RI News Portal. Moskow, 7 Februari 2026 – Sebuah serangan bersenjata yang terencana telah menargetkan salah satu pejabat tertinggi badan intelijen militer Rusia, hanya sehari setelah perundingan penting antara Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat di Abu Dhabi. Letnan Jenderal Vladimir Alekseyev, wakil kepala pertama Direktorat Utama Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia (GRU), ditembak berkali-kali di dalam gedung apartemennya di kawasan Volokolamskoye Highway, Moskow barat laut, pada Jumat pagi (6 Februari 2026). Ia kini dirawat intensif dalam kondisi kritis.
Menurut pernyataan resmi Komite Investigasi Rusia, seorang penyerang tak dikenal menyamar sebagai kurir pengantar barang, menunggu Alekseyev di tangga gedung, lalu menembaknya dua kali di kaki dan lengan. Saat jenderal berusia 64 tahun itu berusaha merebut senjata, pelaku menembaknya lagi di dada sebelum melarikan diri. Alekseyev sempat dilarikan ke rumah sakit kota dan saat ini kondisinya masih serius.
Serangan ini terjadi tepat setelah dua hari pembicaraan di Abu Dhabi yang dipimpin langsung oleh atasan Alekseyev, Kepala GRU Laksamana Igor Kostyukov. Ketiga pihak membahas aspek keamanan dalam upaya mengakhiri konflik Ukraina yang hampir memasuki tahun keempat. Kremlin menyatakan Presiden Vladimir Putin telah mendapat laporan lengkap, sementara Juru Bicara Dmitry Peskov menekankan perlunya peningkatan perlindungan bagi perwira senior militer selama masa konflik.

Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menyebut insiden tersebut sebagai “tindakan teror” yang diduga dilakukan Ukraina untuk menggagalkan proses damai. “Ini menunjukkan keinginan pihak tertentu untuk merusak upaya diplomasi,” katanya. Hingga kini, pihak Ukraina belum memberikan komentar resmi.
Alekseyev, yang lahir di wilayah Ukraina saat masih bagian Uni Soviet, memiliki karir panjang di dunia intelijen militer. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Rusia atas perannya dalam operasi Suriah dan pernah terlibat langsung dalam negosiasi dengan pemimpin Wagner Yevgeny Prigozhin saat pemberontakan Juni 2023. Alekseyev juga masuk daftar sanksi Barat: Amerika Serikat menuduhnya ikut campur dalam pemilu AS 2016, sementara Inggris dan Uni Eropa menyalahkannya atas peracunan Sergei Skripal dengan Novichok di Salisbury tahun 2018.
Kini, ia menjadi korban terbaru dalam pola pembunuhan atau upaya pembunuhan terhadap pejabat militer Rusia tinggi sejak invasi Ukraina 2022. Sebelumnya:
- Desember 2024: Letnan Jenderal Igor Kirillov tewas akibat bom di skuter listrik di depan apartemennya.
- April 2025: Letnan Jenderal Yaroslav Moskalik tewas oleh bom mobil di pinggiran Moskow.
- Desember 2025: Letnan Jenderal Fanil Sarvarov tewas akibat bom mobil.
Rusia secara konsisten menyalahkan dinas keamanan Ukraina. Kyiv telah mengakui bertanggung jawab atas beberapa serangan tersebut, meski tidak selalu secara terbuka.
Serangan terhadap Alekseyev bukan sekadar kejahatan biasa. Ia menggambarkan kerentanan keamanan di ibu kota Rusia sendiri, bahkan bagi tokoh-tokoh yang memegang rahasia negara paling sensitif. Di saat Kremlin sedang mencoba menunjukkan kekuatan diplomasi di panggung internasional, serangan ini justru memperlihatkan betapa dalamnya celah intelijen dan perlindungan personal.

Bagi pengamat, insiden ini menambah kompleksitas perundingan damai. Jika benar ada motif politik di baliknya, maka upaya mediasi di Abu Dhabi bisa terhambat oleh saling tuduh dan hilangnya kepercayaan. Sebaliknya, jika serangan ini merupakan aksi lone-wolf atau motif pribadi, ia tetap menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas internal Rusia di tengah perang berkepanjangan.
Sementara penyelidikan masih berlangsung, satu hal yang jelas: konflik Ukraina tidak lagi hanya terjadi di medan perang Donbas atau garis depan Kharkiv. Bayang teror kini telah merayap masuk ke tangga apartemen di pusat Moskow.
Pewarta : Setiawan Wibisono

