RI News. Wonogiri — Pendekatan pemolisian masyarakat (community policing) di era digital menuntut transformasi instrumen komunikasi yang adaptif. Fenomena ini tercermin dalam gelaran Turnamen Mobile Legends Kapolsek Eromoko Cup 2026 yang diselenggarakan di Coffee Fasti, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Alih-alih menggunakan pendekatan formal-birokratis, kepolisian sektor setempat memilih memanfaatkan subkultur e-sport sebagai medium jembatan sosial untuk merangkul generasi muda.
Ajang yang mempertemukan delapan tim lokal ini tidak sekadar menjadi panggung kompetisi virtual, melainkan sebuah manifestasi ruang ketiga (third place) tempat bertemunya otoritas keamanan dan entitas pemuda dalam atmosfer yang setara dan partisipatif.
Inisiatif yang dibuka langsung oleh Kapolsek Eromoko, AKP Mulyadi, S.H., didampingi Kanit Binmas Aiptu Supiyati ini, mengindikasikan pergeseran paradigma penegakan hukum dari yang bersifat represif-konvensional menuju preventif-edukatif. Integrasi nilai-nilai formal seperti pembacaan ikrar sportivitas dan tata tertib perlombaan di dalam ekosistem warung kopi (coffee shop) menunjukkan adanya upaya dekonstruksi citra kepolisian yang kaku menjadi lebih inklusif.

Langkah ini selaras dengan teori kedekatan sosial, di mana institusi keamanan berupaya masuk ke dalam ruang domestik dan gaya hidup (lifestyle) kelompok pemuda. E-sport, yang sering kali dipandang sebelah mata oleh generasi tua, justru divalidasi oleh institusi kepolisian sebagai kanal positif yang produktif.
Dinamika turnamen berlangsung kompetitif sejak dimulai pukul 13.00 WIB. Delapan representasi kolektif pemuda Eromoko—terdiri dari King Javva, Tittut, Pria Idaman, Goat Rocky, Yapingzz Team, Pengisi Slot, Spl Squad, hingga Genk Kompo Squad—saling beradu strategi digital. Dari perspektif sosiologi olahraga, kompetisi ini berhasil mentransformasi energi agresif pemuda ke dalam bentuk rivalitas yang sehat dan terstruktur.
Melalui skema pertandingan yang ketat, Tim Pria Idaman keluar sebagai Juara I, disusul oleh Tim Spl Squad di posisi Juara II. Kemenangan ini bukan sekadar pencapaian mekanik permainan, melainkan validasi atas kerja tim, disiplin, dan manajemen konflik di bawah tekanan—kualitas yang secara linier dibutuhkan dalam pembangunan karakter pemuda daerah.
Baca juga : Generasi Z Semarang Diajak Cerdas Navigasi Dunia Digital di Talkshow “Cerdas Bersosial Media”
Dampak dari turnamen lokal ini diproyeksikan akan meluas. Kasihumas Polres Wonogiri, Anom Prabowo, yang memberikan pernyataan mewakili Kapolres Wonogiri Wahyu Sulistyo, menegaskan bahwa pemenang dari kompetisi tingkat sektor ini akan diintegrasikan ke dalam ekosistem yang lebih besar, yakni kejuaraan Mobile Legends Kapolres Wonogiri Cup di Mapolres Wonogiri pada pekan mendatang.
“Turnamen Mobile Legends ini tidak hanya menjadi ajang hiburan dan kompetisi, tetapi juga sebagai sarana membangun semangat sportivitas, kebersamaan, serta menjaring potensi generasi muda di bidang e-sport. Pemenang nantinya akan mewakili Polsek Eromoko dalam ajang Kapolres Wonogiri Cup,” urai Anom Prabowo.
Secara institusional, strategi berjenjang ini menunjukkan adanya manajemen bakat yang terstruktur dari tingkat akar rumput (grassroots) hingga tingkat kabupaten. Dengan menjanjikan ruang kompetisi yang lebih tinggi, Polri berhasil menanamkan motivasi berprestasi sekaligus menjaga kondusivitas wilayah melalui pembentukan komunitas pemuda yang disiplin dan terorganisasi. Pada akhirnya, model e-sport policing di Eromoko ini berpotensi menjadi cetak biru (blueprint) komunikasi publik yang efektif bagi kepolisian di era modern.
Pewarta : Nandang Bramatyo

