RI News. Semarang, 20 April 2026 – Sebuah inisiatif kreatif yang memadukan dunia seni rupa dengan upaya kemanusiaan kembali menunjukkan kekuatannya. Ari Hodara, seorang insinyur penjualan berusia 58 tahun asal Paris, secara tak terduga menjadi pemilik lukisan asli karya Pablo Picasso yang bernilai lebih dari 1 juta euro. Ia hanya mengeluarkan 100 euro untuk satu tiket undian amal.
Lukisan berjudul Tête de femme (Kepala Wanita), sebuah gouache berwarna abu-abu tua dan biru yang dilukis Picasso pada 1941, menggambarkan potret salah satu muse terkenal sang maestro, Dora Maar. Karya ini berasal dari koleksi Opera Gallery dan ditawarkan dengan harga preferensial untuk mendukung tujuan amal.
Undian yang diselenggarakan di rumah lelang Christie’s ini berhasil menjual 120.000 tiket dari berbagai negara. Total dana yang terkumpul mencapai sekitar 12 juta euro. Dari jumlah tersebut, 1 juta euro diserahkan kepada galeri seni sebagai nilai lukisan, sementara sisanya akan disalurkan sepenuhnya ke Fondation Recherche Alzheimer (Yayasan Penelitian Alzheimer) yang berbasis di Rumah Sakit Pitié-Salpêtrière, Paris.

Bagi Hodara, momen tersebut terasa seperti mimpi. “Saya sempat bertanya apakah ini bukan lelucon,” ujarnya saat menerima telepon dari panitia. Pecinta seni yang mengagumi Picasso ini mengaku membeli tiket secara spontan saat sedang makan malam di akhir pekan. Rencananya, ia akan menyimpan lukisan tersebut untuk dinikmati terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan opsi peminjaman ke museum agar masyarakat luas juga dapat menikmatinya.
Inisiatif “1 Picasso untuk 100 Euro” ini merupakan edisi ketiga yang digagas oleh jurnalis Prancis Peri Cochin, dengan dukungan keluarga Picasso. Dua undian sebelumnya (pada 2013 dan 2020) telah berhasil mengumpulkan lebih dari 10 juta euro yang digunakan untuk proyek budaya di Lebanon serta program air bersih dan sanitasi di Afrika.
Olivier de Ladoucette, Direktur Fondation Recherche Alzheimer, menekankan urgensi isu ini. “Pendanaan penelitian Alzheimer masih sangat minim dibandingkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Di tengah masyarakat modern yang semakin tua, penyakit ini menjadi ancaman besar yang membutuhkan keterlibatan semua pihak,” katanya.
Baca juga : Kontroversi Kepolisian di Tengah Tragedi Kyiv: Pelarian Dua Petugas Soroti Celah Respons Darurat di Ukraina
Sejak didirikan pada 2004, yayasan ini telah menjadi salah satu penyandang dana swasta terbesar di Prancis untuk penelitian medis Alzheimer. Penyakit neurodegeneratif ini tidak hanya memengaruhi ingatan, tetapi juga kualitas hidup jutaan keluarga di seluruh dunia.
Pendekatan undian ini menawarkan perspektif baru dalam filantropi. Alih-alih sekadar mengandalkan donasi konvensional, inisiatif ini memanfaatkan daya tarik seni kelas dunia untuk menarik partisipasi publik yang luas. Dengan harga tiket yang terjangkau, ribuan orang dari 52 negara ikut berkontribusi, sekaligus meningkatkan kesadaran global tentang Alzheimer.
Para ahli filantropi dan budaya melihat model seperti ini sebagai “jembatan inovatif” antara dunia seni elit dan isu kesehatan masyarakat. Lukisan Picasso bukan hanya objek bernilai ekonomi, melainkan juga simbol harapan bahwa suatu hari nanti penyakit Alzheimer dapat diatasi sepenuhnya.

Hodara sendiri berencana menikmati karya tersebut sebagai kolektor pribadi terlebih dahulu. Sementara itu, yayasan terus bekerja agar dana yang terkumpul dapat mendorong penelitian yang lebih maju, mulai dari terapi dini hingga pemahaman molekuler penyakit.
Inisiatif ini mengingatkan kita bahwa seni tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga dapat menjadi katalisator perubahan nyata bagi masa depan kesehatan umat manusia.
Pewarta : Anjar Bramantyo

