RI News. Wonogiri – Tahun 2026 diprediksi akan mengalami kemarau panjang yang berpotensi menekan produktivitas tanaman pangan di Kabupaten Wonogiri. Petani diimbau segera mengantisipasi dengan mengalihkan sebagian lahan ke komoditas hortikultura agar tetap produktif selama musim kering.
Kepala Balai Penyuluh Lapangan (BPP) Supatmi menyatakan bahwa informasi dari BMKG mengenai potensi kemarau panjang harus menjadi perhatian serius bagi para petani. Kondisi tersebut dipastikan akan berdampak pada penurunan hasil pertanian, terutama tanaman pangan seperti padi dan palawija.
“Sebagian besar sawah di Wonogiri merupakan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan. Jika kemarau panjang terjadi, luas tanam dan panen padi pasti akan berkurang,” kata Supatmi saat ditemui wartawan, Jumat (17/4/2026).
Menurut Supatmi, untuk menghindari penurunan pendapatan, petani perlu memanfaatkan lahan dengan menanam komoditas alternatif yang lebih tahan kekeringan. Tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan dinilai lebih adaptif karena kebutuhan airnya relatif lebih sedikit dan masa tanamnya lebih pendek.

“Seperti melon, semangka, cabai, dan berbagai sayuran lainnya bisa menjadi pilihan. Dengan demikian, lahan tetap produktif dan petani tetap memiliki pemasukan,” ujarnya. Selain itu, permintaan komoditas hortikultura juga diprediksi meningkat seiring dengan program makan bergizi gratis yang mendorong konsumsi sayur dan buah.
Supatmi menambahkan bahwa BMKG memprediksi fenomena El Niño pada tahun ini akan menyebabkan musim kemarau datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan lebih panas.
“Kemarau panjang ini akan berdampak signifikan pada sektor pertanian, terutama penurunan luas tanam padi yang berujung pada penurunan produksi,” kata Supatmi. Ia menjelaskan bahwa penurunan luas tanam diperkirakan mulai terjadi pada Mei 2026.
Berdasarkan data yang dihimpun, potensi luas lahan pertanian untuk tanaman padi di Kecamatan Jatisrono, Wonogiri, pada periode 2025 hingga awal 2026 mencapai 1.484 hektare. Meski belum dapat memastikan besaran pasti penurunan produksi, Dinas Pertanian menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.
Baca juga : Julikah Kembali Menyemai Berkah dan Kesehatan di Tengah Kampung Guyub Bambankerep
Petani diimbau untuk menghemat penggunaan air irigasi, menggunakan benih padi varietas super genjah, serta memanfaatkan mekanisasi pertanian guna mempercepat pengolahan tanah dan panen. Selain itu, petani juga didorong memanfaatkan sumber air alternatif melalui sistem irigasi perpipaan maupun pompa air.
“Strategi ini perlu dilakukan karena prediksi kemarau datang lebih awal, lebih lama, dan lebih panas,” tegas Supatmi.
Menurutnya, selain hortikultura, komoditas seperti kedelai dan kacang hijau juga sangat cocok dikembangkan pada musim kering. “Diversifikasi tanaman sangat penting agar petani tetap bisa berproduksi dan tidak sepenuhnya bergantung pada padi,” katanya.
Sementara itu, Didik Ristiyanto, seorang petani asal Desa Tanggulangi, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri, sejak bulan April sudah memilih bertanam hortikultura dibandingkan padi. Ia menyadari bahwa mulai Mei nanti pasokan air akan berkurang akibat musim kemarau.
“Saya memilih menanam sayuran dan buah-buahan seperti tomat, mentimun, buncis, kacang panjang. Sebagian lahan akan saya tanami bawang merah dan cabai,” ujar Didik saat ditemui wartawan, Sabtu (18/4/2026).
Didik menambahkan bahwa ia berkolaborasi dengan teman-teman di dusunnya untuk memanfaatkan musim kemarau yang justru berpotensi baik bagi tanaman hortikultura dan buah-buahan.
Pewarta: Nandar Suyadi

