RI News. Jakarta – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa pengembangan talenta digital Indonesia tidak boleh hanya berfokus pada kemampuan teknis semata. Lebih dari itu, generasi muda harus dibekali pemahaman mendalam tentang cara berinteraksi secara tepat dengan kecerdasan buatan (AI), sekaligus kemampuan mengendalikan penggunaannya agar tidak kehilangan esensi kemanusiaan.
“Desain AI harus human-centric, berpusat pada manusia, agar teknologi yang dikembangkan benar-benar memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia. Dalam setiap pengambilan keputusan, AI harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat melalui pendekatan human in the loop, yaitu pelibatan manusia secara aktif,” ujar Nezar Patria dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Nezar saat membuka Workshop AI Talent Factory 2 di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Acara ini diikuti 98 mahasiswa dan 28 dosen dari tiga perguruan tinggi ternama: Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Nezar mengingatkan risiko serius dari penggunaan AI yang semakin masif. Menurutnya, kecenderungan masyarakat—terutama pelajar dan profesional—untuk menyerahkan segala hal kepada AI berpotensi menggerus kemampuan berpikir kritis dan analisis mendalam.
“Jangan sampai kita kehilangan daya kritis karena semua diserahkan kepada AI. Fenomena ini sudah mulai terlihat di dunia pendidikan, di mana mahasiswa kerap mengandalkan output instan tanpa evaluasi lebih lanjut,” katanya.
Ia juga menyoroti bahaya dari budaya “serba instan” yang ditawarkan AI. Tanpa keseimbangan, hal itu bisa melemahkan kemampuan penilaian etis dan analisis yang matang. Oleh karena itu, talenta digital masa depan harus dilatih untuk selalu mengevaluasi setiap hasil yang dihasilkan AI secara kritis, bukan sekadar menerimanya begitu saja.
“Berpikir dan mengambil keputusan adalah hakikat kemanusiaan yang tidak boleh sepenuhnya dialihkan kepada mesin,” tegas Nezar.
Meski demikian, Nezar tidak anti terhadap kemajuan teknologi. Ia justru mendorong pemanfaatan AI secara strategis untuk menyelesaikan berbagai persoalan nyata di sektor prioritas nasional, seperti ketahanan pangan, energi, kesehatan, dan maritim.
Baca juga : Duka Mendalam di Dunia Pers: Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Berpulang Akibat Serangan Jantung
“Ambisi strategis diperlukan agar kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menggunakannya untuk menyelesaikan masalah-masalah konkret yang dihadapi masyarakat. Pendekatan berbasis masalah akan membuat AI benar-benar relevan dan bermanfaat,” jelasnya.
Workshop AI Talent Factory 2 dirancang sebagai wadah untuk membentuk talenta AI yang holistik. Program ini tidak hanya mengajarkan penguasaan teknologi, tetapi juga menekankan etika, pengendalian dampak, dan kemampuan mengintegrasikan AI ke dalam solusi berbasis kemanusiaan.
Para peserta diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu menyeimbangkan inovasi teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga Indonesia dapat memimpin pengembangan AI yang bertanggung jawab di kawasan.
Dengan pendekatan ini, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital berharap dapat melahirkan generasi talenta digital yang tidak hanya kompeten secara teknis, melainkan juga bijak dalam mengelola kekuatan AI demi kemajuan bangsa yang berkelanjutan.
Pewarta : Diki Eri

