Skip to content
14/06/2026
  • Facebook
  • Youtube
  • Instagram
RI NEWS

RI NEWS

PORTAL BERITA INDONESIA

baner iklan
Primary Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
    • IstanaBerita seputar Istana
    • PemerintahanBerita seputar Pemerintahan
    • Politik
    • Parlemen
  • Buser Berita
    • TNI/PolriBerita seputar TNI dan Polri
    • KPKBerita seputar KPK
    • Hukum/PolitikBerita seputar Hukum
  • Regional
    • AcehBerita Seputar Aceh
    • DKI JakartaBerita seputar DKI Jakarta
    • Jawa BaratBerita seputar Jawa Barat
    • Jawa TengahBerita seputar Jawa Tangah
    • Jawa TimurBerita seputar Jawa Timur
    • YogyakartaBerita seputar Yogyakarta
    • BaliBerita Seputar Bali
    • BantenBerita seputar Sumatera
    • Nusa TenggaraBerita seputar Nusa Tenggara
    • SumateraBerita seputar Sumatera
    • KalimantanBerita seputar Kalimantan
    • PapuaBerita seputar Papua
    • SulawesiBerita seputar Sulawesi
    • MalukuBerita seputar Maluku
  • Olah Raga
  • Ilmu PengetahuanBerita seputar Ilmu Penegetahuan
  • Budaya
  • Hiburan
  • BisnisBerita seputar Bisnis
  • Redaksi
  • Privacy Policy
Live
  • Home
  • Regional
  • Konflik Lahan di Nagari Silaut: Antara Hak Ulayat Masyarakat Adat dan Sertifikat HGU yang Dipertanyakan

Konflik Lahan di Nagari Silaut: Antara Hak Ulayat Masyarakat Adat dan Sertifikat HGU yang Dipertanyakan

Jurnalis RI News Portal Posted on 9 bulan ago 5 minutes read
Konflik Lahan di Nagari Silaut
Silahkan bagikan ke media anda ...

RI News Portal. Padang, Pesisir Selatan, 25 September 2025 — Di tengah hiruk-pikuk pembangunan agraria di Sumatra Barat, sebuah konflik lahan yang telah berlangsung lebih dari satu dekade kini kembali mengemuka, menyoroti ketegangan antara hak ulayat masyarakat adat dan mekanisme pemberian Hak Guna Usaha (HGU) oleh negara. Di Nagari Silaut, Kecamatan Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan, ribuan hektare lahan perkebunan sawit milik warga diduga diserobot oleh PT Sukses Jaya Wood (SJW) melalui HGU Nomor 08 yang dikeluarkan pada 2013. Masyarakat setempat, yang telah mengelola tanah tersebut secara turun-temurun, kini menuntut keadilan hukum, menuduh proses pemberian HGU tersebut cacat secara prosedural dan melanggar prinsip-prinsip agraria nasional.

Konflik ini bukan sekadar sengketa tanah, melainkan cerminan lebih luas dari dinamika antara adat dan negara dalam pengelolaan sumber daya alam. Berdasarkan wawancara mendalam dengan tokoh adat dan petani lokal, serta analisis dokumen hukum, laporan ini mengungkap bagaimana intervensi pihak eksternal—termasuk dugaan keterlibatan ninik mamak dari kecamatan tetangga—telah memperburuk ketidakadilan yang dirasakan warga. Di tengah tuntutan yang kian vokal, pertanyaan mendasar muncul: apakah sistem HGU saat ini masih relevan dalam melindungi hak-hak masyarakat adat, atau justru menjadi alat eksploitasi?

Nagari Silaut, sebuah komunitas adat Minangkabau yang bergantung pada pertanian sawit sebagai tulang punggung ekonomi, telah lama mengelola lahan ulayatnya secara kolektif. Menurut catatan sejarah lisan yang dikumpulkan dari warga senior, tanah di sekitar HGU 08 telah dibudidayakan sejak puluhan tahun sebelum kemunculan PT SJW. “Lahan itu milik kami, warisan leluhur yang kami rawat dengan keringat dan doa,” ujar seorang petani sawit berusia 55 tahun yang enggan disebut namanya, takut akan represali dari pihak perusahaan. Ia menambahkan bahwa ribuan hektare kebun sawit yang telah matang—beberapa di antaranya berproduksi hingga 20 ton per hektare per tahun—kini terancam dieksekusi, meninggalkan ratusan keluarga dalam ketakutan akan kemiskinan mendadak.

Puncak ketegangan terjadi sekitar tahun 2018, ketika PT SJW diduga mulai menyerobot lahan secara fisik. Informasi dari masyarakat mengungkap bahwa proses ini difasilitasi oleh ninik mamak dari Kecamatan Lunang, tetangga Silaut, yang konon memberikan persetujuan atas lahan inti HGU tanpa melibatkan pemangku adat setempat. “Ninik mamak Lunang ikut campur tangan, menyerahkan lahan ulayat kami kepada perusahaan asing,” keluhkan seorang perwakilan warga dalam sesi diskusi adat yang diamati tim peneliti. Hal ini bertentangan dengan prinsip kearifan lokal Minangkabau, di mana keputusan atas tanah ulayat harus diratifikasi oleh ninik mamak nagari asal—dalam hal ini, Nagari Silaut.

HGU 08 sendiri dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Pesisir Selatan pada 24 Juli 2013, mencakup luas sekitar 1.183 hektare yang sebagian besar tumpang tindih dengan kebun masyarakat. Dokumen tersebut, yang secara hukum memberikan hak eksploitasi tanah untuk usaha perkebunan, kini dianggap cacat karena mengabaikan verifikasi partisipasi masyarakat adat. Sebelum kehadiran PT SJW, warga Silaut telah berkebun di lokasi tersebut selama lebih dari 12 tahun, dengan bukti kepemilikan berupa surat keterangan tanah ulayat dari Kerapatan Adat Nagari (KAN).

Baca juga : Aksi Massa BNUI di Manado: Protes Panjang atas Dugaan Pemalsuan Dokumen Tanah yang Mangsa Profesor Lansia

Hj. Muman, Ketua KAN Nagari Silaut, menjadi salah satu suara paling lantang dalam perjuangan ini. Dalam wawancara eksklusif dengan tim redaksi, ia menegaskan: “HGU ini dikeluarkan tanpa persetujuan ninik mamak Silaut. Kami sudah lama berkebun di sana, malah sebelum PT SJW ada. Ini bukan hanya soal tanah, tapi martabat kami sebagai rakyat Indonesia yang dizalimi.” Pernyataannya mencerminkan frustrasi kolektif: lahan yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan justru menjadi sumber konflik, dengan dampak sosial seperti migrasi paksa dan hilangnya mata pencaharian.

Warga juga menyoroti ketidakadilan sistemik. “Seperti pepatah, tumpul ke bawah tajam ke atas,” kata seorang anggota kelompok petani, menggambarkan bagaimana aparat penegak hukum (APH) tampak lamban merespons laporan mereka. Sejak 2018, berbagai upaya advokasi telah dilakukan, termasuk pengaduan ke LSM seperti LSM-HAS dan Komnas LPKPK, bahkan laporan langsung ke Presiden Prabowo Subianto pada awal 2025. Namun, hingga kini, tidak ada tindak lanjut konkret dari BPN atau Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR/BPN) yang memadai.

Konflik ini menyinggung Pasal 18 Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) Nomor 5 Tahun 1960, yang secara eksplisit mengakui hak ulayat sebagai bagian integral dari sistem tanah nasional. HGU, sebagai hak usaha sementara (maksimal 35 tahun), seharusnya tidak boleh diberikan atas tanah yang telah dikuasai masyarakat adat tanpa proses free, prior, and informed consent (FPIC) sebagaimana diamanatkan Konvensi ILO 169—yang meski belum diratifikasi Indonesia, telah menjadi acuan dalam putusan Mahkamah Konstitusi terkait hak adat.

Peneliti hukum dari Universitas Andalas, termasuk penulis, menemukan bahwa pemberian HGU 08 kemungkinan melanggar prinsip ini karena kurangnya konsultasi dengan KAN Silaut. Dugaan keterlibatan ninik mamak Lunang menambah lapisan kompleksitas, mengingatkan pada kasus-kasus serupa di Sumatra Barat di mana fraksi adat antar-nagari dimanfaatkan untuk kepentingan korporasi. Secara empiris, studi kasus seperti ini menunjukkan bahwa konflik lahan serupa telah menyebabkan penurunan indeks kesejahteraan masyarakat adat hingga 30% dalam lima tahun pertama, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pesisir Selatan.

Lebih jauh, isu ini menggarisbawahi kelemahan regulasi pasca-reformasi agraria. Meski Perpres Nomor 86 Tahun 2018 tentang FPIC telah diterbitkan, implementasinya masih lemah di daerah. Di Silaut, absennya mediasi multipartai—melibatkan perusahaan, adat, dan pemerintah—telah memperpanjang siklus konflik, berpotensi memicu instabilitas sosial yang lebih luas di kawasan perkebunan sawit Sumatra Barat.

Masyarakat Nagari Silaut, didukung ninik mamak dan kelompok advokasi, kini mendesak APH untuk segera membekukan eksekusi HGU 08 dan memulai audit independen. “Kami rakyat Indonesia yang haus keadilan. Jangan biarkan perusahaan merampas hak kami atas nama pembangunan,” tegas Hj. Muman. Tuntutan ini sejalan dengan agenda nasional reformasi agraria di bawah pemerintahan saat ini, yang menjanjikan redistribusi lahan hingga 9 juta hektare.

Sementara itu, PT SJW belum merespons permintaan klarifikasi dari media ini. Namun, dalam konteks yang lebih besar, kasus Silaut menjadi pengingat bahwa pembangunan berkelanjutan tak boleh mengorbankan akar budaya. Hanya melalui dialog inklusif dan penegakan hukum yang adil, konflik seperti ini dapat diselesaikan, memastikan bahwa tanah ulayat tetap menjadi warisan, bukan korban ambisi korporasi.

Pewarta : Sami S

About the Author

Jurnalis RI News Portal

Author

Jurnalis RI News Portal adalah seorang wartawan yang menjunjung tinggi kode etik jurnalis dan profesiinal di bidangnya.

Visit Website View All Posts

Silahkan bagikan ke media anda ...

Post navigation

Previous: Aksi Massa BNUI di Manado: Protes Panjang atas Dugaan Pemalsuan Dokumen Tanah yang Mangsa Profesor Lansia
Next: Italia Kirim Kapal Perang untuk Kawal Flotilla Kemanusiaan Gaza Pasca-Serangan Drone di Laut Yunani

Related Stories

Tumpahan Minyak Solar Bus Sipirok Nauli Picu Kecelakaan Beruntun di Jalan Sisingamangaraja Padangsidimpuan

Tumpahan Minyak Solar Bus Sipirok Nauli Picu Kecelakaan Beruntun di Jalan Sisingamangaraja Padangsidimpuan

Jurnalis RI News Portal Posted on 4 jam ago 0
Haru Pelukan Keluarga Sambut Pulang 206 Jamaah Haji Lampung Barat dengan Doa Mabrur

Haru Pelukan Keluarga Sambut Pulang 206 Jamaah Haji Lampung Barat dengan Doa Mabrur

Jurnalis RI News Portal Posted on 4 jam ago 0
Proses Seleksi Transparan Isi Kekosongan Kepemimpinan Dukuh di Botodayaan

Proses Seleksi Transparan Isi Kekosongan Kepemimpinan Dukuh di Botodayaan

Jurnalis RI News Portal Posted on 4 jam ago 0
Indonesia Bisa
C.I.A Official
#Advestaiment RI_News
#Iklan RI_News
#Iklan RI_News
Berita Video
Ucapan
Ucapan
Ucapan

Komentar

  1. Wisnu mengenai Mengawal Libur Sekolah: Bandung Kerahkan 350 Petugas Gabungan Cegah Lonjakan Kejahatan Remaja
  2. Sultan Liwa mengenai Kemenko Polkam Perkuat Sinergi Lintas Lembaga Hadapi Ancaman Geopolitik Multipolar
  3. Sammy Sandinata mengenai Delapan Pejuang Papua Kembali ke Pangkuan NKRI: Bendera Merah Putih Dikecup, Senjata Diserahkan di Pegunungan Bintang
  4. Sugeng Rudianto mengenai Menelusuri Jejak Pangeran Sambernyawa: Wonogiri Historical Trip Kobarkan Semangat Sejarah Generasi Muda
  5. Wisnu mengenai Ning Nuri: Srikandi PKB Ngawi yang Siap Merajut Kekuatan untuk Pemilu 2029

Berita Video

 

Berita video mengungkap fakta dengan visual live dan streaming.

Cara Instal Aplikasi RI News Portal di HP kalian ; Download file Zip apk RI News Portal, simpan dan ekstrak file Zip. Kemudian instal ..... enjoy RI News Portal sudah di HP Kalian.

Aplikasi RI News PortalUnduh
Aplikasi RI News PortalUnduh

RI NEWS-Media Portal Berita Republik Indonesia-Menyajikan informasi peristiwa yang teraktual dan terpercaya-Virnanda Creator Production adalah media pemberitaan yang berdedikasi tinggi untuk menyampaikan informasi berkualitas kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menjadi sumber informasi dunia yang akurat, cepat, dan terpercaya. Kami percaya bahwa informasi yang baik dapat mencerdaskan umat manusia dan menjaga kedamaian dunia. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan dunia yang terbebas dari pertikaian dan permusuhan.

Pos-pos Terbaru

  • Taktis di MetLife: Brasil Terpaksa Berbagi Poin dengan Maroko yang Tangguh
  • KUHP Baru, Senjata Hukum Baru untuk Bongkar Akar Mafia Tanah
  • Hakim Federal Blokir Upaya “Penghapusan Sejarah” Trump di Taman Nasional AS
  • Serangan Drone Ukraina ke Rusia: Eskalasi Jarak Jauh yang Mengancam Infrastruktur Energi dan Stabilitas Regional
  • Dibalik Gencatan Senjata: Israel Percepat Kemajuan di Selatan Lebanon Menjelang Kesepakatan AS-Iran
Copyright © RI News Production | Editor IT by Setiawan Wibisono S.Th | PT. Virnanda Creator Productions .