RI News. Sukoharjo — Silaturahmi keluarga bukan sekadar tradisi rutin, melainkan amalan ibadah sosial yang sangat dianjurkan dalam Islam untuk memperkuat tali kasih sayang dan kekerabatan. Hal itu kembali ditunjukkan oleh keluarga besar Trah Manunggal dalam acara silaturahmi yang digelar di rumah Suwarman, Jalan Agung Nomor 18, Madyorejo, Jetis, Sukoharjo, pada Ahad (14/6/2026).
Acara yang berlangsung khidmat ini dimulai pukul 11.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 12.30 WIB dengan sesi foto bersama. Keluarga dari berbagai daerah, termasuk Kecamatan Wonogiri Kota dan sekitarnya serta Sukoharjo, memenuhi undangan meski hanya melalui grup WhatsApp.
Tuan rumah, Begug SW., menyampaikan sambutan hangat sekaligus permohonan maaf. “Atas nama keluarga, mohon maaf dalam penerimaan banyak kekurangan dan kekhilafan. Semoga Bapak, Ibu, dan saudara semua kembali ke rumah masing-masing dengan selamat,” ujarnya.

Koordinator Trah Manunggal menyampaikan rasa syukur atas nikmat kesehatan yang diberikan Allah SWT sehingga keturunan Eyang Kakung Alm. Kariyoredjo-Parinem dapat berkumpul dalam keadaan sehat walafiat. Ia mengajak seluruh hadirin untuk terus mempererat tali silaturahmi melalui pertemuan langsung, sekaligus mendoakan arwah almarhum-almarhumah leluhur serta orang tua yang telah mendahului.
“Mari sejenak kita mendoakan Eyang Kariyoredjo-Parinem dan saudara-saudara kita yang telah dipanggil Allah. Semoga dosa-dosa mereka diampuni, amal ibadahnya diterima, dan arwahnya ditempatkan di sisi-Nya. Aamiin,” tuturnya.
Puncak acara adalah tausiah yang disampaikan sesepuh keluarga, Drs. H. Sularno. Dengan tema menarik “Menaburkan Pasir/Debu ke Wajah Orang yang Memuji”, beliau menguraikan hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim dari Miqdad bin Al-Aswad. Rasulullah SAW memerintahkan untuk menaburkan pasir atau tanah ke wajah orang-orang yang gemar memuji secara berlebihan.
Baca juga : PMII UIN Syahada Tegaskan Dukungan Penuh kepada Rektorat: Jaga Marwah Kampus dari Stigma Negatif
Drs. H. Sularno menjelaskan, metafora tersebut merupakan bentuk penolakan tegas terhadap bahaya pujian berlebih (maddahin) yang dapat menumbuhkan sifat ujub, riya’, dan takabur pada diri yang dipuji. Bagi yang memuji, tindakan tersebut sering kali lahir dari motif duniawi, mencari muka, atau bahkan kebohongan.
“Islam tidak melarang memuji sama sekali. Pujian yang tulus untuk memotivasi kebaikan dan kesaksian yang benar justru dianjurkan. Namun, memuji secara berlebihan, di depan wajah secara membabi buta, atau mengatakan sifat yang tidak dimiliki seseorang sangat dilarang,” pungkasnya.
Acara yang sarat nilai keagamaan dan kekeluargaan ini diharapkan dapat menjadi momentum rutin bagi Trah Manunggal untuk menjaga kehangatan hubungan antar kerabat sekaligus memperkuat iman kolektif keluarga.
Pewarta : Nandar Suyadi
Tagline : #SilaturahmiKeluarga, #TrahManunggal, #SilaturahmiIslam, #TauziahHadits, #MempereratKekerabatan, #AmalanSosial, #Sukoharjo

