RI News Portal. Jakarta 7 Januari 2026 – Pada awal Januari 2026, operasi militer Amerika Serikat yang berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah mengguncang tatanan politik di Amerika Latin dan memicu perdebatan luas mengenai norma hukum internasional serta dinamika kekuasaan global. Operasi ini, yang melibatkan pasukan khusus dan dukungan udara intensif, tidak hanya mengakhiri kekuasaan Maduro yang telah berlangsung lebih dari satu dekade, tetapi juga membuka babak baru dalam kebijakan luar negeri AS yang lebih asertif di belahan bumi barat.
Dari perspektif geopolitik, tindakan ini dapat dilihat sebagai manifestasi dari doktrin Monroe yang direvitalisasi, di mana AS menegaskan dominasinya atas wilayah Amerika Latin untuk melindungi kepentingan nasionalnya. Meskipun dibenarkan sebagai upaya penegakan hukum terhadap tuduhan narco-terorisme yang telah lama diajukan terhadap Maduro, motivasi ekonomi—khususnya akses terhadap cadangan minyak Venezuela yang terbesar di dunia—tampak menjadi faktor utama. Pengumuman bahwa pemerintah sementara Venezuela akan menyerahkan 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS, dengan nilai potensial mencapai miliaran dolar, menunjukkan bahwa intervensi ini tidak sekadar operasi hukum, melainkan strategi untuk mengamankan sumber daya energi di tengah ketegangan global pasokan minyak.

Dampak ekonomi dari kejadian ini berpotensi signifikan, meskipun penuh tantangan. Venezuela, yang pernah menjadi produsen minyak utama, kini hanya menghasilkan sekitar satu juta barel per hari akibat sanksi, korupsi, dan kurangnya investasi. Rencana AS untuk melibatkan perusahaan minyak besar dalam rehabilitasi infrastruktur bisa meningkatkan produksi, menstabilkan harga minyak global, dan mengurangi ketergantungan AS pada impor dari wilayah lain. Namun, analis energi memperkirakan bahwa pemulihan penuh memerlukan investasi puluhan miliar dolar dan waktu bertahun-tahun, ditambah risiko instabilitas politik internal di Venezuela, di mana pemerintahan sementara Delcy Rodríguez masih menghadapi resistensi dari loyalis Maduro.
Baca juga : Transformasi Olahraga Nasional: Industri dan Pariwisata Olahraga sebagai Motor Ekonomi Baru
Secara lebih luas, intervensi ini telah memicu kekhawatiran tentang preseden ekspansionisme AS. Pernyataan yang menyiratkan kemungkinan tindakan serupa terhadap negara lain di kawasan, serta isu kedaulatan wilayah seperti Greenland, menandakan pergeseran menuju kebijakan luar negeri yang lebih unilateral. Hal ini berpotensi merusak hubungan dengan sekutu NATO dan mitra di Amerika Latin, serta mendorong polarisasi global di mana aktor seperti China dan Rusia mungkin meningkatkan pengaruhnya di wilayah tersebut.

Dalam konteks akademis, peristiwa ini mengundang refleksi mendalam tentang keseimbangan antara kepentingan keamanan nasional dan prinsip non-intervensi dalam hukum internasional. Sementara pendukung melihatnya sebagai langkah tegas melawan rezim otoriter yang terkait dengan kejahatan transnasional, kritikus menyoroti risiko eskalasi konflik regional dan erosi norma multilateral. Pada akhirnya, evolusi situasi di Venezuela akan menjadi ujian bagi stabilitas hemispheric dan arah kebijakan luar negeri AS di era pasca-Maduro.
Pewarta : Setiawan Wibisono

