RI News. Padangsidimpuan – Warga Kota Padangsidimpuan kembali dibuat resah akibat kelangkaan Tabung Gas Elpiji 3 kg yang selama ini menjadi andalan rumah tangga dan pelaku usaha mikro. Sejak sepekan terakhir, masyarakat harus berburu tabung gas dari siang hingga menjelang subuh di berbagai pangkalan, namun stok sering kali nihil.
Kenaikan harga pun tak terhindarkan. Tabung yang semestinya dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) kini meroket hingga Rp28.000 hingga Rp30.000 per tabung. Akibatnya, aktivitas memasak sehari-hari terganggu. Banyak ibu rumah tangga, pedagang gorengan, dan tukang soto keliling terpaksa menghentikan usaha karena kompor tidak bisa dinyalakan.
“Dari kemarin saya keliling lima pangkalan, semuanya kosong. Anak saya belum sarapan, kompor mati total,” ujar Siti, warga Kelurahan Wek 1, sambil menggendong tabung kosongnya, Senin (11/5/2026).

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi di Padangsidimpuan. Warga mencatat bahwa kelangkaan Elpiji kerap berulang, terutama menjelang hari-hari besar atau saat distribusi pasokan mengalami gangguan. Namun, respons pemerintah kota dinilai belum memadai. Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kota (Pemko) Padangsidimpuan belum mengeluarkan keterangan resmi maupun langkah konkret untuk mengatasi masalah tersebut.
Kelangkaan gas subsidi ini memberikan dampak berantai. Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, Elpiji 3 kg merupakan pilihan utama karena harganya yang terjangkau. Sementara bagi pelaku usaha kecil seperti pedagang makanan, ketiadaan gas berarti hilangnya pendapatan harian. Beberapa warga terpaksa beralih ke kayu bakar atau minyak tanah, meski keduanya dianggap kurang praktis dan lebih mahal dalam jangka panjang.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang ketahanan distribusi energi bersubsidi di tingkat kota. Jika pasokan barang kebutuhan dasar seperti gas LPG saja sulit dikendalikan, tantangan menjamin kesejahteraan masyarakat secara lebih luas akan semakin kompleks.
Warga berharap pemerintah daerah segera berkoordinasi dengan distributor dan Pertamina untuk memulihkan pasokan secara cepat dan transparan. “Kami tidak mau hanya janji-janji. Gas ini kebutuhan sehari-hari, bukan barang mewah,” tambah Siti.
Pewarta: Indra Saputra

