RI News. Jakarta – Mantan Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan pesan mendalam tentang profesionalisme aparat keamanan negara. Ia menekankan pentingnya netralitas institusi TNI, Polri, dan badan intelijen agar tetap menjadi milik seluruh rakyat Indonesia, bukan alat kekuasaan politik tertentu.
Pernyataan itu disampaikan SBY saat menjadi pembicara utama dalam acara Supermentor-28 On Leadership yang bertema kepemimpinan di masa krisis, digelar di The St. Regis Jakarta, Selasa (14/4/2026) malam. Acara tersebut menjadi forum diskusi mendalam tentang kepemimpinan nasional di tengah tantangan global.
Dalam paparannya, SBY mengenang kembali salah satu operasi heroik TNI pada 2011 lalu, yaitu penyelamatan kapal kargo MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia di perairan Samudra Hindia. Sebagai Panglima Tertinggi saat itu, ia mengaku bangga dengan profesionalisme prajurit TNI yang menjalankan tugas sesuai amanah konstitusi tanpa melampaui batas.

“Kita bisa bangga dengan TNI yang melaksanakan tugas waktu itu, karena profesional dan menjalankan amanah konstitusi,” ujar SBY di hadapan para peserta acara.
SBY, yang juga dikenal sebagai tokoh kunci reformasi internal ABRI menjadi TNI di era transisi demokrasi, mengingatkan agar aparat keamanan tidak melupakan jati diri mereka. Ia mendoakan agar TNI semakin kuat dan berjaya dalam menjaga kedaulatan negara, tetapi tetap fokus pada tugas konstitusional tanpa terlibat dalam politik praktis.
“Sebagai mantan Panglima Tertinggi, saya mendoakan agar TNI kita ke depan makin berjaya, makin kuat untuk negara kita. Sebagai mantan pelaku reformasi ABRI, tetaplah pada tugas fokus sesuai dengan konstitusi, jangan masuk dalam politik praktis,” tegasnya.
Menurut SBY, kepercayaan publik merupakan modal paling berharga bagi institusi keamanan. Netralitas dalam setiap kontestasi politik, termasuk pemilu, menjadi syarat mutlak agar demokrasi Indonesia berjalan adil dan kredibel.
Baca juga : Dialog Damai di Rumah Dinas Bupati Putuskan Aksi Unjuk Rasa Ratusan Nakes Honorer Pesisir Selatan
“Tetaplah netral dalam pendidikan demokrasi, netral dalam pemilu, supaya menjadi adil. Ingat, TNI, Polri, badan intelijen negara itu milik rakyat, milik kita semua. Kita akan bangga dengan TNI yang hebat, jago, tapi juga patuh pada demokrasi dan rule of law,” pungkasnya.
Selain menyoroti peran aparat keamanan, SBY juga memberikan wejangan khusus bagi generasi muda yang dipandang sebagai calon pemimpin masa depan. Ia mengingatkan bahwa sejarah akan memanggil mereka pada saat yang tepat untuk mengemban tanggung jawab besar bagi bangsa.
SBY mendorong anak muda untuk tidak hanya menjadi “man of ideas” atau “woman of ideas”, melainkan juga “man of action” dan “woman of action”. Ia menekankan pentingnya membangun karakter tangguh, semangat pantang menyerah, serta selalu menjadi bagian dari solusi, bukan masalah.
“Jadilah manusia yang tough, tidak mudah menyerah, selalu menjadi bagian dari solusi. Punya semangat ‘aku bisa’, can do spirit, dan selalu do your best. Jangan takut gagal,” katanya.
Pesan SBY ini datang di tengah dinamika politik nasional menjelang berbagai agenda penting di Indonesia. Sebagai presiden yang memimpin di masa transisi demokrasi pasca-reformasi, pandangannya tentang netralitas aparat dan kepemimpinan berbasis karakter diharapkan menjadi bahan refleksi bagi pemimpin saat ini maupun yang akan datang.
Acara Supermentor-28 On Leadership sendiri menjadi wadah bagi para pemimpin, akademisi, dan generasi muda untuk berdialog tentang tantangan kepemimpinan di era ketidakpastian global. SBY menjadi salah satu pembicara utama yang membagikan pengalaman langsung dari dua periode kepemimpinannya sebagai presiden.
Pewarta : Yudha Purnama

