RI News. Semarang, 14 April 2026 — Lima abad setelah pelayaran pertamanya mengubah peta dunia, misteri asal-usul Christopher Columbus kembali memasuki babak baru yang paling ilmiah sejauh ini. Sebuah penelitian genetika terbaru memberikan bukti DNA pertama yang kuat, menunjukkan bahwa sang penjelajah Amerika kemungkinan besar berasal dari kalangan bangsawan Galisia di utara Spanyol, bukan dari Genoa seperti yang selama ini diyakini mayoritas sejarawan.
Penelitian ini berfokus pada analisis DNA dari keturunan langsung Columbus yang dimakamkan di sebuah ruang bawah tanah keluarga di Gelves, dekat Seville. Tim peneliti dari laboratorium Citogen dan Universitas Complutense Madrid berhasil mengurutkan ribuan penanda genetik dari sisa-sisa tulang berusia ratusan tahun menggunakan teknologi massively parallel sequencing — metode canggih yang jarang diterapkan pada sampel purba.
Hasil yang mengejutkan muncul ketika para peneliti menemukan kesamaan genetik yang tidak terjelaskan antara dua individu dalam makam tersebut. Satu adalah cicit buyut Columbus, sementara yang lain adalah seorang countess abad ke-17 yang masuk keluarga melalui pernikahan dan memiliki garis keturunan Galisia. Dokumen sejarah tidak mencatat hubungan darah di antara mereka, namun DNA mereka berbicara lain.

Dengan memanfaatkan model komputasi silsilah hingga 16 generasi dan teknik inovatif bernama Virtual Knock-out, tim peneliti menemukan satu nama yang menjadi “jembatan genetik” wajib: Pedro Álvarez de Sotomayor, lebih dikenal sebagai Pedro Madruga. Ketika nama bangsawan Galisia yang tangguh ini dihapus secara virtual dari pohon keluarga, hubungan genetik tersebut langsung hilang — sebuah hasil yang tidak terulang pada ratusan leluhur lain yang diuji.
Pedro Madruga adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di Galisia abad ke-15. Ia menguasai wilayah luas dari Kastil Sotomayor, terlibat dalam perang saudara Kastilia, bersekutu dengan Portugal, dan sempat bersitegang dengan Raja dan Ratu Katolik (Isabella dan Ferdinand). Menariknya, namanya menghilang dari catatan sejarah sekitar tahun 1486 — tepat di tahun yang sama ketika seorang pria bernama Christopher Columbus pertama kali muncul di hadapan istana Spanyol.
Peneliti menekankan bahwa bukti ini bersifat tidak langsung karena diambil dari keturunan, bukan dari jenazah Columbus sendiri. Meski demikian, temuan ini menjadi dukungan genomik pertama yang selaras dengan berbagai petunjuk lama: gaya bahasa Galisia-Portugis dalam tulisan Columbus, kemiripan lambang keluarga yang diberikan kepadanya, serta perlakuan istimewa di istana yang seolah-olah ditujukan kepada seseorang yang sudah dikenal.
Baca juga : Penemuan Artefak Kapal Romawi Berusia 2.000 Tahun Muncul Kembali di Dasar Danau Neuchâtel, Swiss
“Temuan ini membuka peluang untuk meninjau kembali identitas historis Columbus dengan cara yang lebih ilmiah,” ujar salah satu anggota tim yang terlibat dalam analisis forensik. Namun, mereka juga menegaskan perlunya verifikasi independen, publikasi data mentah secara terbuka, serta perbandingan dengan basis data populasi sejarah agar kesimpulan ini semakin kuat.
Debat asal-usul Columbus memang telah berlangsung lama. Versi Genoa masih menjadi pendapat dominan karena pernyataan Columbus sendiri dalam surat wasiatnya. Sementara itu, hipotesis asal Spanyol — termasuk yang menyatakan ia adalah Pedro Madruga atau putranya — terus hidup berkat akumulasi bukti linguistik, heraldik, dan kronologis yang sulit diabaikan.

Penelitian ini hadir di tengah gelombang studi DNA historis yang semakin maju. Di sisi lain, tim peneliti dari Universitas Granada juga terus mengkaji sisa-sisa yang diyakini sebagai jenazah Columbus di Katedral Seville, dengan hipotesis berbeda yang menyinggung akar Mediterania Sephardic.
Hingga kini, pertanyaan “Siapa sebenarnya Columbus?” tetap menjadi salah satu misteri terbesar dalam sejarah manusia. Dengan semakin canggihnya alat genetika, jawaban yang selama ini hanya bergantung pada dokumen kertas kini mulai mendapat dukungan dari “arsip” yang tersimpan dalam DNA itu sendiri.
Apakah ini akhir dari perdebatan, atau justru awal dari babak baru yang lebih menarik? Para ahli sepakat: masih diperlukan penelitian lanjutan dan replikasi oleh laboratorium lain sebelum sejarah resmi ditulis ulang.
Pewarta : Vie

