RI News. Boyolali, 19 Juli 2026 – Di tengah persaingan usaha kuliner yang ketat, seorang mantan guru honorer asal Boyolali berhasil membangun imperium olahan bandeng yang kini merambah pasar internasional. Kesuksesan ini tak hanya membuktikan ketangguhan semangat wirausaha lokal, tetapi juga menjadi teladan bagaimana inovasi dan ketekunan dapat mengubah warisan keluarga menjadi bisnis yang mendunia.
Ratih Suci Wulandari (36), warga Winong, Boyolali, adalah sosok di balik kesuksesan tersebut. Berawal dari usaha nasi uduk dan bubur ayam milik orang tuanya di Jalan Pandanaran sejak 2005, keluarga ini awalnya hanya menyajikan pepes bandeng sebagai menu pendamping. Namun, popularitas lauk tersebut yang luar biasa mendorong mereka untuk fokus mengembangkan produk bandeng sejak 2017 dengan merek Bandeng Presto Bu Rita, yang diambil dari nama sang ibu.
Ratih mulai terlibat aktif mengelola usaha keluarga pada 2018. Saat itu, ia memilih mundur dari profesi sebagai guru honorer di Yogyakarta untuk sepenuhnya mendukung pengembangan bisnis, khususnya di sektor pemasaran. Dengan modal pengalaman door-to-door ke berbagai kantor serta mengikuti berbagai pelatihan pengolahan perikanan, Ratih berhasil membawa produk keluarganya naik kelas.

Kini, produk Bandeng Bu Rita telah hadir di berbagai supermarket di wilayah Soloraya. Tak berhenti pada pepes bandeng, Ratih mengembangkan beragam varian inovatif seperti bandeng presto, otak-otak bandeng, bandeng crispy, bandeng bumbu rujak, kacang bandeng, stik duri bandeng, nugget ikan, rolade ikan, hingga abon ikan. Inovasi-inovasi ini lahir dari kepeduliannya terhadap kebutuhan konsumen, terutama ibu rumah tangga yang mencari produk ikan praktis dan disukai anak-anak.
Salah satu terobosan paling menarik adalah stik duri bandeng. Ide ini muncul saat Ratih ingin memanfaatkan limbah duri dan kepala ikan yang sebelumnya menumpuk. “Duri dipresto dulu, kemudian digiling dan dicampurkan ke adonan. Kandungan kalsiumnya juga tinggi,” jelasnya. Sementara itu, kacang bandeng yang merupakan kacang dibalut daging bandeng berbumbu menjadi produk unggulan lain yang digemari.
Sekitar 90 persen penjualan saat ini berasal dari Jakarta, sementara sisanya menjangkau berbagai daerah di Indonesia seperti Kalimantan, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Sumatera, hingga Nusa Tenggara. Tak hanya itu, produk ini juga telah menembus pasar Malaysia, Hong Kong, dan Filipina. Pembeli internasional kebanyakan adalah warga Indonesia di luar negeri yang mencari oleh-oleh khas tanah air melalui media sosial.
Baca juga: Tragedi di Lereng Merbabu: Pendaki Bogor Meninggal karena Serangan Jantung di Pos Bayangan 1
Produk dikemas vakum sehingga tahan hingga lima hingga enam hari, sangat cocok untuk pengiriman jarak jauh. Bahan baku bandeng didatangkan langsung dari Juwana, Jawa Tengah. Dalam sebulan, Ratih memproduksi 20-30 kilogram bandeng sebanyak empat hingga enam kali. Omzet usaha mencapai Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan, bahkan bisa dua kali lipat menjelang Ramadan dan Lebaran. Harga produk mulai dari Rp17.000 untuk kacang bandeng hingga Rp50.000 untuk otak-otak bandeng.
Luqman Hakim, salah seorang pelanggan setia, mengapresiasi kualitas produk ini. “Rasa kacang bandengnya gurih dengan aroma ikan yang tidak amis. Pepes bandengnya juga lembut, bumbunya meresap, ditambah aroma kemangi. Yang unik lagi, duri bandengnya bisa diolah menjadi stik,” ujarnya.
Kisah Ratih Suci Wulandari menunjukkan bahwa peluang usaha besar masih terbuka lebar bagi pelaku UMKM di Indonesia. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan inovasi berkelanjutan, sebuah usaha kecil mampu bersaing di kancah global.
Pewarta: Naomi Justine Nevada
Tagline: #OlahanBandengBoyolali, #UMKMInspiratif, #EksporMancanegara, #KisahSuksesRatih, #BandengPrestoBuRita, #WirausahaPerempuan, #InovasiKulinerLokal,

