Skip to content
04/06/2026
  • Facebook
  • Youtube
  • Instagram
RI NEWS

RI NEWS

PORTAL BERITA INDONESIA

baner iklan
Primary Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
    • IstanaBerita seputar Istana
    • PemerintahanBerita seputar Pemerintahan
    • Politik
    • Parlemen
  • Buser Berita
    • TNI/PolriBerita seputar TNI dan Polri
    • KPKBerita seputar KPK
    • Hukum/PolitikBerita seputar Hukum
  • Regional
    • AcehBerita Seputar Aceh
    • DKI JakartaBerita seputar DKI Jakarta
    • Jawa BaratBerita seputar Jawa Barat
    • Jawa TengahBerita seputar Jawa Tangah
    • Jawa TimurBerita seputar Jawa Timur
    • YogyakartaBerita seputar Yogyakarta
    • BaliBerita Seputar Bali
    • BantenBerita seputar Sumatera
    • Nusa TenggaraBerita seputar Nusa Tenggara
    • SumateraBerita seputar Sumatera
    • KalimantanBerita seputar Kalimantan
    • PapuaBerita seputar Papua
    • SulawesiBerita seputar Sulawesi
    • MalukuBerita seputar Maluku
  • Olah Raga
  • Ilmu PengetahuanBerita seputar Ilmu Penegetahuan
  • Budaya
  • Hiburan
  • BisnisBerita seputar Bisnis
  • Redaksi
  • Privacy Policy
Live
  • Home
  • Regional
  • Mengingat Sejarah: Klarifikasi antara Hari Jadi Subulussalam dan Lahirnya Pemerintahan Kota

Mengingat Sejarah: Klarifikasi antara Hari Jadi Subulussalam dan Lahirnya Pemerintahan Kota

Jurnalis RI News Portal Posted on 9 bulan ago 4 minutes read
Klarifikasi antara Hari Jadi Subulussalam dan Lahirnya Pemerintahan Kota
Silahkan bagikan ke media anda ...

RI News Portal. Sumbussalam — Di tengah hiruk-pikuk peringatan tahunan yang seringkali diselimuti oleh pemahaman populer, penting untuk kembali ke akar historis agar tidak terjebak dalam salah pengertian. Setiap 14 September, masyarakat Subulussalam, Aceh, merayakan Hari Jadi yang ke-63 pada tahun 2025 ini—sebuah momen yang bukan menandai kelahiran pemerintahan kota otonom, melainkan penabalan nama “Subulussalam” itu sendiri. Klarifikasi ini bukan sekadar koreksi faktual, melainkan upaya akademis untuk mempertahankan integritas narasi sejarah lokal di era digital, di mana informasi seringkali tersebar secara fragmentaris melalui media sosial dan platform online.

Pada 14 September 1962, dalam sebuah kunjungan kerja ke wilayah yang saat itu dikenal sebagai Kecamatan Simpang Kiri, Gubernur Aceh Prof. Aly Hasymi—seorang tokoh intelektual yang dikenal dengan kontribusinya dalam pendidikan dan budaya Aceh—menabalkan nama “Subulussalam” sebagai identitas baru bagi ibu kota kecamatan tersebut. Nama ini, yang berasal dari bahasa Arab dan bermakna “jalan keselamatan” atau “jalan menuju kedamaian dan kesejahteraan,” bukanlah pilihan sembarangan. Ia mencerminkan aspirasi masyarakat pasca-konflik, di mana wilayah ini, yang berada di perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara, sering menjadi koridor perdagangan dan migrasi yang penuh tantangan.

Kunjungan tersebut, yang diselenggarakan melalui acara resmi, menjadi titik balik simbolis. Sejak saat itu, nama Subulussalam resmi digunakan, menggantikan penyebutan lama dan memberikan identitas kolektif yang lebih kuat. Dalam konteks akademis, peristiwa ini dapat dilihat sebagai bagian dari upaya rekonstruksi identitas daerah di masa Orde Lama, di mana pemimpin lokal seperti Hasymi berperan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan pembangunan regional. Peringatan tahunan ini, yang kini telah mencapai usia 63 tahun, berfungsi sebagai pengingat agar generasi muda tidak melupakan fondasi filosofis ini, yang jauh melampaui batas administratif.

Seringkali, ada kebingungan di kalangan masyarakat—terutama di media online yang cenderung menyederhanakan narasi—antara Hari Jadi Subulussalam dengan kelahiran Pemerintahan Kota (Pemko) Subulussalam. Yang pertama adalah perayaan kultural dan historis, sementara yang kedua adalah milestone administratif yang lahir dari proses pemekaran wilayah. Pemko Subulussalam secara resmi terbentuk melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Subulussalam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang diundangkan pada 2 Januari 2007. Proses legislasi ini mencapai puncaknya pada Sidang Paripurna DPR RI tanggal 26 November 2006, di mana pemekaran dari Kabupaten induk Aceh Singkil disetujui, menciptakan entitas otonom baru dengan luas wilayah sekitar 1.391 km².

Baca juga : Razia Obat Daftar G di Serpong Gagal, Diduga Informasi Bocor

Perbedaan ini bukan hanya soal tanggal, melainkan tentang esensi: nama Subulussalam mewakili warisan budaya yang timeless, sementara pemekaran adalah respons terhadap dinamika otonomi daerah pasca-Reformasi 1998. Dalam analisis jurnalistik akademis, kebingungan ini sering muncul karena kurangnya dokumentasi digital yang komprehensif, di mana platform media online existing cenderung fokus pada peristiwa kontemporer tanpa mendalami konteks historis. Pendekatan ini—yang kami adopsi di sini—berbeda dengan gaya berita kilat yang umum, dengan menekankan narasi mendalam untuk membangun pemahaman holistik.

Proses pemekaran Pemko Subulussalam bukanlah jalan mulus; ia melibatkan perjuangan panjang yang melelahkan, dimulai dari pembentukan Panitia Pemekaran pada akhir 1990-an. Upaya ini mencakup penggalangan dukungan masyarakat luas, serta kolaborasi dengan petinggi Pemkab Aceh Singkil dan DPRK Aceh Singkil. Dukungan krusial datang dari Bupati Aceh Singkil saat itu, H. Makmur Syahputra, SH, yang menerbitkan surat dukungan nomor 1461/2520/2002, menandai mufakat bersama dengan DPRK dan tokoh masyarakat lainnya.

Alhamdulillah, proses berjalan lancar berkat sinergi ini, menghasilkan kelahiran Pemko Subulussalam sebagai kota otonom. Puncaknya adalah pelantikan Asmauddin sebagai Ketua Panitia Pemekaran sekaligus Penjabat (PJ) Walikota pertama pada 15 Juni 2007, oleh Menteri Dalam Negeri Widodo AS. Pelantikan ini tidak hanya menandai penetapan administratif, tetapi juga harapan agar kota ini maju dan mensejahterakan rakyatnya. Dalam perspektif akademis, perjuangan ini mencerminkan model bottom-up dalam otonomi daerah Indonesia, di mana dukungan lokal menjadi kunci sukses, berbeda dengan kasus pemekaran lain yang sering terhambat oleh konflik birokratis.

Di era media online di mana informasi beredar cepat namun sering dangkal, klarifikasi seperti ini menjadi esensial untuk mempertahankan akurasi sejarah. Hari Jadi Subulussalam pada 14 September bukanlah tentang struktur pemerintahan, melainkan tentang identitas yang lahir dari visi keselamatan dan kedamaian. Sementara itu, Pemko Subulussalam mewakili evolusi administratif yang mendukung pembangunan. Dengan memahami perbedaan ini, masyarakat dapat lebih menghargai perjalanan panjang wilayah ini—from a symbolic naming in 1962 to an autonomous entity in 2007—dan terus membangun masa depan yang sejahtera. Sejarah bukan hanya catatan masa lalu, melainkan panduan untuk menghindari salah pengertian di masa kini.

Pewarta : Jaulin Saran

About the Author

Jurnalis RI News Portal

Author

Jurnalis RI News Portal adalah seorang wartawan yang menjunjung tinggi kode etik jurnalis dan profesiinal di bidangnya.

Visit Website View All Posts

Silahkan bagikan ke media anda ...

Post navigation

Previous: Razia Obat Daftar G di Serpong Gagal, Diduga Informasi Bocor
Next: Bupati Lampung Barat Soroti Urgensi Literasi sebagai Fondasi Pendidikan Generasi Muda di Era Digital

Related Stories

Transisi Kepemimpinan Mulai Bergulir

Transisi Kepemimpinan Mulai Bergulir: Awaluddin Dipercaya Pimpin Disperindagkop UKM Subulussalam

Jurnalis RI News Portal Posted on 37 menit ago 0
Dokter Spesialis RSUD Pasaman Barat Kembali Bertugas Penuh

Dokter Spesialis RSUD Pasaman Barat Kembali Bertugas Penuh, Bupati Yulianto Temukan Titik Temu Lewat Insentif

Jurnalis RI News Portal Posted on 1 jam ago 0
Gotong Royong Spiritual

Gotong Royong Spiritual: Tomy Serahkan 1.700 M² Tanah Wakaf untuk Perluasan Makam di Sugihan Trenggalek

Jurnalis RI News Portal Posted on 2 jam ago 0
Indonesia Bisa
C.I.A Official
#Advestaiment RI_News
#Iklan RI_News
#Iklan RI_News
Berita Video
Ucapan
Ucapan
Ucapan

Komentar

  1. Sugeng Rudianto mengenai Rehabilitasi Sawah Pasca Bencana di Agam Tembus 276 Hektare, Pemulihan Lahan Terus Dikejar hingga Akhir Mei
  2. Salmifitri Fitri mengenai Dorongan Revisi UU HKPD dari Pontianak: Wali Kota Edi Rusdi Kamtono Usulkan Tarif Parkir hingga 20% dan Kembalikan Rumah Kos sebagai Objek Pajak
  3. Sammy Sandinata mengenai Kapolsek Basa Ampek Balai Tapan Kunjungi Dapur MBG, Perkuat Sinergi Keamanan dan Pelayanan Sosial
  4. Adi tanjoeng mengenai Kapolsek Basa Ampek Balai Tapan Kunjungi Dapur MBG, Perkuat Sinergi Keamanan dan Pelayanan Sosial
  5. Tukino mengenai Tragedi Kelam di Balik Tembok Pesantren: Santri 14 Tahun Dicabuli Pimpinan Pondok Tahfidz di Payakumbuh

Berita Video

 

Berita video mengungkap fakta dengan visual live dan streaming.

Cara Instal Aplikasi RI News Portal di HP kalian ; Download file Zip apk RI News Portal, simpan dan ekstrak file Zip. Kemudian instal ..... enjoy RI News Portal sudah di HP Kalian.

Aplikasi RI News PortalUnduh
Aplikasi RI News PortalUnduh

RI NEWS-Media Portal Berita Republik Indonesia-Menyajikan informasi peristiwa yang teraktual dan terpercaya-Virnanda Creator Production adalah media pemberitaan yang berdedikasi tinggi untuk menyampaikan informasi berkualitas kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menjadi sumber informasi dunia yang akurat, cepat, dan terpercaya. Kami percaya bahwa informasi yang baik dapat mencerdaskan umat manusia dan menjaga kedamaian dunia. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan dunia yang terbebas dari pertikaian dan permusuhan.

Pos-pos Terbaru

  • Veteran Angkatan Darat AS Tewas Ditembak FBI Usai Sandera Pegawai Sekolah selama 16 Jam di Bakersfield
  • Transisi Kepemimpinan Mulai Bergulir: Awaluddin Dipercaya Pimpin Disperindagkop UKM Subulussalam
  • Proyek Mega Kushner di Albania: Antara Ambisi Pariwisata dan Perlawanan Lingkungan
  • Korea Utara Perkuat Produksi Bahan Nuklir Secara Eksponensial: Langkah Berisiko di Tengah Ketegangan Regional
  • Dokter Spesialis RSUD Pasaman Barat Kembali Bertugas Penuh, Bupati Yulianto Temukan Titik Temu Lewat Insentif
Copyright © RI News Production | MoreNews by AF themes.