RI News. Padangsidimpuan – Di tengah cuaca panas Kota Padangsidimpuan yang semakin menyengat, antrean panjang kendaraan bensin solar di sejumlah SPBU kembali menjadi sorotan publik. Warga kota ini merasa seperti terjebak dalam lingkaran yang tak berujung, sementara mereka yang membutuhkan BBM untuk aktivitas sehari-hari—mulai dari angkutan umum hingga usaha kecil—semakin kesulitan. Kondisi ini memunculkan dugaan kuat adanya praktik distribusi yang tidak transparan, khususnya di SPBU kawasan Batu Nadua.
Masyarakat mengindikasikan adanya kelompok tertentu yang sengaja memanfaatkan kelemahan sistem. Beberapa kendaraan, katanya, sudah mengetahui jadwal kedatangan pasokan solar jauh lebih awal. Dengan informasi itu, mereka bisa menduduki posisi antrean paling depan. Selain itu, ada dugaan pula bahwa kendaraan-kenangan tersebut menggunakan tangki yang telah dimodifikasi secara khusus agar mampu menampung lebih banyak solar tanpa mengganggu pengukuran resmi. Praktik ini, menurut saksi, terjadi secara berulang kali dalam satu hari, sehingga solar subsidi yang seharusnya merata justru terkonsentrasi pada segelintir pihak.

Salah seorang warga yang enggan disebut namanya menyampaikan kekhawatiran tersebut secara terbuka. “Yang menjadi pertanyaan masyarakat, bagaimana kendaraan tertentu bisa mengetahui kapan minyak solar masuk. Mereka seperti sudah siap mengantre lebih dulu. Kalau benar ada informasi yang diberikan kepada pihak tertentu, ini harus diperiksa,” ungkapnya. Menurut pengamatan warga, kelangkaan bukan hanya karena pasokan terbatas, melainkan karena distribusi yang seolah-olah sudah disiapkan untuk “siapa yang pertama datang”.
Dugaan ini semakin menguat karena solar subsidi memang dirancang untuk membantu masyarakat luas, bukan untuk dinikmati segelintir orang. Kalau praktik modifikasi tangki dan pengetahuan informasi khusus benar-benar terjadi, maka kelompok usaha kecil dan masyarakat biasa akan semakin terpinggirkan. Padahal, di kota ini, solar adalah “minyak darah” bagi ekonomi harian yang bergantung pada angkutan dan pengiriman barang.
Baca juga : Pulau Lembeh, Bolaang Mongondow: Kejati Sulut Tangkap Buron Satnadi Mokodongan Setelah 3 Minggu Pengintaian
Pihak Pertamina dan aparat penegak hukum diharapkan tidak hanya mengecek antrean fisik saja, melainkan seluruh rantai distribusi. Mulai dari saat mobil tangki pemasok tiba, pencatatan stok masuk dan keluar, hingga volume yang benar-benar disalurkan ke kendaraan. Jika indikasi penyalahgunaan terbukti, maka pemeriksaan mendalam harus dilakukan agar keadilan dan kepastian akses solar bagi seluruh warga Padangsidimpuan terjamin.
Hingga saat ini, dugaan tersebut masih memerlukan verifikasi resmi. Pertanyaan besar yang muncul adalah: apakah ini hanya kebetulan atau bagian dari pola yang lebih luas yang sudah terstruktur sejak lama?
Pewarta: Indra Saputra
Tagline: #ModifikasiTangkiSolar, #AntreanPanjangBBM, #DugaanPenyalahgunaan, #SolarSubsidiPadangsidimpuan, #KelangkaanBBM, #PertaminaDiawasi, #KeadilanSolar, #WargaButuhAdil,
