RI News. Washington, 28 Mei 2026 – Pasukan Amerika Serikat kembali melakukan serangan defensif terhadap sasaran Iran pada Rabu, meskipun Presiden Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa negosiasi penyelesaian konflik hampir mencapai titik akhir.
Menurut sumber resmi militer AS, pasukan Komando Pusat Amerika menembak jatuh empat drone serang satu arah Iran yang mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz. Tak berselang lama, militer AS juga menghancurkan sebuah stasiun kontrol darat di Bandar Abbas yang hendak meluncurkan drone kelima.
Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah aksi serupa pada Senin yang menargetkan situs peluncur rudal dan kapal pemasang ranjau di wilayah selatan Iran. Meski demikian, Washington menegaskan bahwa kedua operasi tersebut bersifat defensif dan dilakukan dengan sangat terkendali demi menjaga gencatan senjata yang masih bertahan.
Dalam rapat kabinet Rabu pagi, Trump tampak optimistis. Ia menyebut Iran “sedang bernegosiasi dengan sisa tenaga” dan menegaskan bahwa pemilu paruh waktu November di Amerika Serikat tidak akan memengaruhi keputusannya.
“Kami belum puas dengan tawaran mereka, tapi kami akan puas — atau kami akan menyelesaikan tugas ini sampai tuntas,” tegas Trump.

Meski suasana negosiasi terus bergerak, masih terdapat perbedaan signifikan antara kedua pihak. Salah satu poin paling sensitif adalah penyerahan cadangan uranium Iran yang diperkaya tinggi. Menurut sumber yang dekat dengan pembicaraan, Teheran bersedia menyerahkan 440,9 kilogram uranium berkadar hingga 60% — tingkat yang hanya selangkah dari bahan senjata nuklir — dengan imbalan keringanan sanksi.
Cara penyerahan uranium tersebut masih akan dirundingkan dalam waktu 60 hari mendatang. Sebagian kemungkinan diencerkan, sementara sisanya dipindahkan ke negara ketiga. Trump sendiri menyatakan tidak nyaman jika Rusia atau China yang menjadi penerima.
Isu lain yang belum terselesaikan adalah cakupan gencatan senjata terhadap Hizbullah di Lebanon. Iran menuntut Lebanon masuk dalam kesepakatan, sementara Amerika dan Israel bersikeras mempertahankan hak Israel untuk membela diri terhadap ancaman mendadak.
Baca juga : Wonogiri; Permintaan Arang dan Tusuk Sate Melonjak Jelang Idul Adha
Kesepakatan yang sedang dirancang ini menuai kritik tajam bahkan dari kalangan internal Partai Republik. Senator Roger Wicker, Lindsey Graham, dan Ted Cruz menyatakan bahwa beberapa ketentuan terlalu menguntungkan Iran dan terlalu mirip dengan kesepakatan nuklir era Obama yang pernah dibatalkan Trump.
Sementara itu, Jonathan Conricus, mantan juru bicara militer Israel, mengingatkan bahwa rezim Iran kemungkinan besar akan menggunakan keringanan sanksi untuk segera memulihkan kekuatan militernya dan mendukung kelompok proksinya, termasuk Hizbullah dan Hamas.
Trump juga kembali mendorong agar Kuwait, Arab Saudi, Qatar, dan Pakistan bergabung dengan Abraham Accords. Namun, para analis menilai harapan ini terlalu optimistis. Arab Saudi, misalnya, masih menjadikan solusi negara Palestina sebagai syarat utama — sesuatu yang ditolak mentah-mentah oleh Israel.

Seorang mantan duta besar AS menyebutkan bahwa usulan Trump dalam pembicaraan dengan pemimpin Teluk beberapa waktu lalu mendapat sambutan yang sangat hati-hati.
Konflik yang sudah berlangsung hampir tiga bulan ini semakin mendekatkan Amerika pada titik kritis. Di satu sisi, Trump ingin mengakhiri perang dengan kemenangan yang bisa dibanggakan. Di sisi lain, risiko kesepakatan yang dianggap lemah bisa menjadi beban politik berat bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu.
Situasi di Selat Hormuz dan Timur Tengah masih sangat dinamis. Setiap kemajuan maupun kemunduran dalam negosiasi berpotensi langsung memengaruhi stabilitas harga energi global dan keamanan regional.
Pewarta: Setiawan Wibisono

