RI News. Jakarta – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov kembali menegaskan sikap keras Moskow terhadap upaya dialog damai yang diinisiasi Kyiv. Dalam tanggapannya terhadap surat terbuka Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kepada Vladimir Putin, Lavrov menyebut langkah tersebut tidak sopan dan menunjukkan ketidakseriusan Ukraina untuk bernegosiasi.
Pada Senin, Lavrov menyatakan bahwa Moskow sangat kecewa karena surat tersebut disebarluaskan secara global. “Orang-orang yang sopan tidak berperilaku seperti itu,” ujarnya. Menurut Lavrov, tindakan Zelenskyy justru memperkuat pandangan Kremlin bahwa Kyiv sama sekali tidak memiliki minat untuk mencari penyelesaian damai, meskipun Ukraina berkali-kali mengklaim telah berusaha membuka jalur pembicaraan.
Pandangan ini sejalan dengan pernyataan Presiden Putin sebelumnya yang menekankan bahwa nasib konflik tidak ditentukan oleh meja perundingan, melainkan oleh perkembangan di medan pertempuran. Putin bahkan secara terbuka menolak tawaran pertemuan langsung dengan Zelenskyy saat berbicara di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg.

Surat terbuka Zelenskyy yang dirilis minggu lalu mengusulkan dialog langsung antar presiden. Inisiatif ini kemudian mendapat dukungan dari pemimpin Prancis, Jerman, dan Inggris melalui pernyataan bersama yang menetapkan lima syarat utama untuk perdamaian yang adil dan berkelanjutan, termasuk gencatan senjata menyeluruh serta negosiasi berdasarkan garis kontak terkini.
Namun, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menepis inisiatif Eropa tersebut. Ia menilai para pemimpin Eropa sedang kontradiktif karena berbicara soal perdamaian di satu sisi, tetapi tetap mendukung produksi senjata baru untuk Ukraina di sisi lain.
Lavrov juga menyampaikan kekecewaan Moskow terhadap sikap Amerika Serikat. Ia menyebut Washington tidak menunjukkan minat untuk menghidupkan kembali “kesepahaman Anchorage” yang dicapai musim panas lalu. Lavrov mengingatkan agar pengalaman kegagalan kesepakatan sebelumnya tidak terulang.
Baca juga : Putin Kirim Harimau Amur ke Kazakhstan: Langkah Strategis Pulihkan Predator Puncak Asia Tengah
Kritik serupa dilontarkan terhadap pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menyatakan bahwa Washington tidak dapat menjadi mediator karena posisinya yang mendukung Ukraina. Rubio juga menegaskan bahwa konflik ini tidak memiliki solusi militer dan hanya dapat diselesaikan melalui jalur diplomatik, meski kedua pihak masih sulit berkompromi.
Analisis para pengamat menunjukkan bahwa saling tuding ini semakin memperlebar jurang kepercayaan antara Rusia dan Barat, sehingga prospek perdamaian jangka pendek tampak semakin samar. Sementara itu, dinamika di lapangan terus menjadi penentu utama arah konflik.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline : #RusiaUkraina, #DiplomasiInternasional, #ZelenskyyPutin, #SergeyLavrov, #PerdamaianUkraina, #KonflikEropa, #MarcoRubio, #Kremlin,

