RI News. Yerusalem — Dalam rentetan eskalasi yang dimulai sejak akhir pekan lalu, front Lebanon kembali menjadi titik panas baru di tengah gejolak perang yang lebih luas melibatkan Iran. Serangan balasan Hizbullah terhadap Israel—yang dipicu oleh pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei—telah memaksa Israel memperluas operasi darat di Lebanon selatan, sekaligus membuka perdebatan sengit tentang masa depan stabilitas negara yang rapuh itu.
Pada hari Selasa, pasukan Israel mengumumkan penguasaan sejumlah posisi strategis tambahan di wilayah selatan Lebanon, melampaui lima pos militer yang telah mereka pertahankan sejak gencatan senjata November 2024. Langkah ini diklaim sebagai upaya preventif untuk memperkuat pertahanan kota-kota perbatasan Israel utara dari potensi infiltrasi dan tembakan roket. Evakuasi massal diberlakukan terhadap puluhan desa di sepanjang perbatasan, memaksa puluhan ribu warga Lebanon meninggalkan rumah mereka dalam waktu singkat.
Analis militer menilai manuver darat ini bukan sekadar respons defensif, melainkan sinyal potensi ekspansi operasi yang lebih dalam—mirip dengan invasi skala besar tahun 2024 yang sempat melemahkan struktur komando Hizbullah secara signifikan. Kelompok yang didukung Iran itu memang telah kehilangan banyak pemimpin senior dan ribuan kombatan, sehingga kemampuannya kini jauh dari puncak kekuatan dulu. Namun, serangan drone dan roket kecil yang diluncurkan dalam dua hari terakhir menunjukkan bahwa Hizbullah masih mampu melakukan aksi simbolis yang memprovokasi respons keras.

Di sisi lain, pemerintah Lebanon menghadapi dilema eksistensial. Perdana Menteri Nawaf Salam secara tegas mengutuk tindakan Hizbullah sebagai langkah “tidak bertanggung jawab” yang menyeret negara ke dalam konflik regional yang tidak diinginkan mayoritas rakyat Lebanon. Instruksi darurat dikeluarkan kepada angkatan bersenjata Lebanon untuk mencegah segala aktivitas militer dari wilayah negara, termasuk upaya percepatan penyitaan senjata Hizbullah di utara Sungai Litani—meski efektivitas langkah ini masih dipertanyakan mengingat pengaruh historis kelompok tersebut.
Korban jiwa di Lebanon terus bertambah akibat gelombang serangan udara Israel yang menyasar berbagai wilayah, termasuk pinggiran selatan Beirut—basis tradisional pendukung Hizbullah. Data sementara dari otoritas kesehatan setempat mencatat puluhan korban tewas dan ratusan luka-luka sejak Senin malam. Badan pengungsi PBB melaporkan hampir 30.000 orang telah terdaftar di tempat penampungan sementara, sementara ribuan lainnya mengungsi secara mandiri ke sekolah, masjid, bahkan ke wilayah Suriah tetangga.
Pejabat senior Hizbullah menegaskan bahwa “fase kesabaran telah usai” dan menyatakan kesiapan menghadapi “perang terbuka” jika Israel terus melancarkan agresi. Pernyataan ini mencerminkan upaya mempertahankan kredibilitas di mata pendukungnya, meski dalam kondisi yang jauh lebih lemah dibandingkan sebelumnya.
Eskalasi ini tidak hanya mengancam Lebanon yang sudah terpuruk secara ekonomi dan politik, tetapi juga memperumit dinamika regional pasca-pembunuhan Khamenei. Dengan Hizbullah yang kini terlibat—meski secara terbatas—konflik berpotensi meluas menjadi front multi-arah, di mana Lebanon sekali lagi menjadi korban sampingan dari persaingan kekuatan besar.

Sementara komunitas internasional mendesak pengendalian diri, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ruang diplomasi semakin sempit. Pertanyaan krusial kini: apakah operasi Israel akan terbatas pada “lapisan keamanan tambahan”, atau justru menjadi awal dari babak baru pendudukan parsial yang dapat mengubah peta geopolitik Lebanon untuk waktu lama?
Konflik ini mengingatkan kita pada siklus kekerasan yang berulang di perbatasan utara Israel, di mana gencatan senjata sering kali hanya menjadi jeda sementara sebelum ledakan berikutnya. Bagi rakyat Lebanon yang lelah perang, hari-hari mendatang membawa ketidakpastian yang semakin dalam.
Pewarta : Setiawan Wibisono

