RI News Portal. Jakarta – Kementerian Pariwisata Republik Indonesia tengah menunjukkan minat serius untuk mendalami praktik pengelolaan taman nasional dan pengembangan pariwisata berkelanjutan yang telah lama diterapkan di Afrika Selatan. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola destinasi alam di Tanah Air, dengan menjadikan pengalaman negara Afrika tersebut sebagai rujukan utama.
Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Martini M. Paham, menekankan bahwa Afrika Selatan memiliki pendekatan yang patut diapresiasi dalam menjaga kelestarian alam sekaligus membangun kesadaran kolektif. Ia menyebut Taman Nasional Kruger sebagai salah satu contoh nyata di mana pengelola menunjukkan komitmen tinggi terhadap keberlanjutan.
Menurut Martini, salah satu kekuatan utama terletak pada upaya edukasi yang konsisten dan mendalam. Pengunjung tidak hanya diberi informasi dasar, melainkan penjelasan rinci mengenai aturan yang harus dipatuhi selama berada di kawasan taman nasional. Pendekatan ini bertumpu pada keyakinan bahwa keberhasilan pelestarian alam pada akhirnya bergantung pada perilaku manusia.

“Jika tidak disiapkan dengan baik, maka edukasi menjadi kunci utama,” ujar Martini saat ditemui di Jakarta, Kamis lalu. Ia menambahkan bahwa kebijakan seperti pungutan masuk yang cukup tinggi bukan sekadar instrumen pendapatan, melainkan mekanisme penyaringan untuk menarik wisatawan berkualitas yang lebih menghargai nilai konservasi.
Regulasi di Afrika Selatan juga tidak terbatas pada pengunjung. Pengelolaan mencakup aspek lingkungan secara menyeluruh, termasuk perlindungan ekosistem sekitar. Hal ini mencerminkan filosofi bahwa alam harus mampu bertahan secara mandiri tanpa intervensi berlebih dari manusia.
Dalam pertemuan bilateral yang sama, Menteri Pariwisata Afrika Selatan Patricia de Lille tercatat terkejut mengetahui praktik pengeboran air tanah yang masih diperbolehkan di Indonesia. Respons tersebut menggarisbawahi perbedaan prinsip dasar: di Afrika Selatan, masyarakat dilatih untuk mandiri dalam memanfaatkan sumber daya alam secara bijak, dengan peran pemerintah yang aktif dan konsisten diimplementasikan hingga tingkat akar rumput.
Baca juga : Sapa UMKM: Sistem Super Digital Terintegrasi Siap Menata Ulang Ekosistem 57 Juta Pelaku Usaha Indonesia
Selain aspek tata kelola taman nasional, Indonesia juga berniat mempelajari strategi digitalisasi pariwisata yang telah diadopsi cepat oleh Afrika Selatan. Meski Indonesia telah menerapkan berbagai inovasi digital—termasuk di pintu gerbang bandara dan platform pendukung perjalanan—Martini menilai masih ada ruang untuk belajar dari kecepatan adaptasi negara tersebut.
Di sisi lain, hubungan bilateral ini bersifat timbal balik. Pemerintah Afrika Selatan menyatakan ketertarikan untuk mempelajari pengalaman Indonesia dalam pengelolaan pelayanan pariwisata, pembangunan destinasi wisata halal, serta penyelenggaraan sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
Kolaborasi ini diharapkan membuka jalan bagi pertukaran pengetahuan yang lebih mendalam, khususnya dalam mengintegrasikan konservasi alam dengan pertumbuhan ekonomi pariwisata yang inklusif dan bertanggung jawab. Langkah tersebut sejalan dengan visi global untuk mewujudkan pariwisata yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologi jangka panjang.
Pewarta : Diki Eri

