RI News. Jakarta – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa batch ketiga Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) berbasis Rumah Sakit Pendidikan sebagai Penyelenggara Utama (RSPPU) menjadi langkah strategis untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di seluruh Indonesia. Program ini melibatkan 58 dokter asal daerah yang tersebar di berbagai wilayah, dengan fokus pada pemerataan distribusi tenaga kesehatan berkualitas.
Dalam pertemuan di Jakarta pada hari Rabu, Budi menyatakan bahwa pemerintah sedang mengagresifkan pemasangan fasilitas medis modern di 514 kabupaten dan kota. Targetnya, seluruh peralatan tersebut rampung terpasang paling lambat pada akhir 2027. “Dengan infrastruktur yang semakin lengkap, tantangan utama tersisa adalah kuantitas dokter serta distribusinya yang tidak merata,” ujarnya.
Menurut Budi, pendekatan berbasis rumah sakit (hospital-based) terbukti paling efektif untuk mengatasi masalah distribusi tersebut. Perekrutan peserta tidak lagi bergantung pada faktor ketenaran keluarga, latar belakang agama, atau golongan tertentu, melainkan murni berdasarkan kebutuhan layanan spesifik di masing-masing daerah. “Kita memilih dokter-dokter yang berasal dari rumah sakit dengan pasien yang benar-benar membutuhkan keahlian spesialis tersebut,” tambahnya.

Ia menyoroti bahwa pendidikan spesialis selama ini mahal dan cenderung hanya terjangkau bagi kalangan mampu atau berprivilese. Program ini hadir sebagai solusi afirmatif agar putra-putri daerah memiliki kesempatan setara. Selain biaya pendidikan ditanggung penuh, para peserta juga menerima pembayaran selama proses belajar, sehingga mereka dapat fokus tanpa beban finansial.
“Ini adalah perubahan paradigma mendasar. Dokter spesialis bukan lagi sekadar mahasiswa yang membayar biaya kuliah, melainkan profesional yang sedang dilatih untuk meningkatkan keahlian demi pelayanan masyarakat,” tegas Budi.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Azhar Jaya melengkapi dengan data terkini kebutuhan tenaga kesehatan nasional. Indonesia masih membutuhkan sekitar 92 ribu dokter umum, 129 ribu dokter gigi, serta 51 ribu dokter spesialis untuk memenuhi standar pelayanan optimal.
Baca juga : Kejaksaan Hentikan Penyidikan Guru Honorer Probolinggo: Kerugian Negara Dipulihkan, Hukum Tak Lagi Menuntut
Pada batch ketiga ini, 58 peserta terdistribusi ke berbagai program studi prioritas: 10 orang Ilmu Kesehatan Anak, 10 orang Ilmu Kesehatan Mata, 12 orang Neurologi, 10 orang Jantung dan Pembuluh Darah, 10 orang Ortopedi dan Traumatologi, serta 6 orang Onkologi Radiasi.
Setelah menyelesaikan pendidikan, para dokter ini akan ditempatkan di berbagai wilayah di luar Pulau Jawa guna memperkuat layanan spesialistik di daerah yang selama ini kekurangan. Penempatan mencakup Sumatra 18 orang, Bangka Belitung 3 orang, Kalimantan 12 orang, Sulawesi 6 orang, Maluku 6 orang, Papua 6 orang, serta Nusa Tenggara Timur 7 orang.
Langkah ini diharapkan tidak hanya menambah jumlah dokter spesialis, tetapi juga menciptakan sistem distribusi yang lebih adil dan berkelanjutan, sehingga akses layanan kesehatan berkualitas tinggi dapat dirasakan merata di seluruh penjuru negeri.
Pewarta : Vie

