Amerika Serikat akibat pemadaman pemerintahan parsial, ratusan petugas Immigration and Customs Enforcement (ICE) dikerahkan untuk membantu mengurai kemacetan. Namun langkah ini justru memicu perdebatan sengit: apakah kehadiran mereka benar-benar meringankan beban, atau malah menambah ketegangan baru bagi para penumpang?
Berbeda dengan penempatan petugas keamanan biasa, ICE bukanlah lembaga yang terlatih dalam keselamatan penerbangan. Mereka lebih dikenal sebagai garda terdepan penegakan hukum imigrasi yang kontroversial di era Presiden Donald Trump. Pakar industri penerbangan menilai, meski bisa membantu tugas ringan seperti mengawasi jalur keluar, petugas ICE tidak mungkin menggantikan peran inti Transportation Security Administration (TSA) dalam memeriksa bagasi dan melakukan pemeriksaan fisik.
Keith Jeffries, mantan kepala keamanan TSA di Bandara Internasional Los Angeles, menegaskan keterbatasan itu dengan tegas. “Mereka tidak memiliki pelatihan berbulan-bulan seperti petugas TSA. Mengoperasikan mesin X-ray atau pat-down bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari dalam sekejap,” ujarnya. Menurut Jeffries, satu-satunya kontribusi realistis adalah membantu mengatur kerumunan, bukan menjadi pengganti sejati.

Zach Griff, pengamat perjalanan udara, menyambut potensi bantuan tersebut dengan catatan besar. “Saya agak optimis mereka bisa membantu, tapi ini jelas bukan solusi permanen,” katanya. Griff menambahkan bahwa pemeriksaan bagasi merupakan inti pekerjaan TSA yang membutuhkan keahlian khusus, sehingga integrasi ICE hanya bersifat sementara dan terbatas.
Di sisi lain, kehadiran petugas ICE yang biasanya bersenjata dan sering menggunakan masker saat bertugas justru dikhawatirkan memicu ketidaknyamanan publik. Trump sendiri sempat menyebut bandara sebagai “wilayah subur” untuk operasi imigrasi, meski kemudian menegaskan bahwa tugas mereka kali ini murni membantu mengurai antrean. Ia juga meminta petugas ICE melepas masker saat bertugas di bandara, berbeda dengan saat menangkap “kriminal berat”.
Kritik paling keras datang dari kubu Demokrat. Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer menyatakan, “Di mana pun ICE muncul, masalah selalu ikut muncul. Bandara kemungkinan besar tidak akan menjadi pengecualian.” Demokrat menolak mendanai Departemen Keamanan Dalam Negeri sebelum ada jaminan bahwa petugas ICE tidak menggunakan masker dan tidak ditempatkan di bandara.
Baca juga : Tragedi Putumayo: Pesawat Hercules Jatuh Setelah Lepas Landas, Satu Nyawa Melayang dan 77 Tentara Terluka
Para analis menekankan bahwa penempatan ICE hanyalah tambal sulam sementara. Solusi sejati, menurut Jeffries, adalah mengakhiri kebuntuan politik di Kongres agar Departemen Keamanan Dalam Negeri kembali mendapatkan dana penuh. “Tidak ada pengganti yang sesungguhnya. Bahkan ICE sendiri pun menyadari hal itu,” pungkasnya.
Hingga kini, antrean panjang masih terjadi di sejumlah bandara besar, sementara kehadiran ICE terus menjadi sorotan: apakah mereka akan membawa ketenangan, atau justru menjadi sumber keributan baru di tengah suasana perjalanan yang sudah tegang. Situasi ini menjadi pengingat betapa rapuhnya sistem keamanan penerbangan ketika politik memasuki wilayah operasional.
Pewarta : Setiawan Wibisono

