RI News. Wonogiri – Beberapa pekan terakhir, pelaku usaha sektor grosir, kelontong, hingga kuliner gorengan dan camilan di Kabupaten Wonogiri merasakan tekanan berat akibat lonjakan harga plastik kemasan yang cukup signifikan. Kenaikan ini tidak hanya membebani biaya operasional harian, tetapi juga memaksa banyak usaha mikro dan kecil di sektor makanan dan minuman (mamin) untuk menaikkan harga jual agar tetap bertahan.
Kondisi tersebut semakin terasa di wilayah Kecamatan Jatisrono dan sekitarnya, di mana ribuan pelaku usaha mengandalkan plastik untuk membungkus produk sehari-hari, mulai dari botol minuman hingga kantong kemasan camilan. Gangguan rantai pasok bahan baku petrokimia secara global, yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga plastik melambung.
Wawan, pemilik usaha Teh Ginastel di Kecamatan Jatisrono, mengungkapkan bahwa harga botol plastik ukuran 250 mililiter yang biasa ia gunakan untuk kemasan produknya naik hingga sekitar 50 persen. “Sebelumnya eceran Rp1.900 per botol, sekarang sudah Rp2.900. Kalau beli 300 botol, dulu Rp418.000, kini melonjak jadi Rp678.000,” ujarnya saat ditemui, Minggu (11/4/2026).

Menurut Wawan, kenaikan ini langsung berdampak pada Harga Pokok Penjualan (HPP). Ia terpaksa menyiasati dengan lebih efisien dalam produksi agar margin keuntungan tidak hilang sepenuhnya. “Harus pintar-pintar mengatur agar tetap untung, meski tipis,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan Sugiyatmi, pemilik toko kelontong di wilayah yang sama. Ia mengatakan, bahkan pembelian barang di bawah Rp10.000 sekalipun tetap harus dibungkus kantong plastik. Kenaikan tidak hanya terjadi pada botol, tetapi juga berbagai jenis kantong kemasan plastik. “Keuntungan jadi tergerus. Akhirnya, konsumen yang akan merasakan dampaknya karena harga barang berpotensi naik,” katanya.
Sementara itu, Suyatno, pelaku usaha camilan di Jatisrono, menilai lonjakan harga plastik terjadi sangat cepat dan dalam skala yang cukup besar. Produk andalannya seperti kacang mete, emping melinjo, serta aneka camilan lainnya ikut terdampak karena biaya kemasan melonjak. Tidak hanya plastik, bahan penunjang seperti minyak goreng dan lakban pengemasan juga mengalami kenaikan. Harga lakban cokelat per karton yang semula sekitar Rp500.000 kini melampaui Rp600.000.
Baca juga : Bibit Talenta Muda Gunungkidul Digali Lewat Dandim Cup: Pembinaan Karakter Juara Dimulai dari Usia Dini
“Mau tidak mau, harga jual harus disesuaikan. Yang paling terdampak tetap konsumen akhir,” ujar Suyatno.
Para pelaku usaha di Wonogiri berharap kondisi ini tidak berlarut-larut. Mereka khawatir daya beli masyarakat akan terganggu jika tekanan biaya produksi terus meningkat, sehingga stabilitas usaha kecil di tengah pemulihan ekonomi pasca-pandemi menjadi terancam.
Kenaikan harga plastik kemasan ini mencerminkan kerentanan rantai pasok industri kemasan di Indonesia yang masih bergantung pada bahan baku impor. Bagi pelaku usaha mikro dan kecil, yang sering kali memiliki modal terbatas, situasi ini menjadi tantangan ekstra untuk mempertahankan kelangsungan bisnis tanpa mengurangi kualitas layanan kepada konsumen.
Pewarta: Nandar Suyadi

