RI News. Berlin – Laba-laba raksasa Nosferatu (Zoropsis spinimana) yang selama ini dikenal sebagai penghuni kawasan Mediterania kini semakin meluas ke wilayah utara Eropa. Kelompok konservasi alam Jerman NABU melaporkan bahwa spesies ini telah berhasil mencapai pesisir Laut Baltik, dengan temuan yang semakin banyak di Pulau Rügen dan Usedom.
Dikenal karena corak di tubuhnya yang mengingatkan pada sosok vampir legendaris, laba-laba Nosferatu mendapat namanya dari film horor klasik Jerman. Ukuran tubuhnya yang mencapai hingga 8 sentimeter termasuk kaki membuat banyak orang merasa was-was saat pertama kali melihatnya. Namun, para ahli menegaskan bahwa spesies ini tidak seberbahaya yang dibayangkan masyarakat.
Menurut Dr. Alexander Wirth dari NABU, musim semi 2026 menjadi periode rekor dalam pelaporan penemuan laba-laba ini. Ribuan foto dari seluruh penjuru Jerman membuktikan bahwa laba-laba Nosferatu kini telah tersebar di semua negara bagian, termasuk di Schleswig-Holstein yang beriklim lebih sejuk. Para peneliti menduga penyebaran ini dibantu oleh aktivitas manusia, terutama wisatawan yang tidak sengaja membawa laba-laba ini dalam barang bawaan mereka.

Salah satu faktor penting keberhasilan penyebaran adalah kemampuan adaptasi yang tinggi. Laba-laba Nosferatu menyukai lingkungan hangat sehingga sering ditemukan di dalam rumah, garasi, dan bangunan. Berkat bulu perekat di kakinya, mereka mampu memanjat permukaan kaca dengan mudah. Lebih menarik lagi, adanya bukti perkembangbiakan sepanjang tahun di dalam hunian manusia menunjukkan bahwa spesies ini semakin mandiri dari musim.
Gigitan laba-laba Nosferatu mirip dengan sengatan tawon dan umumnya tidak berbahaya. Pembengkakan akan mereda dalam beberapa hari, meski penderita alergi disarankan untuk tetap waspada. NABU menekankan agar masyarakat tidak membunuh laba-laba yang ditemukan, melainkan melepaskannya ke luar ruangan.
Baca juga : Junta Mali Tantang Barat, Vonis Penjara 20 Tahun untuk Mata-Mata Prancis
Secara ekologis, laba-laba Nosferatu berperan sebagai predator alami yang memangsa laba-laba lain (termasuk yang lebih besar), lalat, dan ngengat. Kehadirannya dapat membantu mengendalikan populasi serangga di sekitar pemukiman. Namun, penyebaran cepat ini juga menjadi indikator perubahan iklim yang memungkinkan spesies selatan bergerak ke wilayah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka.
Fenomena ini mencerminkan dinamika baru dalam biodiversitas Eropa, di mana interaksi antara perubahan iklim, mobilitas manusia, dan adaptasi spesies semakin nyata. Para konservasionis terus memantau perkembangannya untuk memahami dampak jangka panjang terhadap ekosistem setempat.
Pewarta : Anjar Bramantyo
Tagline : #LabaLabaNosferatu, #PenyebaranSpesies, #KonservasiAlam, #PerubahanIklim, #BiodiversitasEropa, #NABU, #LautBaltik,

