Skip to content
19/01/2026
  • Facebook
  • Youtube
  • Instagram
RI NEWS

RI NEWS

PORTAL BERITA INDONESIA

baner iklan
Primary Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
    • IstanaBerita seputar Istana
    • PemerintahanBerita seputar Pemerintahan
    • Politik
    • Parlemen
  • Buser Berita
    • TNI/PolriBerita seputar TNI dan Polri
    • KPKBerita seputar KPK
    • Hukum/PolitikBerita seputar Hukum
  • Regional
    • AcehBerita Seputar Aceh
    • DKI JakartaBerita seputar DKI Jakarta
    • Jawa BaratBerita seputar Jawa Barat
    • Jawa TengahBerita seputar Jawa Tangah
    • Jawa TimurBerita seputar Jawa Timur
    • YogyakartaBerita seputar Yogyakarta
    • BaliBerita Seputar Bali
    • BantenBerita seputar Sumatera
    • Nusa TenggaraBerita seputar Nusa Tenggara
    • SumateraBerita seputar Sumatera
    • KalimantanBerita seputar Kalimantan
    • PapuaBerita seputar Papua
    • SulawesiBerita seputar Sulawesi
    • MalukuBerita seputar Maluku
  • Olah Raga
  • Budaya
  • Hiburan
  • Redaksi
  • Privacy Policy
Live
  • Home
  • World
  • Gencatan Senjata TNLA-Militer Myanmar: Tekanan Tiongkok dan Kalkulasi Strategis Jelang Pemilu Junta

Gencatan Senjata TNLA-Militer Myanmar: Tekanan Tiongkok dan Kalkulasi Strategis Jelang Pemilu Junta

Jurnalis RI News Portal Posted on 3 bulan ago 3 min read
Tekanan Tiongkok dan Kalkulasi Strategis Jelang Pemilu Junta
Silahkan bagikan ke media anda ...

RI News Portal. Kunming, Tiongkok – Di tengah eskalasi konflik bersenjata yang telah melanda Myanmar sejak kudeta militer 2021, kelompok pemberontak Ta’ang National Liberation Army (TNLA) baru saja mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan pasukan junta. Perundingan damai yang berlangsung selama dua hari di wilayah selatan Tiongkok ini menandai intervensi langsung Beijing untuk meredam ketegangan di perbatasan, sambil membuka ruang bagi pemilu kontroversial yang dijadwalkan akhir tahun ini.

Kesepakatan tersebut, yang diumumkan pada akhir Oktober 2025, mengharuskan TNLA menarik pasukannya dari dua kota strategis di wilayah Shan utara: Mogok dan Mongmit. Sebagai gantinya, militer Myanmar berjanji menghentikan serangan udara intensif yang telah menjadi rutinitas harian terhadap posisi TNLA. Langkah ini datang setelah tekanan berkelanjutan dari pemerintah Tiongkok, yang khawatir akan dampak ketidakstabilan terhadap kepentingan ekonominya di kawasan tersebut.

Latar belakang kesepakatan ini tidak lepas dari dinamika Operasi 1027, inisiatif gabungan kelompok etnis bersenjata yang dimulai pada akhir 2023. Dalam fase kedua operasi tersebut pada Juli tahun lalu, TNLA berhasil merebut Mogok—pusat pertambangan permata terkenal—dan Mongmit, sehingga menguasai sebagian besar Shan utara. Wilayah ini bukan hanya basis kekuatan etnis Ta’ang, tetapi juga koridor vital perdagangan darat antara Myanmar dan Tiongkok, yang menyumbang miliaran dolar dalam ekspor barang seperti mineral langka dan kayu.

Keberhasilan operasi ini telah menggeser keseimbangan kekuatan, membawa kelompok perlawanan semakin dekat ke wilayah Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar yang juga menjadi markas Akademi Pertahanan Nasional. Ancaman ini memicu alarm di Beijing, yang melihat potensi kekacauan sebagai risiko bagi stabilitas regional. Dari perspektif geopolitik, Tiongkok telah lama berperan sebagai penyeimbang di Myanmar, mendukung junta untuk menjaga investasi infrastrukturnya seperti pipa minyak dan proyek Belt and Road Initiative, sambil menghindari runtuhnya pemerintahan yang bisa memicu gelombang pengungsi atau konflik lintas batas.

Untuk memaksakan negosiasi, Tiongkok menerapkan langkah-langkah ekonomi yang tegas. Perbatasan antara provinsi Yunnan dan wilayah di bawah kendali TNLA ditutup, memutus alur perdagangan krusial. Selain itu, pasokan internet, bahan bakar, dan listrik ke daerah tersebut dipangkas, memperlemah logistik pemberontak dan memaksa mereka ke meja perundingan. Pendekatan ini mencerminkan strategi “soft power” dengan elemen koersif, di mana Beijing memanfaatkan ketergantungan ekonomi untuk mengelola konflik tanpa intervensi militer langsung—sebuah pola yang mirip dengan intervensi Tiongkok di konflik etnis lain di Asia Tenggara.

Gencatan senjata ini muncul tepat menjelang pemilu yang digelar junta dalam dua tahap: 28 Desember 2025 dan 11 Januari 2026. Pemilu ini, yang diklaim sebagai langkah menuju demokrasi oleh militer, justru dikritik sebagai upaya legitimasi kekuasaan di tengah boikot luas dari kelompok oposisi dan masyarakat sipil. Dengan penarikan TNLA dari Mogok dan Mongmit, junta memperoleh ruang untuk melaksanakan pemungutan suara di wilayah yang sebelumnya rawan konflik, potensial meningkatkan partisipasi dan mengurangi gangguan dari kelompok perlawanan.

Baca juga : ASEAN Jelajahi Potensi Energi Nuklir dalam Transisi Menuju Energi Bersih

Namun, para analis konflik menilai kesepakatan ini lebih bersifat taktis daripada permanen. “Ini bukan akhir dari perlawanan, melainkan jeda strategis,” kata seorang pakar urusan Asia Tenggara dari lembaga riset independen di Singapura, yang meminta identitasnya dirahasiakan. Menurutnya, TNLA mungkin menggunakan waktu ini untuk mengonsolidasikan kekuatan di wilayah inti Shan utara, sementara junta memanfaatkannya untuk memperkuat posisi politiknya. Dalam konteks teori resolusi konflik, gencatan senjata semacam ini sering kali menjadi alat manajemen krisis jangka pendek, di mana pihak-pihak terlibat saling menguji komitmen lawan sambil mempersiapkan eskalasi potensial.

Implikasi lebih luas dari kesepakatan ini meluas ke stabilitas regional. Bagi Tiongkok, ini memperkuat peranannya sebagai mediator utama di Myanmar, mengimbangi pengaruh Barat yang mendukung kelompok pro-demokrasi. Sementara itu, bagi masyarakat Myanmar, gencatan senjata menawarkan jeda dari kekerasan, meski tidak menyelesaikan akar masalah seperti otonomi etnis dan restorasi demokrasi. Di tengah ketidakpastian, pengamat internasional menyerukan pengawasan ketat terhadap implementasi kesepakatan, untuk mencegah pelanggaran yang bisa memicu babak baru konflik.

Kesepakatan ini, meski rapuh, menyoroti kompleksitas konflik Myanmar: perpaduan antara aspirasi etnis, kepentingan geopolitik, dan tekanan ekonomi. Saat pemilu mendekat, dunia akan menyaksikan apakah jeda ini membuka jalan bagi perdamaian berkelanjutan atau hanya menunda ledakan berikutnya.

Pewarta : Setiawan Wibisono

About the Author

Jurnalis RI News Portal

Author

Jurnalis RI News Portal adalah seorang wartawan yang menjunjung tinggi kode etik jurnalis dan profesiinal di bidangnya.

Visit Website View All Posts

Silahkan bagikan ke media anda ...

Post navigation

Previous: ASEAN Jelajahi Potensi Energi Nuklir dalam Transisi Menuju Energi Bersih
Next: Program Magang Nasional 2025: Kesempatan Emas bagi Lulusan Baru dengan Upah Setara UMK

Related Stories

Eskalasi Ketegangan Politik di Era Pemerintahan Trump
3 min read

Bentrokan Protes Imigrasi di Minneapolis: Eskalasi Ketegangan Politik di Era Pemerintahan Trump

Jurnalis RI News Portal Posted on 1 hari ago 0
Pidato Khamenei dan Respons Trump Menyoroti Krisis Kepemimpinan dan Kedaulatan
3 min read

Ketegangan Iran-AS: Pidato Khamenei dan Respons Trump Menyoroti Krisis Kepemimpinan dan Kedaulatan

Jurnalis RI News Portal Posted on 1 hari ago 0
Upaya Diplomasi Ukraina di Washington Berlangsung di Tengah Eskalasi Serangan Energi Rusia
3 min read

Upaya Diplomasi Ukraina di Washington Berlangsung di Tengah Eskalasi Serangan Energi Rusia

Jurnalis RI News Portal Posted on 1 hari ago 0
#Advestaiment RI_News
#Iklan RI_News
#Iklan RI_News
Berita Video

Komentar

  1. Sami.s mengenai Kota Kediri Naik Kelas: Predikat “Sangat Inovatif” dalam Innovative Government Award 2025
  2. Sami.s mengenai Dugaan Penyalahgunaan Solar Bersubsidi di Pesisir Selatan: Antara Keluhan Masyarakat dan Kebijakan Pembatasan Provinsi
  3. Adi tanjoeng mengenai Petugas Karantina Ketapang Gagalkan Penyelundupan 120 Kg Hiu Dilindungi CITES di Banyuwangi
  4. Sugeng Rudianto mengenai Polres Wonogiri Perkuat Pencegahan Bullying melalui Pendekatan Edukasi Dini di Sekolah Dasar
  5. Sami.s mengenai Iran dan Rusia Sepakat Perluas Model Kerja Sama Pertanian ke Sektor Strategis Lainnya

Berita Video

Berita video mengungkap fakta dengan visual live dan streaming.

Cara Instal Aplikasi RI News Portal di HP kalian ; Download file Zip apk RI News Portal, simpan dan ekstrak file Zip. Kemudian instal ..... enjoy RI News Portal sudah di HP Kalian.

Aplikasi RI News PortalUnduh
Aplikasi RI News PortalUnduh

RI NEWS-Media Portal Berita Republik Indonesia-Menyajikan informasi peristiwa yang teraktual dan terpercaya-Virnanda Creator Production adalah media pemberitaan yang berdedikasi tinggi untuk menyampaikan informasi berkualitas kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menjadi sumber informasi dunia yang akurat, cepat, dan terpercaya. Kami percaya bahwa informasi yang baik dapat mencerdaskan umat manusia dan menjaga kedamaian dunia. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan dunia yang terbebas dari pertikaian dan permusuhan.

Pos-pos Terbaru

  • Mangkrak di Perbatasan: Proyek WC Rp199 Juta untuk Sekolah Sambas Belum Rampung, Siswa dan Guru Terlantar
  • Dugaan Ketidaktransparanan Pengelolaan Dana Desa di Desa Labuhan Labo, Padangsidimpuan Tenggara
  • Paguyuban Prawan’80 Surabaya Kunjungi Kampung Coklat Blitar untuk Promosi Wisata dan Produk Lokal
  • Awal Tahun 2026: Lonjakan Produksi Industri Manufaktur Tunjukkan Ketahanan Ekonomi Nasional
  • Prabowo dan Jokowi Bersama Sahkan Ijab Kabul: Momen Hangat di Pernikahan Orang Kepercayaan
Copyright © RI News Production | PT. Virnanda Creator Productions | Editor IT. Setiawan Wibisono.