Skip to content
04/03/2026
  • Facebook
  • Youtube
  • Instagram
RI NEWS

RI NEWS

PORTAL BERITA INDONESIA

baner iklan
Primary Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
    • IstanaBerita seputar Istana
    • PemerintahanBerita seputar Pemerintahan
    • Politik
    • Parlemen
  • Buser Berita
    • TNI/PolriBerita seputar TNI dan Polri
    • KPKBerita seputar KPK
    • Hukum/PolitikBerita seputar Hukum
  • Regional
    • AcehBerita Seputar Aceh
    • DKI JakartaBerita seputar DKI Jakarta
    • Jawa BaratBerita seputar Jawa Barat
    • Jawa TengahBerita seputar Jawa Tangah
    • Jawa TimurBerita seputar Jawa Timur
    • YogyakartaBerita seputar Yogyakarta
    • BaliBerita Seputar Bali
    • BantenBerita seputar Sumatera
    • Nusa TenggaraBerita seputar Nusa Tenggara
    • SumateraBerita seputar Sumatera
    • KalimantanBerita seputar Kalimantan
    • PapuaBerita seputar Papua
    • SulawesiBerita seputar Sulawesi
    • MalukuBerita seputar Maluku
  • Olah Raga
  • Ilmu PengetahuanBerita seputar Ilmu Penegetahuan
  • Budaya
  • Hiburan
  • BisnisBerita seputar Bisnis
  • Redaksi
  • Privacy Policy
Live
  • Home
  • World
  • Krisis Mata Uang dan Gelombang Protes: Titik Balik Potensial bagi Republik Islam Iran

Krisis Mata Uang dan Gelombang Protes: Titik Balik Potensial bagi Republik Islam Iran

Jurnalis RI News Portal Posted on 2 bulan ago 3 min read
Krisis Mata Uang dan Gelombang Protes- Titik Balik Potensial bagi Republik Islam Iran
Silahkan bagikan ke media anda ...

RI News Portal. DUBAI, United Arab Emirates 12 Januari 2026 — Gelombang demonstrasi nasional yang meletus sejak akhir Desember 2025 terus mengguncang Iran, menandai salah satu tantangan terbesar terhadap otoritas Republik Islam sejak gerakan “Woman, Life, Freedom” pada 2022–2023. Awalnya dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial Iran yang mencapai level ekstrem di atas 1,45 juta rial per dolar AS di pasar gelap, protes ini dengan cepat meluas menjadi ekspresi kemarahan yang lebih luas terhadap tata kelola ekonomi, korupsi sistemik, dan legitimasi politik rezim teokratis.

Menurut data yang dikumpulkan oleh kelompok pemantau hak asasi manusia berbasis luar negeri yang mengandalkan verifikasi lintas sumber di dalam negeri, korban jiwa akibat operasi penindasan keamanan telah mencapai setidaknya 538 orang hingga 11 Januari 2026, dengan rincian sekitar 490 demonstran sipil dan 48 personel pasukan keamanan. Lebih dari 10.600 orang dilaporkan ditahan dalam dua minggu terakhir. Angka-angka ini belum dapat diverifikasi secara independen karena pemadaman internet nasional dan pemutusan jalur komunikasi yang masih berlangsung, yang secara efektif menciptakan kabut informasi dan mempersulit pemantauan dari luar.

Pemicu langsung krisis ini adalah devaluasi rial yang tajam—mata uang telah kehilangan sekitar 80–90 persen nilainya dalam setahun terakhir—akibat kombinasi sanksi internasional berkepanjangan, dampak perang singkat dengan Israel pada Juni 2025 yang menghancurkan sebagian infrastruktur pertahanan udara, serta pengelolaan ekonomi negara yang semakin bergantung pada impor di tengah cadangan devisa yang menipis. Inflasi pangan mencapai tingkat tahunan mendekati 70 persen, sementara harga barang impor berfluktuasi harian, melumpuhkan sektor perdagangan tradisional seperti pasar besar (bazaar) di Teheran dan kota-kota besar lainnya.

Protes yang awalnya bersifat ekonomi dengan cepat bertransformasi menjadi tuntutan politik. Di berbagai kota, dari Teheran utara hingga Mashhad di timur laut dan Kerman di tenggara, warga menggunakan metode demonstrasi yang fleksibel: berkumpul singkat di lokasi berbeda, memanfaatkan sinyal satelit untuk mengunggah rekaman, serta simbol perlawanan seperti kembang api, pemukulan benda logam, dan lampu ponsel menyala di malam hari. Seruan seperti “Mati untuk diktator” dan dukungan terhadap mantan Putra Mahkota Reza Pahlavi mulai terdengar, menunjukkan pergeseran dari keluhan ekonomi menuju penolakan mendasar terhadap sistem velayat-e faqih (kepemimpinan ahli hukum agama).

Di pihak rezim, respons menunjukkan perpecahan internal yang halus namun signifikan. Presiden Masoud Pezeshkian, yang dikenal sebagai figur relatif reformis, sempat menyatakan kesiapan berdialog dan mengakui “kekhawatiran sah” masyarakat terkait harga melonjak dan inflasi. Namun dalam pernyataan terbaru yang disiarkan televisi negara, ia mengadopsi nada lebih keras, membedakan antara “rakyat yang punya keluhan” dengan “kelompok perusuh” yang dituduh ingin menghancurkan masyarakat. Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang berusia 86 tahun, secara tegas menyebut demonstran sebagai “perusak” dan “agen asing” yang berupaya menyenangkan kepentingan luar, terutama Amerika Serikat.

Baca juga : Bayern Munich Hancurkan Wolfsburg 8-1 dalam Pesta Gol Pasca-Pemanasan Musim Dingin

Ketegangan regional semakin memperumit situasi. Ketua Majelis Mohammad Baqer Qalibaf, tokoh garis keras, secara terbuka menyatakan bahwa militer AS dan Israel—termasuk pangkalan dan kapal di kawasan—akan menjadi “sasaran sah” jika terjadi intervensi untuk melindungi demonstran. Ancaman ini disampaikan di tengah rapat parlemen yang diwarnai slogan “Mati untuk Amerika”. Meski demikian, kemampuan Iran untuk melancarkan serangan balasan dipertanyakan setelah kerusakan signifikan pada sistem pertahanan udaranya tahun lalu.

Dari perspektif internasional, Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungan terbuka terhadap demonstran melalui pernyataan daring, sementara Israel—yang dipimpin Benjamin Netanyahu—memantau situasi dengan cermat dan menyatakan kekaguman atas “keberanian warga Iran”. Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan keterkejutan atas laporan kekerasan dan mendesak penggunaan pengendalian maksimal serta pemulihan komunikasi.

Secara struktural, krisis saat ini mencerminkan akumulasi kegagalan jangka panjang: sanksi yang berkepanjangan, pengelolaan sumber daya negara yang rentan korupsi, serta ketidakmampuan rezim beradaptasi dengan tekanan ekonomi pasca-konflik regional. Bagi banyak pengamat, gelombang protes ini bukan sekadar respons terhadap nilai tukar, melainkan ujian eksistensial bagi fondasi Republik Islam—apakah sistem teokrasi yang berusia hampir setengah abad masih mampu mempertahankan legitimasi di hadapan masyarakat yang semakin kehilangan harapan ekonomi dan politik.

Hingga kini, dinamika di lapangan tetap cair: penindasan berlanjut, namun ketahanan demonstran juga terlihat. Masa depan Iran bergantung pada apakah rezim mampu meredam kemarahan melalui konsesi ekonomi yang berarti, atau justru mempercepat eskalasi yang dapat mengubah peta politik kawasan.

Pewarta : Setiawan Wibisono

About the Author

Jurnalis RI News Portal

Author

Jurnalis RI News Portal adalah seorang wartawan yang menjunjung tinggi kode etik jurnalis dan profesiinal di bidangnya.

Visit Website View All Posts

Silahkan bagikan ke media anda ...

Post navigation

Previous: Bayern Munich Hancurkan Wolfsburg 8-1 dalam Pesta Gol Pasca-Pemanasan Musim Dingin
Next: Protes Massal di Iran Memasuki Pekan Ketiga: Israel Memilih Sikap Waspada, Bukan Provokasi

Related Stories

Lebanon di Ambang Jurang
3 min read

Lebanon di Ambang Jurang: Kembalinya Hizbullah ke Medan Perang Membuka Babak Baru Ketidakpastian Regional

Jurnalis RI News Portal Posted on 22 jam ago 0
Serangan Gabungan AS-Israel ke Aparat Keamanan Iran
3 min read

Serangan Gabungan AS-Israel ke Aparat Keamanan Iran: Membongkar Pilar Penindasan dan Memantik Api Pemberontakan?

Jurnalis RI News Portal Posted on 22 jam ago 0
China di Persimpangan Antara Loyalitas Strategis dan Kepentingan Ekonomi Global
3 min read

Pembunuhan Khamenei: China di Persimpangan Antara Loyalitas Strategis dan Kepentingan Ekonomi Global

Jurnalis RI News Portal Posted on 22 jam ago 0
#Advestaiment RI_News
#Iklan RI_News
#Iklan RI_News
Berita Video

Komentar

  1. Sami.s mengenai Dugaan Penyalahgunaan Wewenang: Oknum Wali Nagari Diduga Jual Tanah Ulayat Air Haji Tanpa Persetujuan Masyarakat Adat
  2. Hermanto mengenai Pemerintah Nigeria Meluncurkan Operasi Militer Baru di Tengah Lonjakan Kekerasan: Serangan Mematikan di Kwara dan Pembebasan Puluhan Warga Kristen
  3. Sugeng Rudianto mengenai GAPSIDO Gelar Kopdar, Ajak Pemuda Jaga Kamtibmas Jelang Ramadhan
  4. Mayang Sari mengenai Aksi Keberanian Pelajar SMK Berujung Tragedi: Terseret Arus Banjir Saat Menolong Pengendara Motor
  5. Tukino gaul gaul mengenai Tim Marching Band SMPN 1 Padangsidimpuan Siap Pertahankan Gelar Juara Umum di Piala Sultan Deli

Berita Video

 

Berita video mengungkap fakta dengan visual live dan streaming.

Cara Instal Aplikasi RI News Portal di HP kalian ; Download file Zip apk RI News Portal, simpan dan ekstrak file Zip. Kemudian instal ..... enjoy RI News Portal sudah di HP Kalian.

Aplikasi RI News PortalUnduh
Aplikasi RI News PortalUnduh

RI NEWS-Media Portal Berita Republik Indonesia-Menyajikan informasi peristiwa yang teraktual dan terpercaya-Virnanda Creator Production adalah media pemberitaan yang berdedikasi tinggi untuk menyampaikan informasi berkualitas kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menjadi sumber informasi dunia yang akurat, cepat, dan terpercaya. Kami percaya bahwa informasi yang baik dapat mencerdaskan umat manusia dan menjaga kedamaian dunia. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan dunia yang terbebas dari pertikaian dan permusuhan.

Pos-pos Terbaru

  • KPPG Palembang Ancam Hentikan Sementara Operasi Puluhan Dapur MBG yang Telat Urus Sertifikasi Higienis
  • Indonesia dan Kazakhstan Mengintensifkan Diplomasi Budaya melalui Pencak Silat dan Kolaborasi Seni
  • Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya Menggelontorkan Rp8,8 Miliar untuk Pulihkan Harapan Warga Pascabencana Banjir Bandang
  • Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Terjaring OTT KPK: Klaim Tak Ada Uang Disita, Penangkapan Saat Bersama Gubernur Jateng
  • Hassan Wirajuda: Tanpa Kepercayaan Pihak Bertikai, Eks Menlu Ungkap Mengapa Indonesia Belum Siap Jadi Penengah Konflik Timur Tengah
Copyright © RI News Production | PT. Virnanda Creator Productions | Editor IT. Setiawan Wibisono.