RI News. Jakarta – Gelombang serangan udara berkelanjutan yang dimulai akhir Februari 2026, pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya menyasar instalasi militer konvensional Iran, tetapi juga secara sistematis menghantam jantung aparat keamanan internal rezim—kantor polisi, pusat penahanan, markas intelijen, dan basis milisi Basij. Para pengamat pertahanan menilai langkah ini bukan sekadar operasi militer biasa, melainkan upaya strategis untuk menciptakan kekosongan keamanan yang dapat membuka peluang bagi rakyat Iran sendiri untuk menantang kekuasaan yang telah berlangsung puluhan tahun.
Farzin Nadimi, analis pertahanan senior dari The Washington Institute for Near East Policy yang khusus memantau urusan Iran, menekankan bahwa salah satu sasaran utama operasi ini adalah “membongkar mesin operasional rezim”. Menurutnya, gedung-gedung yang menjadi saksi penahanan, penyiksaan, dan penindasan terhadap ribuan demonstran selama gelombang protes anti-pemerintah—terutama pada Januari lalu—kini menjadi simbol kehancuran. “Bagi banyak warga Iran, melihat bangunan-bangunan itu terbakar bukan hanya kerusakan fisik, melainkan bagian dari proses peluruhan negara polisi yang menindas,” ujar Nadimi.
Di antara target yang paling menonjol adalah markas Thar-Allah, unit elite Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) di Teheran yang selama ini bertanggung jawab atas pertahanan ibu kota dan pengendalian kerusuhan massal. Video yang dirilis militer Israel menunjukkan serangan presisi terhadap fasilitas ini, yang menurut sumber intelijen Barat telah menjadi pusat koordinasi antara intelijen, polisi anti huru-hara, dan milisi Basij—kelompok paramiliter beranggotakan sekitar satu juta orang yang kerap dikerahkan untuk membubarkan demonstrasi dengan kekerasan ekstrem.

Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel, Letnan Kolonel Nadav Shoshani, menyatakan bahwa operasi ini menyasar “ancaman militer dan teror terhadap warga sipil kami”, sekaligus “elemen-elemen aparat keamanan Iran yang bertanggung jawab menekan rakyatnya sendiri”. Pernyataan ini mencerminkan pergeseran narasi: dari sekadar pertahanan diri menjadi intervensi yang secara terbuka mendukung perubahan dari dalam.
Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyebut serangan ini sebagai “kesempatan bersejarah” bagi rakyat Iran untuk mengakhiri pemerintahan mereka. Namun, keduanya belum memberikan penjelasan konkret mengenai bagaimana warga sipil tanpa senjata dapat menghadapi sisa-sisa pasukan keamanan yang masih bersenjata lengkap. Pertanyaan ini menjadi krusial di tengah laporan tentang blackout internet nasional, pemblokiran jalan raya di Teheran, dan upaya rezim untuk mempertahankan “stabilitas bersenjata” melalui pos pemeriksaan dan mobilisasi Basij.
Baca juga : Pembunuhan Khamenei: China di Persimpangan Antara Loyalitas Strategis dan Kepentingan Ekonomi Global
Para analis menilai bahwa dampak simbolis dari penghancuran pusat-pusat penindasan ini jauh lebih besar daripada kerusakan materiil semata. Bagi korban protes masa lalu—yang mengalami penahanan sewenang-wenang, pemukulan, dan penganiayaan—serangan ini dapat menjadi pemicu emosional yang kuat. Namun, risiko juga mengintai: jika kekosongan keamanan tidak diisi oleh gerakan sipil yang terorganisir, kekacauan justru bisa memperkuat faksi garis keras di dalam rezim atau memicu perpecahan internal yang lebih dalam.
Hingga kini, belum ada tanda jelas bahwa serangan-serangan ini telah memicu gelombang pemberontakan massal di jalanan Iran. Rezim tampaknya masih mampu mempertahankan kendali melalui pemadaman komunikasi dan penempatan pasukan. Meski demikian, strategi pelemahan aparat keamanan internal ini menandai babak baru dalam konflik: bukan hanya perang antarnegara, melainkan upaya sadar untuk meruntuhkan fondasi represi dari dalam, sembari menanti apakah rakyat Iran akan mengambil momentum tersebut.
Konflik ini terus berkembang dengan cepat, dan implikasi jangka panjangnya—baik bagi stabilitas regional maupun masa depan Iran pasca-rezim saat ini—masih jauh dari jelas.
Pewarta : Setiawan Wibisono

